
Di dahan pohon mangga yang kokoh, sosok Sani bermain ayunan, bertingkah layaknya anak kecil di tengah malam buta. Matanya nampak putih mengkilat di dalam kegelapan. Tawa serak terdengar bersahut sahutan. Suara angin bergemuruh membawa terbang beberapa daun kering jatuh berguguran di tanah.
Laila berbalik badan, tubuhnya yang gempal sulit untuk diajak bergerak. Dadanya terasa begah, nafas pun sesak. Diserang rasa panik berlebih, keringat membasahi kaosnya meski baru beberapa langkah dia berlari.
Sekuat tenaga Laila menerobos masuk ke dalam tenda. Menubruk kawan kawannya yang berdiri mematung di dalam, mengintip dari balik kain polyester yang sedikit basah akibat udara malam yang lembab. Laila jatuh berguling mencium terpal alas tenda.
"Tutup tendanya!" perintah Laila.
Yolla dan Nita segera melompat, duduk di belakang Hasan yang nampak kesulitan untuk bergerak. Mereka memilih menjauhi pintu masuk tenda. Laila masih duduk terpisah dari teman temannya. Dia mengatur nafas, wajahnya pun terlihat pucat dengan pencahayaan lampu petromax yang temaram.
"Ada apa sih?" Hasan bertanya heran. Kakinya tak mampu digerakkan, dia belum sempat mengintip keluar, sehingga tidak tahu bagaimana keadaan Sani yang berayun ayun di dahan pohon mangga.
"Sani kesurupan," jawab Laila setengah berbisik.
"Kan udah tau daritadi kalau Sani kesurupan. Terus kenapa kalian bubar kayak 'gabah diinteri' gini? Hah?" Hasan meminta penjelasan.
"Jangan berisik! Sani melompat lompat di dahan pohon. Seremm, matanya putih semua!" Yolla melotot ke arah Hasan.
Hasan menelan ludah mendengar jawaban dari Yolla. Dia mengutuk dirinya sendiri. Seharian penuh mengalami kejadian yang menakutkan secara beruntun. Padahal sempat merasa lega berhasil keluar dari hutan. Namun ternyata hal mistis masih betah mengikutinya. Hasan menyesal tidak membuang oleh oleh dari perempuan bernama Mak Nah tadi.
Suasana mendadak senyap. Lampu petromax semakin redup. Hasan menduga spiritus yang menjadi bahan bakarnya sudah hampir habis. Udara malam yang dingin berubah pengap dan sesak. Deru nafas setiap orang di dalam tenda terdengar begitu kencang.
Sraakk Sraakkk
Suara langkah kaki diseret berasal dari luar tenda. Ada juga suara melompat lompat dan menginjak dedaunan serta dahan kering, menimbulkan kesan berisik yang menambah kengerian.
"Saann, suara apa itu? Kok melompat lompat gitu?" bisik Nita tepat di sebelah telinga kiri Hasan. Bibirnya bergetar hebat.
__ADS_1
"Gaes gaes, kalian juga mencium aroma ketela bakar kan?" tanya Laila ketakutan. Berulangkali dia menelan ludah. Tubuhnya yang gendut terlihat basah, bermandikan keringat.
"I iyaaaa Laii, aku juga dengaarr," Nita terlihat hampir menangis.
"Itu artinya. . ." Yolla menatap Laila.
"Ada pocoonggg!" pekik Yolla dan Laila tertahan.
Suasana kembali senyap. Laila melirik jam tangannya, tepat jam 12 malam. Dia berdoa dalam hati supaya bisa melewati tengah malam tanpa diganggu hal hal aneh lainnya. Dia merasa yakin, setelah lewat tengah malam keadaan akan membaik.
Detik berganti menit, keadaan masih sepi. Kesunyian yang terasa menggerogoti nyali. Dugaan Laila salah besar. Saat jam bergerak melewati tengah malam, nyatanya kembali terdengar suara suara berisik mendekati tenda.
Sorot lampu petromax memperlihatkan bayangan telapak tangan bergerak mencakar cakar tenda berbahan polyester itu. Semua orang menahan nafas. Hasan sebagai satu satunya lelaki di tempat itu berusaha untuk tetap tenang. Dia meletakkan telunjuk di depan bibirnya, meminta semua orang menahan diri agar tidak bersuara.
Saat perhatian semua orang teralihkan oleh bayangan telapak tangan yang mencakar cakar, tiba tiba saja dari belakang terdengar suara kain tenda yang robek. Semua orang menoleh dan terlihat Sani sudah berada di dalam tenda dengan bola matanya yang putih semua.
