
Motor Hasan memasuki area parkir di rubanah Rumah Sakit Umum Daerah. Suasana terasa sepi, dengan pencahayaan yang temaram. Hasan melepas helm hitamnya, saat terasa getaran lembut di saku celana. Sebuah pesan masuk dari Nita yang menanyakan apakah Hasan sudah sampai di tempat tujuan atau belum.
"Hmm, jangan jangan ini 'Mbok Dhe' punya indera herlambang, eh indera ke enam. Bisa bisanya pas banget, WA nya masuk saat aku sampai di parkiran rumah sakit," gumam Hasan sambil tersenyum. Sejenak dia lupa dengan kekhawatirannya pada keadaan Sani.
Hasan berjalan menyusuri tempat parkir yang sepi nan luas itu. Langkah kakinya menimbulkan gema yang membuat perasaan tidak nyaman. Seolah ada langkah kaki lain yang mengikuti. Sesekali Hasan menoleh mengedarkan pandangan. Tidak ada siapapun. Beberapa titik sudut parkiran tampak benar benar gelap pekat, tanpa ada setitik cahaya.
Setengah berlari akhirnya Hasan mencapai pelataran depan rumah sakit dengan paving warna warni diterpa sinar lampu LED putih bersih. Hasan melewati pintu kaca dan sampai di sebuah ruangan yang penuh kursi tunggu berderet dengan jumlah banyak. Asrofi terlihat duduk lesu di salah satu kursi. Hasan berjalan mendekatinya.
"Hei, bagaimana kondisi Sani?" tanya Hasan pelan, saat sudah berada di samping Asrofi.
"Ah, kamu San. Kapan datang?" Asrofi terlihat terkejut dan balik bertanya. Laki laki yang biasanya bersikap tenang itu kali ini nampak gusar. Bahkan kedatangan Hasan luput dari perhatiannya.
"Baru saja. Bagaimana kondisi Sani?" Hasan mengulang pertanyaannya.
"Belum sadarkan diri. Masih di ruang UGD dalam penanganan dokter, belum boleh ditengok," jawab Asrofi pasrah. Terdengar hembusan nafasnya yang kasar.
Asrofi dan Sani sudah berkawan sejak lama. Selalu bersama sama sejak Sekolah Menengah dulu. Kemudian kuliah di kampus juga nge kos di tempat yang sama, jauh dari kota asal. Gurat gurat kesedihan terpancar jelas di wajah lesu Asrofi.
"Aku sudah menghubungi Mamak, juga Bapaknya si Sani. Tapi jam segini sudah tidak ada kendaraan yang bisa mengantar ke kota ini. Mereka paling cepat sampai besok siang. Aku nggak tahu apa yang harus kukatakan kepada orangtuanya. Karena nggak mungkin orang se ceria, se bocor Sani melakukan percobaan bunuh diri. Orangtuanya nggak mungkin akan percaya," Asrofi menggenggam erat tangannya sendiri sambil tertunduk dalam.
"Ini salahku. Seharusnya aku tidak memaksakan kita penjelajahan di tempat itu. Sebagai ketua, aku yang bertanggungjawab," suara Asrofi terdengar bergetar.
Hasan diam tak menyahut. Dalam hatinya juga dipenuhi rasa bersalah. Andaikan dia tidak sembrono, melamun dalam penjelajahan, tentu hal buruk itu bisa dihindari. Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Kini hanya tersisa penyesalan di benak dua pemuda yang tengah diam membisu di ruang tunggu rumah sakit itu.
"Sudah makan?" tanya Hasan mengalihkan pembicaraan. Asrofi menggeleng pelan. Tatapan matanya terlihat kosong.
__ADS_1
Hasan berdiri dari duduknya dan melangkah pergi setelah melihat papan tulisan yang terpampang di bagian depan ruangan. Dia berjalan menyusuri lorong yang cukup lengang. Hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan di dekat kolam ikan kecil. Ruangan yang tertulis Kantin di bagian atas pintu.
Lampu LED yang terpasang di plavon berkedip beberapa kali. Hasan mengambil beberapa roti dan kue kering, serta kopi kaleng yang terpajang di etalase depan. Petugas kantin seorang ibu ibu paruh baya dengan lingkar mata yang menghitam seperti kurang tidur. Dia memakai tanda pengenal yang tergantung di dadanya. Tertulis jelas nama penjaga kantin, Panda. Hasan menahan tawa dibuatnya.
"Semuanya lima puluh lima ribu Mas," ucap Bu Panda saat Hasan hendak membayar.
