KOBENG

KOBENG
Telungpuluh Papat


__ADS_3

Ada sebagian orang, saat merasa ketakutan akan langsung tak sadarkan diri. Hal itu juga yang diharapkan oleh Hasan. Namun sayangnya, raga Hasan terlalu bugar untuk jatuh pingsan. Dia tetap berdiri tegap memandangi dua sosok mengerikan yang ada di dalam kamar.


Rambut hitam legam dan panjang terjuntai hingga menyentuh lantai. Kuku tangan yang panjang nan hitam tengah menggenggam sebongkah benda berlendir dengan warna merah menyala seperti agar agar. Hasan ogah menebak benda apa yang tengah mereka cicipi itu.


Dengan hati hati, Hasan melangkah mundur. Dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Hasan tidak ingin mengganggu kegiatan dua makhluk yang tengah asyik dengan menu sarapannya itu.


Saat langkah mundur Hasan mencapai ruang tamu, Purbo datang membawa dua cangkir minuman hangat. Purbo mengamati perubahan mimik muka Hasan yang nampak cemas dengan bibirnya yang pucat membiru.


"Mas Hasan kenapa?" tanya Purbo penasaran.


"Ah, iya? Kenapa apanya Mas?" Hasan balik bertanya dengan suaranya yang sedikit tergagap.


"Kayak orang ketakutan gitu. Atau kakinya masih kram? Sakit?" tanya Purbo lagi.


"Eng enggak kok Mas," Hasan menggeleng cepat.


"Emm, mari silahkan duduk kalau begitu. Minum wedang jahe anget pas nih, mumpung udara juga lagi dingin dinginnya," Purbo mengajak Hasan duduk di kursi ruang tamu.


"Emm anu Mas. Maaf nih, saya mau langsung pamit saja," ucap Hasan tiba tiba.


Purbo semakin merasa aneh dengan tingkah Hasan. Kenapa tamunya itu tiba tiba pamit dengan ekspresi seperti orang ketakutan?


"Minum dulu lah Mas," bujuk Purbo.


"Maaf Mas sudah merepotkan dan terimakasih untuk minyak urutnya. Saya mau pamit," ucap Hasan kekeuh sambil terus berjalan mundur.


Melihat kebaikan Purbo, Hasan sebenarnya merasa tak enak hati. Namun setelah menemukan pemandangan aneh di dalam kamar, sangat bodoh jika dia tidak segera pergi menjauh dari rumah tersebut.


Keringat dingin mulai membasahi punggung Hasan. Ketiaknya juga terasa basah dan lengket. Dia terus berjalan mundur menghindari ajakan sang tuan rumah untuk minum jahe hangat. Langkah Hasan terhenti kala indera pendengaran menangkap suara langkah kaki keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.


Detak jantung Hasan berdegup kencang tak beraturan. Bayangan sosok perempuan berambut panjang dengan kuku yang menghitam kembali terngiang di benaknya. Rasa takut menggerogoti hatinya, membuat dada terasa sesak. Hasan merasa sulit menggerakkan kaki. Otot otot di paha dan betis terasa lemas, tak bertenaga.


"Oh ini tamunya Tuan Purbo," ucap perempuan tua sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Hasan tercekat. Perkiraannya keliru. Padahal dia sangat yakin akan melihat wajah mengerikan yang keluar dari dalam kamar. Tapi kini yang muncul di hadapannya adalah sosok wanita tua yang normal dan terlihat kalem. Wajah yang mengingatkan dia pada sosok neneknya yang baik hati.


"Beliau ini namanya Mak Nah, Mas Hasan. Asisten rumah tangga di rumah ini," ucap Purbo kala melihat Hasan terbengong bengong menatap sosok Mak Nah.


"Maaf Tuan, tadi belum sempat membuatkan minuman," Mak Nah membungkuk di hadapan Purbo.


"Sudah aku buatkan wedang jahe kok Mak. Tapi Mas Hasan ini tiba tiba pamitan," sahut Purbo nampak bingung.


"Lhoh, kenapa Mas Hasan?" tanya Mak Nah heran.


"Ah engg nganu. Saya itu nganu. Apa? Ah ini, saya ditunggu sama teman teman di lapangan kecamatan," jawab Hasan asal asalan. Dia mencoba tersenyum, namun bibirnya seakan membeku. Ekspresinya malah terlihat aneh, seperti orang sedang menahan buang air.


"Mbok ya diminum dulu Mas. Kasihan lho Tuan Purbo capek capek membuatkan njenengan minuman," sanggah Mak Nah.


