KOBENG

KOBENG
Sewidak Nem


__ADS_3

"Mbah Modo dan Mak Nah sebenarnya ingin menjagamu. Mereka tidak bermaksud memaksamu untuk tinggal di desa ini. Mereka hanya butuh kamu untuk menjaga bayi Bajang yang ada dalam kandungan. Tapi kamu bod*h dan ceroboh! Kamu malah minum kopi sajen milik desa Ebuh," ujar Japra dengan bola matanya yang bulat dan melotot.


"Aku tidak memintanya, Ceking yang memberiku kopi itu," bantah Purbo.


"Ya dan kamu pikir Ceking merupakan warga yang peduli padamu? Berpikir komplotan Jasman ingin menolongmu? Nyatanya mereka lah yang berniat membuatmu menjadi warga desa sini," Japra tersenyum sinis.


"Sekarang kamu ikut dengan kami!" Japra memerintahkan warga yang berdiri di belakangnya untuk menangkap Purbo.


"Sek tunggu sebentar kroco kroco tak tahu unggah ungguh!" Mbah Kusworo membentak tiba tiba. Beberapa warga beringsut mundur.


"Ada apa Mbah? Kami tidak ada urusan dengan Njenengan! Kita nggak perlu saling senggol. Laki laki ini sekarang milik kami!" Japra melotot tak gentar.


"Dia ini keturunanku. Membawanya, dan menghukumnya, itu berarti mencoreng mukaku!" jawab Mbah Kusworo sembari mengangkat potongan kepalanya dan meletakkan di leher, pada tempat yang seharusnya.


"Mbah, Njenengan jangan membela yang salah. Di setiap tempat memiliki aturannya masing masing. Saat Njenengan menginjak tanah desa Ebuh, artinya Njenengan harus patuh dengan aturan desa," sahut Japra.


"Tak usah mengajariku kroco! Aku tahu soal aturan. Kamu pikir berapa usiaku? Asal kamu tahu saja, aku akan melanggar aturan apapun untuk keluargaku!" ancam Mbah Kusworo.


"Kalau begitu, seluruh penghuni desa ini adalah musuh Njenengan Mbah. Jangan harap kalian semua bisa keluar dari sini dengan selamat!" Japra tak gentar, mengedarkan pandangannya yang tajam pada tiga orang yang ada di depannya itu.


"Ha ha ha, kamu pikir satu desamu itu bisa mengalahkan aku? Majulah, akan kulumat kalian sekaligus!" Mbah Kusworo tertawa terbahak bahak.


Seketika udara malam berubah hangat. Kabut yang sebelumnya masih berpendar di sekeliling kini hilang sudah. Bulan terlihat bulat sempurna, berwarna lebih merah dari biasanya.

__ADS_1


Warga desa Ebuh nampak mundur menjauh. Japra yang semula terlihat garang dan sangar kini tanpa sadar juga bergerak menjauh. Japra akhirnya menyadari sosok yang ada di hadapannya bukan lawan yang mampu dia hadapi.


"Kenapa mundur? Kakehan gludug ra ono udan. Ojo kakehan cangkeman, buktikan dengan tindakan. Maju kemarilah! Dan lihat siapa yang akan terbakar!" Mbah Kusworo melotot dengan mata yang nampak merah menyala.


"Gimana ini?" bisik beberapa warga di belakang Japra. Wajah wajah yang semula terlihat menakutkan kini berbalik. Di bawah sinar kemerahan obor, raut muka pucat dan ketakutan tergambar dengan jelas.


"Jika Njenengan sekuat ini seharusnya tahu dan mengerti kalau aturan dari sebuah wilayah harus dipatuhi. Apa Njenengan mau merusak tatanan yang sudah ada?" protes Japra dengan suaranya yang bergetar.


"Aku hanya mau anak keturunanku tidak diganggu. Aku tidak akan nyenggol kalau bukan kalian yang mulai lebih dulu!" Mbah Kusworo menunjuk nunjuk wajah ketakutan di depannya.


"Tolong hentikan!" sebuah suara terdengar dari arah desa.


Udara malam kembali terasa beku. Gumpalan gumpalan kabut kembali berpendar di udara. Sang kepala desa telah sampai di tempat prahara terjadi. Langkah kaki yang diiringi suara tongkat kayu yang menghentak tanah terdengar bergema di tengah kegelapan malam.