Hasan menyodorkan uang pas. Bu Panda sekilas tersenyum, dan memasukkan belanjaan Hasan ke kantong plastik putih.
"Njenguk siapa Mas?" tanya Bu Panda basa basi.
"Temen Bu," jawab Hasan singkat.
"Sakit apa?" Bu Panda kembali bertanya.
"Emm, masih di UGD bu," jawab Hasan asal asalan.
"Amiin, terimakasih Bu," jawab Hasan. Dia bingung hendak menjawab apa, karena tiba tiba mendapat nasehat dari orang yang tak dikenalinya. Tapi Hasan juga merasa apa yang dikatakan penjaga kantin benar adanya.
Hasan kembali ke ruang tunggu. Asrofi masih duduk di tempatnya tadi, dengan wajah tertekuk. Dari yang terlihat laki laki itu benar benar terpukul dengan keadaan Sani.
"Makan dulu, ngopi juga biar seger," Hasan menyodorkan roti dan kopi kaleng. Asrofi tersenyum sekilas, dan menyambar kopi di tangan Hasan.
"Sani itu adalah orang paling ceria yang pernah kukenal. Apapun masalah hidupnya, malah seringkali dibuat sebagai candaan. Dia memang kadang kadang lebih cepat mulutnya untuk berbicara daripada kepala untuk berpikir. Melihatnya tergolek lemah di atas tempat tidur, dengan wajahnya yang pucat dan ekspresi ketakutan membuatku kehabisan kata kata. Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi. Aku bingung, bagaimana cara untuk membantunya," keluh Asrofi, sembari menghela nafas yang beraroma kopi.
"Ahh iya, kamu bisa baca aksara jawa?" tanya Asrofi kemudian.
__ADS_1
"Aksara Jawa? Memangnya kenapa?" Hasan balik bertanya.
Asrofi membuka HP nya. Kemudian mengirim sesuatu melalui aplikasi pengirim pesan kepada Hasan.
"Apa ini?" tanya Hasan setelah membuka pesan dari Asrofi.
"Di bawah tempat tidur Sani, tergeletak secarik kertas bertuliskan aksara Jawa. Aku tadi sempat mem fotonya sebelum diserahkan pada pihak keamanan kos. Aku curiga itu semacam wasiat. Tapi anehnya setahuku Sani nggak ngerti aksara Jawa," Asrofi menatap Hasan. Bulu kuduk Hasan berdiri tanpa sebab.
"Nita bisa baca kayaknya. Aku share ke Nita dulu," sambung Hasan, segera mengirimkan foto tersebut pada Nita.
Tak butuh waktu lama, Nita sudah membalas. Sebuah pesan yang cukup panjang.
'Wes dadi pakulinan, yen budhal nggawa mulih nyangking. Mangka yen sliramu nyangking tanpa nggawa, ingsun jaluk ijol.'
(Sudah menjadi kebiasaan, jika datang membawa sesuatu maka waktu pulang mendapat buah tangan. Jika kamu mendapat buah tangan tanpa membawa sesuatu, saya/ kami akan minta ganti)
Hasan dan Asrofi membaca pesan dari Nita. Keduanya saling bertukar pandang dalam diam.
"San, bagaimana ini?" tanya Asrofi panik.
"Orangtua Sani harus tahu tentang ini As," sahut Hasan.
"Bagaimana kalau mereka marah dan meminta pertanggungjawaban pada club pecinta alam, terutama aku sebagai ketua panitianya? Hal ini juga tentu akan berpengaruh pada kampus San. Kemungkinan terburuk kita semua bisa dapat sanksi. Aku sudah semester akhir San, sebentar lagi lulus. Terlalu bodoh menerima hukuman di saat sekarang ini," Asrofi memijat mijat keningnya yang berdenyut.
"Tidak ada pilihan lain. Kalaupun masalah ini terdengar pihak kampus, dan kita disalahkan, ya mau bagaimana lagi? Keselamatan Sani yang utama. Dengan kita jujur pada orangtua Sani, mungkin saja mereka memiliki solusi. Aku siap mendapat sanksi atas kesalahan yang telah kuperbuat," Hasan menepuk bahu Asrofi.
__ADS_1
"Tunggu San. Beri aku waktu untuk berpikir," Asrofi menepis tangan Hasan. Wajah yang bisanya terlihat meneduhkan penuh tanggungjawab, kini berubah karena sebuah keadaan. Asrofi terasa seperti hendak lari dari kewajibannya.
Bersambung___