"Maafkan saya. Tapi saya memang harus buru buru balik," Hasan sudah membulatkan hatinya. Dia tak sudi berdiam di rumah itu lebih lama, meski hanya beberapa menit pun dia ogah.


"Baiklah. Yang penting kram nya sudah sembuh kan Mas?" Purbo menghela nafas. Hasan mengacungkan jempolnya.


"Sekali lagi terimakasih, saya pamit," ucap Hasan sambil memakai sepatunya di teras rumah.


"Eh tas ranselnya Mas Hasan," Purbo mengambil ransel Hasan yang tergeletak di bawah tiang penyangga teras rumah.


"Oh iya," Hasan menepuk dahinya sendiri. Takut dan gugup membuatnya lupa akan tas ransel. Dia hanya memikirkan bagaimana caranya segera kabur dari tempat itu.


"Mas Hasan yakin tidak apa apa nih?" Purbo bertanya memastikan. Sikap Hasan benar benar aneh di mata Purbo.


"Nggak Mas. Saya baik baik saja kok. Hanya pengen cepat cepat pulang," jawab Hasan.


"Emm, atau jangan jangan terjadi sesuatu waktu saya ke belakang tadi?" tanya Purbo penasaran.


"Ah nggak Mas. Enggak," bantah Hasan cepat.


"Saya pamit. Sekali lagi terimakasih," ucap Hasan. Dia hendak mengucap salam saat suara Mak Nah memanggil dari samping rumah.

__ADS_1


"Mas Hasan, ini ada sedikit oleh oleh dari hasil kebun," Mak Nah menyodorkan kresek warna hitam pada Hasan.


"Ah, tidak usah repot repot," sahut Hasan kikuk.


"Pemberian itu harus diterima Mas. Menolak rejeki itu 'ora ilok', nggak baik," Mak Nah memaksa menyerahkan kresek hitam di tangannya.


Tak ada pilihan lain, dengan tangan sedikit gemetaran Hasan menerima pemberian Mak Nah. Dia sempat mengintip ke dalam kresek dan ternyata isinya adalah beberapa ubi ungu serta buah pisang mas. Hasan bernafas lega karena pemberian perempuan tua itu bukan sesuatu yang aneh aneh.


"Terimakasih," ucap Hasan singkat. Mak Nah tersenyum sambil membungkuk.


Hasan melangkah mantap meninggalkan rumah joglo di tengah hutan itu. Kabut tebal yang sedari tadi mengganggu penglihatan, kini sudah jauh berkurang. Hanya tersisa gumpalan gumpalan putih tipis berpendar di udara.


Setelah beberapa puluh meter Hasan berjalan, dia teringat ucapan teman temannya sebelum penjelajahan. Ada salah satu teman yang memberi tips dan trik konyol cara melihat penampakan hantu. Hasan menghentikan langkahnya. Entah bagaimana dia ingin mempraktekkan tips dari temannya itu.


Hasan berdiri di tepi jalan. Kemudian dia melebarkan jarak kedua kakinya. Setelah itu, Hasan menunduk dan melihat ke arah rumah Purbo melalui sela sela kaki.


"Astaghfirullah!" pekik Hasan.


Sekuat tenaga Hasan melompat. Mengayun kakinya dengan terburu buru. Dia berlari meskipun otot betisnya kembali terasa ngilu.


"Gustiiii, tunjukkan jalan," teriak Hasan sambil berlari.


Tak peduli rasa letih dan lelah, Hasan terus mengayun langkah. Oksigen di paru parunya terasa menipis. Dia bernafas menggunakan mulut, mangap mangap sambil terus berlari pontang panting.


Setelah beberapa menit berlari bak dikejar seekor binatang buas, Hasan akhirnya berhasil keluar dari wilayah hutan. Dia sampai di sebuah tanah lapang dengan rumput gajahan tumbuh subur. Dia berjongkok memegangi lututnya.


Hasan merasakan sesuatu yang mengganjal di saku celananya. Dia teringat minyak gosok yang tadi diberikan oleh Purbo tak sengaja terbawa dan belum dikembalikan.


"Duh, nggak mboys banget nyolong minyak urut," gumam Hasan merogoh saku celananya.


Betapa terkejutnya Hasan, bukan minyak gosok yang ada di saku celana. Melainkan sebuah botol kaca sebesar jempol kaki dengan sebuah cairan merah kental dan satu butir kemenyan di dalamnya.


"Amit amit jabang bayi. Singgah singgah kolo singgah!" Hasan melempar botol kaca itu ke tanah.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2