
Ditemani cahaya obor yang temaram, Lik Kani duduk bersimpuh di atas tikar pandan yang penuh noda merah maroon. Beberapa tetes cairan merah itu terlihat mulai mengering, namun aroma anyir masih membekas menyeruak di udara. Lik Kani mengusap usap tengkuknya yang sedari tadi terasa dingin.
Lik Kani merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok yang sudah terbakar separuh di dalam sebuah plastik lusuh. Dengan tangan gemetar dia menyulut rokok yang beraroma wangi cengkeh itu. Setelah rokok menyala, Lik Kani menyesapnya dalam dalam dan menghembuskan perlahan. Bibirnya nampak sedikit menghitam, dengan retakan retakan berwarna putih di bagian luarnya. Udara benar benar terasa dingin.
Lik Kani melamun dan teringat dengan Bu Sudarsih, Mbak Yu nya. Mereka dua bersaudara, yang sedari kecil disuguhi dengan aroma kemenyan dan kembang tujuh rupa. Bapak mereka merupakan dukun tersohor pada masa lalu. Tanpa tahu asalnya darimana, hidup mereka bergelimang harta dan uang. Setiap kali Lik Kani bertanya darimana sang Bapak mendapatkan kekayaan, tak pernah mendapatkan jawaban.
Hingga suatu ketika, Ibu Lik Kani yang masih berusia muda meninggal secara mendadak. Entah apa yang terjadi, pagi itu udara terasa sangat dingin. Saat tengah memasak nasi di 'pawonan' sang Ibu tiba tiba tersedak dan jatuh pingsan. Lik Kani ingat betul pemandangan Ibu nya tersungkur di lantai tanah dengan dua gelas air tajin yang berceceran.
Semenjak hari itu, Lik Kani berjanji dalam hati untuk menjauhi Bapaknya. Berapa kalipun sang Bapak meminta agar Lik Kani belajar ngilmu, mewarisi japa mantra nya, Lik Kani menolak dengan tegas. Namun kini, dia terpaksa harus berhubungan lagi dengan praktek ritual perdukunan demi sang keponakan.
"Apa aku memang ditakdirkan harus berkutat dengan dunia seperti ini?" gumam Lik Kani sendirian.
Lik Kani menghela nafas. Di dunia ini hanya Bu Sudarsih satu satunya keluarga. Hidup Mbak Yu nya itu penuh kemalangan. Suaminya menghilang entah kemana. Saat membesarkan Purbo, dia divonis dokter memiliki kista di perutnya.
Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Purbo berhasil mendapatkan uang untuk pengobatan Bu Sudarsih. Baru baru ini Lik Kani menyadari, uang itu pemberian dari Dini. Seringkali Lik Kani merasa kehidupan keluarganya yang selalu dalam kesulitan akibat karma dari perbuatan Bapaknya dahulu.
Lik Kani percaya bahwa dalam kehidupan di dunia, hukum sebab akibat berlaku. Apa yang manusia tabur, akan dituai oleh anak keturunannya. Pola pikir yang seperti itu jua lah yang membuat Lik Kani betah sendiri, enggan mencari pasangan hidup.
Suara langkah kaki membuyarkan lamunan Lik Kani. Dari kejauhan terlihat langkah kaki yang gagah, dengan aroma wangi yang menyertainya. Mbah Kusworo datang membawa sebuah kendi di tangan kanannya.
"Ngembang duren, wong kok ndlongop wae. Wajah mlongo mu kayak kebo ketulup!" bentak Mbah Kusworo dengan suaranya yang menggelegar.
"Ngaturaken sembah pangabekti kulo Mbah," Lik Kani buru buru menunduk ketakutan.
"Hmmm, kurasa kamu memandang buruk diri sendiri karena berasal dari trah keturunanku. Benar begitu?" tanya Mbah Kusworo tiba tiba. Lik Kani kaget, bagaimana mungkin sosok menakutkan itu bisa tahu isi hati dan lamunannya.
__ADS_1
"Bangga lah terlahir menyandang nama Kusworo. Seandainya bukan aku yang jadi buyut kalian, sudah pasti keponakanmu itu takkan pernah kembali," ucap Mbah Kusworo menatap tajam pada Lik Kani.
"Maaf Mbah, ngapunten. Dalem tidak berniat demikian. Dalem hanya nggak suka dengan praktek perdukunan Bapak," Lik Kani menunduk semakin dalam.