Sani yang tengah kesurupan langsung menubruk orang orang yang ada di hadapannya secara membabi buta. Sial bagi Yolla, dia tak sempat menghindar. Karena berada di posisi paling belakang, Yolla dicengkeram dan ditindih oleh Sani. Laila dan Nita hanya bisa menjerit jerit histeris.
Yolla berteriak teriak tak karuan. Sani sangat kuat mencengkeram kedua lengan Yolla. Tak sampai disitu, Sani tiba tiba membuka mulutnya lebar lebar. Detik berikutnya Sani memuntahkan cairan warna hitam bagai oli bekas dari mulutnya. Cairan itu tumpah langsung mengenai wajah Yolla. Sensasi lengket dan aroma anyir membuat Yolla menangis sejadi jadinya.
Saat semua orang pasrah dengan segala kengerian dan keanehan di hadapannya, sorot lampu dibarengi suara knalpot motor sayup sayup terdengar. Beberapa menit berikutnya, 3 orang Bapak bapak masuk ke dalam tenda. Satu di antaranya memakai peci putih dan langsung memegang pundak Sani yang tengah kesurupan tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Ojo ganggu!" teriak Sani menggeram.
"Tempatmu bukan disini!" bentak Bapak berpeci putih.
Sedikit kasar Bapak berpeci putih mencoba menyeret Sani keluar tenda. Dua orang yang lain terlihat ragu ragu membantu memegangi tubuh Sani. Erangan erangan dan teriakan nggak jelas terdengar, Sani berhasil dibekuk dan diseret keluar.
__ADS_1
Laila segera menyambar handuk dan mengusap wajah Yolla yang penuh lumpur. Nita menempel erat memegangi kaos Hasan. Tak ada yang mencoba melihat keluar. Suara Sani berteriak teriak sudah mereda.
Tenda tiba tiba terbuka dari luar. Hasan dan kawan kawannya menoleh serempak. Ternyata, Asrofi masuk ke dalam tenda dengan peluh di sekujur tubuhnya.
"Lama banget j*ran!" umpat Yolla melemparkan handuk penuh lumpur pada Asrofi.
"Heii, aku Kobeng!" Ucap Asrofi jengkel. Dia ogah disalahkan atas semua kegilaan yang terjadi malam ini.
"Hah? Kobeng gimana?" Hasan bertanya.
"Ya muter muter, ditempat yang sama. Paling benar tuh kalau mau kemana mana baca doa dulu deh gaes," Asrofi geleng geleng kepala.
"Gimana keadaanmu Yoll?" Asrofi kali ini memperhatikan wajah Yolla yang cemong dengan bercak bercak hitam bekas lumpur.
"Pake nanya lagi. Kalian belum pernah kan dimuntahi lumpur sama orang yang kesurupan?" Yolla melotot kesal.
Asrofi sebenarnya menahan tawa. Di antara 3 perempuan yang ikut penjelajahan, Yolla memang yang paling menor soal berdandan. Bahkan sebelum tidur pun dia sempat menggambar alis dan memakai bedak. Jadi saat lumpur tumpah di wajahnya, sebagian bedaknya yang luntur membuat Yolla tampak aneh.
"Gimana keadaan Sani?" Hasan bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Sedang ditangani sama Pak Kaji. Beliau itu tokoh agama di desa," jawab Asrofi menenangkan.
"Yang pake pake peci putih?" tanya Hasan lagi.
"Iya. Dua orang yang lain itu takmir Masjid. Jadi, waktu sampai di masjid aku langsung membangunkan takmir yang tidur di ruang belakang. Nah akhirnya diajak bangunin Pak Kaji yang rumahnya tak jauh dari masjid. Dan syukurlah kami datang tepat waktu," Asrofi menghela nafas.
"Tepat waktu gundulmu! Nggak lihat wajahku kayak gini kamu As!" sahut Yolla marah marah. Wajah Asrofi memerah menahan tawa.
__ADS_1
Bersambung___
Gaes, maaf yaahh update tersendat. Setelah menamatkan Rumah Tepi Sungai aku memang sengaja libur nggak nulis beberapa hari. Rasanya butuh sekali kali untuk merenung sambil ngopi kan ya. Semoga tidak banyak yang kecewa dan meninggalkan Kobeng. Percayalah, aku akan menamatkan kisah ini. 🤣🤣🤣