
Suara dentuman dentuman terdengar di kejauhan. Kendang ditabuh bertalu talu. Gong bergema menggetarkan gendang telinga. Ada tawa dan teriakan riang, seolah pesta besar tengah dilangsungkan.
Purbo bisa mendengar suara suara itu. Namun tubuhnya tak mampu digerakkan. Persendian di sekujur badan kaku, seolah dirinya tengah ditindih sesuatu. Terasa berat dan sesak. Bahkan untuk menggerakkan ujung jari pun susah.
Purbo ingin berteriak sekuat kuatnya, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya tercekik, terasa kering dan sakit. Dia merasa seperti dikelilingi dan dihimpit oleh kegelapan.
Dok dokkk dokk dokkk
Suara ketukan terdengar di antara tabuhan gong dan kendang yang bertalu talu.
Dok dokk dokk dokkk
Suara ketukan kembali berulang. Suara itu terdengar keras dan dekat. Seolah berasal dari pintu depan. Namun sesaat kemudian suasana berubah hening.
Detik berikutnya terdengar bunyi pintu dibuka, disusul langkah kaki yang cepat dan terburu buru. Purbo benar benar ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tubuhnya masih terbujur kaku di atas ranjang. Tak mampu digerakkan.
Tiba tiba sepasang tangan terasa meraih lengan Purbo. Menarik Purbo agar bangun dan duduk. Kemudian cipratan cipratan air dingin menerpa wajahnya.
Purbo tersentak, seketika matanya terbuka. Ternyata ada Jasman di hadapan Purbo saat ini. Penjual rawon itu masih terus mencipratkan air yang berasal dari kelapa hijau kekuningan yang ada di pelukannya.
"Ternyata kamu lebih bodo* dari dugaanku. Bukankah sudah kukatakan untuk jangan minum!" bentak Jasman tiba tiba.
Tenggorokan Purbo masih tercekat. Dia belum mampu berbicara. Jasman meraih punggung Purbo dan membantunya untuk mendongak, meminum air kelapa yang dibawa oleh Jasman. Tiga kali tegukan hingga akhirnya Purbo tersedak.
"Hooweeekkkk!" Purbo muntah. Gulungan gulungan rambut hitam nan panjang keluar dari mulutnya. Ada beberapa helai yang tersangkut di tenggorokan. Purbo menariknya sendiri dan tumpahlah seluruh cairan yang ada di dalam perut ke lantai kamar. Cairan cokelat tua bagaikan lumpur tanah liat.
Purbo terbatuk batuk, sambil memperhatikan Jasman yang kali ini memakai pakaian serba hitam. Ada luka gores di sebagian wajahnya yang nampak mengering.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Purbo kebingungan. Suaranya terdengar lirih.
"Hari ini rabu wage wukunya manahil. Hari yang dianggap baik oleh warga desa untuk perayaan," ucap Jasman.
"Perayaan apa? Kenapa aku merasa ditinggalkan?" protes Purbo.
"Kamu bukan warga sini Purbo. Atau mungkin belum menjadi warga sini lebih tepatnya," sahut Jasman cepat.
"Aku nggak ngerti maksudmu. Jelaskan padaku!" Purbo menuntut penjelasan.
Jasman menghela nafas sejenak. Dia terlihat ragu untuk membuka mulutnya.
"Aku nggak punya banyak waktu. Saat upacara perayaan dimulai, aku harus sudah ada di rumah Mbah Modo," jelas Jasman.
"Lalu untuk apa kamu kemari? Membangunkanku dan membiarkanku kebingungan seperti kebo ketulup!" Purbo jengkel.
"Sudah kukatakan, jangan meminum parem atau apapun ramuan dari Mak Nah!" bentak Jasman.
"Kamu belum mengerti juga rupanya. Kamu dan istrimu itu beda. Kamu masih hidup Purbo!" Jasman melotot geram.
"Hah? Apa maksudmu?!" Purbo berteriak.
Purbo menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Dia hendak berdiri dan mencengkeram kerah baju Jasman. Namun ternyata, kaki Purbo seperti kehilangan otot dan tenaga. Pijakannya goyah, dan Purbo pun ambrug di lantai kamar.
"Minuman parem, legen buatan Mak Nah itu khusus untuk bangsa kami. Aku, Mak Nah, dan istrimu bukan manusia Purbo!" Jasman melotot, wajahnya nampak memerah. Purbo terdiam mendengar ucapan Jasman.
