KOBENG

KOBENG
Patangpuluh Nem


__ADS_3

Udara sedikit hangat siang ini, menyisakan kabut tipis berwarna putih bersih. Purbo berjalan mengendap endap ke halaman depan sambil membawa sebuah kendi tanah liat yang berisi wedang parem.


Sesekali Purbo memperhatikan ke dalam rumah. Celingak celinguk seperti seorang pencuri yang mengawasi keadaan sekitar. Perlahan dia membuang air parem dalam kendi ke halaman depan. Menyisakan sebagian, dan meletakkan kendi kembali di meja ruang tamu.


Setelah itu, Purbo duduk bersantai di kursi kayu. Membuka laci dan mengambil sebuah liontin kecil dari bawah tumpukan koran. Dia memandangi perempuan cantik yang ada di dalam foto. Ada rasa rindu, bahkan dada Purbo terasa bergetar setiap kali melihat gambar yang terpampang di dalam liontin kecil itu.


"Siapa kamu?" gumam Purbo sendirian.


Ada sedikit praduga di hati Purbo. Bisa saja dia dulunya bukanlah laki laki setia. Saat istrinya tengah hamil, dia memiliki seorang perempuan lain. Jika benar demikian, sungguh besar dosa Purbo pada istrinya itu.


Namun Purbo merasa tidak pernah melihat sosok perempuan yang ada dalam foto di area pemukiman warga desa. Jadi, mungkin saja perempuan itu berasal dari desa lain. Semakin Purbo berpikir dan mencoba mengingat, kepalanya terasa berdenyut.


"Tuan, wedang paremnya sudah diminum?" tanya Mak Nah tiba tiba. Perempuan tua itu berada di ujung ruang tamu, memperhatikan Purbo yang tengah duduk melamun.


"Ah, sudah Mak," jawab Purbo sedikit terkejut. Dia segera memasukkan kembali liontin ke dalam laci.


Mak Nah berjalan mendekat. Mengangkat kendi di meja ruang tamu. Dan ternyata terasa ringan. Mak Nah tersenyum lega. Dia percaya majikannya sudah meminum wedang parem buatannya. Mak Nah kembali berjalan ke dapur.


Setelah Mak Nah pergi, Purbo beranjak ke dalam kamar. Dini tengah tertidur pulas dengan benang rajutan tergeletak di atas pangkuannya. Purbo merasa iba, dia yakin istrinya itu sebenarnya bosan harus terus menerus berbaring di atas tempat tidur.


Dengan berjingkat, Purbo membuka lemari dan mengambil sebuah kunci dibalik tumpukan baju. Dia tidak mau mengganggu tidur istrinya. Purbo berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.

__ADS_1


Sambil menggenggam sebuah kunci di tangannya, Purbo melangkah keluar rumah. Dia teringat dengan mobilnya yang beberapa hari ditinggalkan di tepian jalan. Purbo ingin sekedar jalan jalan keluar desa untuk mengusir rasa bosan sekaligus memanaskan mesin mobil.


Jalan desa yang terjal dan sedikit basah membuat pijakan kaki Purbo beberapa kali hampir terpeleset. Sampai detik ini dia masih merasa heran, bagaimana mungkin bisa betah tinggal di daerah yang sangat terpencil? Jika selama ini dia adalah seorang pelukis dengan harga lukisannya yang cukup tinggi, kenapa tak mencoba mengumpulkan uang untuk membeli rumah di daerah perkotaan?


Pertanyaan demi pertanyaan entah datang darimana bermunculan begitu saja. Otak dan pikiran Purbo hari ini terasa lebih jernih. Mungkin saja efek dari tidak diminumnya wedang parem tadi pagi. Semua berkat Jasman, begitu pikir Purbo.


Sambil terus memperhatikan jalanan terjal di hadapannya, Purbo kembali teringat dengan luka luka di wajah Jasman. Seingatnya kemarin Purbo sempat berkunjung ke warung rawon milik Jasman, dan hanya ada Mbak Ajeng disana. Kemana Jasman pergi? Lalu, darimana Jasman mendapat luka luka di wajahnya itu?