"Perkenalkan, saya kepala desa Ebuh. Nama saya Modo," ujar Mbah Modo menatap tajam Mbah Kusworo. Mereka berhadapan hadapan dengan jarak tak lebih dari 5 meter. Sedangkan Purbo bersembunyi di belakang Mbah Yon yang nampak tersenyum santai.


"Oohhh, ratu ne akhirnya muncul," Mbah Kusworo tersenyum mengejek.


"Maafkan warga saya yang mungkin kurang sopan pada Njenengan," ucap Mbah Modo kalem.


"Mbah nuwun sewu, wong wong asing ini yang memulai lebih dahulu. Kita harus menegakkan aturan yang sudah ada sejak dulu. Jangan biarkan mereka menginjak injak harga diri desa Ebuh," ucap Japra berapi api.


"Diam kamu!" bentak Mbah Modo. Japra langsung terdiam dan mundur dari hadapan sang kepala desa.

__ADS_1


"Aku kesini hanya untuk menjemput keturunanku yang nyasar, kobeng. Tidak ada yang perlu diperdebatkan, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Biarkan kubawa cucu cicitku ini, dan anggap saja aku tidak pernah datang kesini," Mbah Kusworo kembali bersuara.


"Saya yakin Njenengan sudah tahu jika keturunan Njenengan sendiri lah yang ingin lupa tentang siapa dirinya. Kami hanya memberinya tempat, ngopeni dan merawatnya untuk meraih kebahagiaan yang mungkin memang dia harapkan," jawab Mbah Modo.


"Begitulah manusia dengan usia yang belum matang. Pikirannya labil, mudah dipengaruhi. Mungkin juga salah satu warga desamu yang mencoba mempengaruhinya. Tapi yang terpenting saat ini, bocah ingusan ini ingin pulang pada ibuknya. Ibuknya yang sudah renta menunggu kedatangannya," Mbah Kusworo melirik Purbo di sebelahnya.


"Kami pun tak masalah kalau Nak Purbo memilih untuk pulang. Namun sayangnya, dia sudah meminum kopi sajen desa ini. Sesuai aturan yang sudah ada sejak dulu, Nak Purbo saat ini menjadi warga desa Ebuh. Menjadi bagian dari kami," Mbah Modo mulai memberi penekanan pada kalimatnya.


"Itu karena aku nggak ngerti Mbah. Ceking, warga Njenengan yang memaksaku," sela Purbo.


"Benarkah kamu dipaksa Nak? Apa bukan karena rasa penasaranmu saja yang berlebihan?" tanya Mbah Modo melotot ke arah Purbo.


Purbo menelan ludah. Pertanyaan dari kepala desa Ebuh membuatnya tak berkutik.


"Sekali lagi kukatakan, aku hanya ingin membawa cicitku ini pulang. Kalau mau menghalangi tujuanku, kupikir engkau sebagai pemimpin desa, sudah pasti lebih berilmu bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya!" Mbah Kusworo mengepalkan kedua tangannya. Dan udara malam secara ajaib berubah hangat kembali, malah cenderung panas.


"Setiap tempat memiliki aturannya. Desa mawa cara negara mawa tata. Dan setiap aturan harus ditegakkan," Mbah Modo menghentakkan tongkat kayu nya ke tanah.


"Sopo siro sopo ingsun. Ra usah ngajari aku tentang aturan. Bangsa kita selalu bisa membelokkan aturan dengan muslihat. Dandhang diunekake kunt*l, k*ntul diunekake dandhang. Perkara buruk dikatakan baik dan yang baik dikata buruk," Mbah Kusworo membentak. Suaranya keras menggelegar.


Serta merta angin bertiup kencang, membawa udara panas dan dingin bergantian. Daun daun dari pohon akasia beterbangan. Bahkan suara gemeretak dari dahan yang saling beradu berbunyi nyaring. Suara kepakan sayap burung gagak yang terbang berpindah tempat juga ikut menggema di udara.


Japra dan warga desa terlihat panik. Wajah wajah pucat itu semakin terlihat menakutkan. Obor yang sedari tadi mereka genggam dan bawa telah padam ditiup sang bayu. Sementara Purbo berpegang erat di pundak Mbah Yon yang masih nampak tenang.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2