"Wedang parem, legen itu memang minuman yang kami suka. Minuman sehari hari untuk kami. Makanya tak ada reaksi apapun pada istrimu saat dia menenggaknya hingga habis. Beda denganmu Purbo. Kamu akan merasa ngantuk, nyaman, dan semakin sering kamu meminumnya semakin dalam kamu tersesat atau Kobeng di desa Ebuh. Air kelapa 'gading' ini penawar dari minuman kami untukmu. Termasuk kopi pahit yang diberikan Ceking waktu itu adalah penawar untukmu," lanjut Jasman.
__ADS_1
Di waktu yang sama terdengar suara gong ditabuh satu kali. Gema yang tercipta menggetarkan gendang telinga. Jasman tersentak kaget. Raut muka nya terlihat panik.
"Tidak ada waktu lagi. Aku membangunkanmu saat ini karena pada akhirnya kamu memiliki kesempatan untuk mencari tahu jati dirimu. Saat semua orang tak ada di rumah, kesempatanmu untuk membuka kamar rahasia. Kamar yang akan memberitahu siapa sejatinya dirimu. Aku pergi dulu," Jasman berjalan mundur. Kemudian dia berhenti di ambang pintu kamar.
"Satu lagi pesanku. Jangan percaya dengan semua orang yang ada di desa Ebuh. Baik itu Mak Nah, juga istrimu," ucap Jasman dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Bagaimana denganmu? Bisakah aku mempercayaimu?" sahut Purbo sambil mendongak menatap Jasman. Dia masih tengkurap di lantai, kedua kakinya lemas tak bertenaga.
Jasman tak menyahut. Sekilas dia menyeringai, kemudian berlari keluar kamar meninggalkan Purbo yang masih tak mampu berdiri.
"Aahhhh, sial! Apa maksudnya?" Purbo berteriak geram. Dia merasa dipermainkan. Sebagian dirinya tak mau percaya dengan perkataan Jasman, namun sudut hati mengatakan penjual rawon itu tak berdusta.
Purbo menarik nafas dalam dalam. Menghirup udara melalui hidung dan menghembuskannya kuat kuat lewat mulut. Dia mengulangi hal itu beberapa kali, hingga akhirnya jari jari kakinya mulai terasa kebas.
Otot kaki Purbo mulai menguat. Dia merasakan seperti ada aliran listrik yang menjalar mulai dari paha, betis sampai ke ujung jari kaki. Hingga akhirnya Purbo bisa menggerakkan lututnya dan mampu bangun meski dengan susah payah.
Purbo berdiri dengan tangan kanannya berpegangan pada sudut ranjang tempat tidur. Perlahan dia mencoba melangkahkan kaki, meski masih terasa sulit. Purbo berhasil berjalan hingga mencapai pintu kamar.
Suara gamelan kembali terdengar, mengalun merdu. Seperti pesta yang Purbo dengar di tengah malam tempo hari. Purbo ingin segera menyusul Jasman, melihat keramaian yang disebut perayaan itu. Namun langkahnya terhenti, teringat akan ucapan Jasman tadi.
"Aku harus ke kamar itu. Yaa, benar. Ada apa sebenarnya di dalam sana?" Purbo menatap nanar pintu kamar tanpa kunci yang berhadap hadapan dengan bilik kamar Purbo.
Dengan terseok seok Purbo melangkah. Dia mendorong kasar pintu kamar yang tertutup rapat itu. Daun pintu tak bergeming. Tidak ada pegangan untuk membuka kunci. Purbo kesulitan untuk membuka pintu, apalagi dia tak memiliki cukup tenaga untuk mendobraknya.
"Ahhh, sial!" Purbo memukul mukul daun pintu hingga ruas jarinya yang terkepal lecet dan berdarah.
Sambil bersandar pada daun pintu yang tertutup rapat, Purbo beralih memperhatikan pintu kamar sebelah. Kamar tempat tidur Mak Nah. Timbul rasa penasaran di hati Purbo untuk melihat isi bilik pembantunya itu.
__ADS_1
Purbo kembali berjalan sambil berpegangan pada dinding. Susah payah dia berhasil menggapai pintu kamar Mak Nah. Setelah satu tarikan nafas yang kuat Purbo mendorong daun pintu dan terbukalah kamar sang pembantu.
Bersambung___