Dalam lamunan, langkah kaki Purbo sudah melewati gapura desa. Gapura yang terlihat sangat lawas dan tak terawat. Lumut dan tanaman merambat begitu rimbun menutupi tulisan selamat datang dengan aksara jawa itu.


Dari arah berlawanan, di dalam kabut putih tipis nampak sosok yang tengah membawa sebilah sabit di tangan kanannya. Purbo menghentikan langkah. Ada rasa takut di hati Purbo, karena wajah orang yang tengah memegang senjata tajam itu terlihat beringas dengan kumis hitam nan lebat. Sorot matanya tajam menatap Purbo. Namun tak ada satupun kalimat yang terucap dari bibirnya yang semburat kehitaman.


Tanpa ekspresi, laki laki itu berjongkok tak jauh dari tempat Purbo berdiri. Purbo menelan ludah, terdiam mematung memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh orang asing itu.


Bungkusan kresek hitam dibuka perlahan. Aroma harum yang cukup familiar tercium di udara. Aroma tembakau. Beberapa lembar kertas papir nampak menyembul di antara tumpukan tembakau. Juga cengkeh kering berwadah kertas bekas ada di dalam kresek.


Laki laki asing itu duduk di tepian jalan, sibuk menggulung rokok racikannya sendiri. Purbo menghela nafas. Dia merasa bersalah telah berprasangka buruk pada seorang yang tengah mencari rumput.


"Selamat siang Pak," ucap Purbo menyapa.


Laki laki itu diam saja tak menyahut. Tak juga menoleh memandang Purbo. Dia sibuk menyulut rokok racikannya itu. Asap putih mengepul setelah rokok berhasil dinyalakan. Laki laki itu tersenyum puas, menikmati karbonmonoksida beraroma menyengat itu.

__ADS_1


"Yoh yoh, kerja sampek jadi babunya ternak. Sapi buang air tak bersihin, lapar ya tak carikan rumput, tidur dikerubuti nyamuk ya tak siapin obat nyamuk bakar, kok ya nggak kaya kaya to yoo. Istri tiap hari ngomeeelll terus. Rokok pun harus yang lintingan sendiri. Situ mintanya gincu sama bedak yang improt. Suami jam segini lesehan di atas rumput, situ enak enak arisan makan pret ciken. Kebacut!" Keluh laki laki asing itu tiba tiba. Suaranya terdengar parau.


"Maaf Pak? Njenengan ngomong sama saya?" tanya Purbo tak mengerti. Laki laki asing itu diam tak menyahut. Pun juga tak menoleh pada Purbo.


Purbo hanya bisa geleng geleng kepala. Dia meneruskan langkah kakinya kali ini. Meninggalkan laki laki aneh itu yang masih sesekali menggerutu sendirian.


"Daritadi leher kok merinding terus. Mana bau wangi bunga melati. Kayak bau pengantin. Ingsun tadi kemari cuma mau nyari rumput tok. Habis ini langsung balik. Jangan ganggu ya," ucap laki laki asing itu setelah Purbo pergi.


Kini Purbo telah sampai di tempat mobilnya terparkir. Di bawah pohon akasia yang rindang mobil itu nampak berdebu. Purbo mengamati kondisi mobil sekilas dan baru menyadari banyak sekali lumpur yang masih basah di 4 bagian rodanya.


Purbo menyalakan mobilnya beberapa menit. Dia menyandarkan kepala di kursi belakang kemudi. Namun kemudian dia menyadari sesuatu yang membuatnya kesal. Seperti orang linglung, nyatanya Purbo lupa caranya mengemudi. Dia hanya tahu cara menyalakan, namun tak mengerti bagaimana cara menjalankan mobilnya.


"Sial! Bodohnya aku," Purbo membanting pintu mobil dari luar setelah mesin dimatikan.


Purbo bersungut sungut, melangkahkan kakinya kembali menapaki jalan terjal menuju ke rumah. Baru beberapa saat melangkah, dia kembali berpapasan dengan laki laki asing yang tadi. Laki laki itu memanggul satu ikat rumput gajahan yang hijau dan segar.


"Sudah selesai pak?" Purbo berusaha berbasa basi. Namun ternyata tetap diacuhkan.


"Bau wangi lagi," gumam laki laki asing itu lirih. Kemudian dia mempercepat langkah.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2