"Yowes, ora opo opo. Lakon hidupmu adalah tanggung jawabmu. Tidak ada keharusan untuk mengikuti pendahulumu. Tapi jangan merasa malu, atau hilang syukur atas silsilahmu. Pasti masih ada kebaikan dalam keburukan. Begitupun sebaliknya hal yang terlihat baik, masih ada keburukan di dalamnya," ujar Mbah Kusworo menasehati.
"Nggeh Mbah. Terus Purbo sama Mbah Yon dimana Mbah?" lik Kani celingak celinguk. Dia tidak menemukan keponakannya dimanapun.
"Ada, tapi kamu nggak bisa melihatnya. Segera ke rumah sakit. Usapkan air dalam kendi ini ke wajah cicitku yang guobl*k nggak ketulungan itu," perintah Mbah Kusworo.
"Maksudnya Mbah?" Lik Kani mengernyitkan dahi.
"Sudah, jangan dipikirkan. Nih bawa kendi nya," Mbah Kusworo terlihat sedikit tersenyum sembari menyodorkan kendi berwarna hitam.
"Lha punya nya Mbah Yon itu?" tanya Lik Kani.
"Terimakasih Mbah. Dalem permisi," ucap Lik Kani.
"Iya. Jangan datang kesini lagi. Jangan butuh bantuanku lagi. Aku nggak suka diganggu dengan urusan urusan remeh kalian," Mbah Kusworo melotot dan tertawa kencang.
Lik Kani tetap menunduk dan duduk bersimpuh, hingga suara tawa Mbah Kusworo mereda. Saat tawa itu hilang, Lik Kani mendongak perlahan dan ternyata Mbah Kusworo telah lenyap bersama hembusan angin dingin yang menyayat kulit ari. Api obor ikut padam. Lik Kani buru buru menyalakan senter di HP dan memakai sandalnya. Dia berlari meninggalkan tikar dan pecahan pecahan kendi dengan cairan merah maron kental yang mulai mengering.
Selepas kepergian Lik Kani, dalam pekatnya kegelapan malam semak belukar di tepian hutan nampak bergerak gerak. Beberapa pasang mata putih mengkilat berjalan mengendap endap. Sambil membungkuk, sosok sosok itu mendekati tikar pandan di tengah tanah lapang. Dan detik berikutnya mereka berebut menjilat cairan kental berwarna merah maroon itu. Terdengar geraman dan lolongan panjang setelah cairan tersebut habis tak bersisa.
Lik Kani mempercepat langkah ketika mendengar suara suara berisik di kejauhan. Dia tak berniat menoleh meskipun rasa penasaran terasa gatal di sudut hatinya.
__ADS_1
"Gusti, itu suara hewan atau apa to? Hyuhh, Bo Purbo kalau sudah sembuh kamu hutang budi sama Pak Lik mu ini," gerutu Lik Kani terus melangkahkan kakinya meski beberapa kali ujung jempolnya terantuk kerikil kerikil tajam.
Tiba tiba saja terlihat sorot lampu senter dari arah berlawanan. Ternyata Pak Sopir yang datang mendekat dengan wajahnya yang terlihat pucat.
"Syukurlah, ketemu lagi sama Njenengan," teriak Pak Sopir girang.
"Mana majikanmu? Kita harus segera membawa kendi ini ke rumah sakit!" tanya Lik Kani celingukan.
"Lhoh, kendinya utuh lagi?" ucap Pak Sopir heran.
"Bukaann. Ini kendi baru. Pemberian Mbah Kusworo," sahut Lik Kani.
"Hey, mana majikanmu?" Lik Kani mengulang pertanyaannya.
"Anu, tadi Non Dini sudah cabut duluan. Ke rumah sakit," Pak Sopir menggaruk garuk pelipisnya.
"Wooo, mbelgedes! Terus gimana ini? Kita pulangnya gimana Pir?" pekik Lik Kani jengkel.
"Tenang Pak Lik, salah satu temanku sudah meluncur ke desa terdekat. Kita jalan kaki saja sampek jalan desa sana Lik," usul Pak Sopir.
"Yawes lah. Jalan ya jalan deh. Yang penting nggak sendirian," Lik Kani pasrah.
"Takut ya Lik?" tanya Pak Sopir mencibir.
"Memangnya kamu enggak takut?" balas Lik Kani.
__ADS_1
"Enggak. Enggak berani Liikk maksudnya. Se dingin dan se gelap ini. Hiiii," Pak Sopir bergidik sambil memegangi tengkuknya sendiri.
Bersambung___