KOBENG

KOBENG
Seket


__ADS_3

Suara lolongan anj*ng di kejauhan terdengar panjang bersahut sahutan. Bunyi kepakan sayap burung yang tak terlihat ekornya tertutup tirai kegelapan malam, bersamaan suara daun di pepohonan yang bergesekan. Udara dingin pun kian terasa menyayat kulit ari meski sudah tertutup kain polyester tebal.


Langkah kaki tegap namun ragu ragu, memasuki pelataran rumah joglo yang terasa sepi. Seolah bangunan itu hanyalah rumah kosong tanpa penghuni. Beberapa kali jakun naik turun menelan ludah, membasahi tenggorokan yang terasa kering.


Seorang laki laki berbadan gempal, usianya sekitar 40 tahun. Dia memakai ikat kepala bermotif batik dengan warna cokelat tua terpasang erat, melingkar di dahi. Sebuah kacamata dengan frame berbentuk kotak, nampak berkilau diterpa lampu teras rumah yang temaram.


Pak lik Kani namanya. Laki laki yang merupakan adik kandung dari Bu Sudarsih itu kini tengah berdiri di depan pintu kayu jati yang berukiran indah. Tengah malam telah terlewati, dan fajar belum menyingsing, namun dia sudah bertamu ke rumah yang terletak di tengah 'tegalan' itu.


Kemarin sore, HP Lik Kani bergetar hebat saat dirinya tengah bersantai sambil memberi makan ayam jagonya. Sebuah telpon dari Mbak Yu nya yang tengah ditimpa kemalangan. Lewat pembicaraan di telpon, Bu Sudarsih meminta tolong pada Lik Kani untuk segera menyampaikan hal penting pada Mbah Yon.


Mbah Yon merupakan salah satu sesepuh yang dipercaya oleh keluarga Bu Sudarsih. Saat anak semata wayang Bu Sudarsih mengalami kecelakaan dan tak sadarkan diri, selain pengobatan kedokteran, dia juga menghubungi Mbah Yon agar ikut membantu doa.


Lik Kani mengetuk pintu. Bunyi ketukan yang terdengar bergema memecah kesunyian. Sesekali Lik Kani memanggil nama Mbah Yon, meski tak ada yang menyahut selama beberapa waktu. Saat Lik Kani menyebut nama Mbah Yon sebanyak 5 kali berturut turut, barulah terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.


Suara batuk serak terdengar, detik berikutnya pintu terbuka. Seorang laki laki tua dengan rambut dan janggut yang putih seluruhnya menyambut Lik Kani. Ekspresinya datar, tak nampak kaget meski ada tamu yang berkunjung di waktu yang tak biasa.


"Maaf Mbah, mengganggu jam segini," ucap Lik Kani ragu ragu.


"Ya memang kalau nggak jam segini kamu nggak bakal ketemu kalau nyari aku," jawab Mbah Yon santai.


Lik Kani mengangguk. Bu Sudarsih sore kemarin memang meminta Lik Kani untuk menemui Mbah Yon di waktu setelah tengah malam terlewati namun sebelum pagi datang. Sejujurnya Lik Kani cukup heran dengan permintaan tersebut.


"Masuk," ucap Mbah Yon sambil mengamati Lik Kani yang masih diam melamun.


Suasana rumah Mbah Yon terasa suram, dengan pencahayaan yang temaram. Ruang tamu memiliki 4 tiang besar di bagian tengahnya. Kursi kayu panjang berada di bawah lampu gantung dengan sarang laba laba yang menempel penuh debu. Sebuah lemari kaca besar di sudut ruangan dengan sejumlah keris yang terpajang di dalamnya.


Lik Kani duduk di atas kursi kayu yang kelihatannya sudah berbulan bulan tak dibersihkan. Kemudian Lik Kani menyadari ada aroma wangi menyengat dari seluruh penjuru ruangan.

__ADS_1


"Kalau kamu datang ke rumah ini waktu siang hari, nggak bakalan ketemu sama aku. Rumah kosong kalau siang," ucap Mbah Yon mengambil duduk di hadapan Lik Kani.


"Mohon maaf Mbah, saya nggak faham," sambung Lik Kani kebingungan.


"He he he, yasudah nggak usah dipikirkan. Ada perlu apa kemari? Ada pesan dari Nduk Sih?" Mbah Yon tersenyum. Deretan giginya nampak hitam legam.


"Ah iya Mbah. Saya kemari dimintai tolong Mbak Yu untuk menyampaikan kalau tempatnya bukit manik manik," jawab Lik Kani. Mbah Yon manggut manggut.


"Kamu pasti penasaran, apa hubungannya bukit manik manik dengan sakitnya keponakanmu?" Mbah Yon masih tersenyum.


"Iya sih Mbah," Lik Kani mengangguk, menggaruk garuk kepalanya yang tak terasa gatal.


"He he he," Mbah Yon terkekeh. Suaranya serak disertai batuk yang terdengar bergema di ruang tamu.


"Aroma calon pengantin itu harum dan wangi. Aroma yang sangat disukai oleh bangsa lelembut. Keponakanmu apes, kecelakaan motor beberapa hari sebelum pernikahannya. Sukma nya dibawa oleh mereka yang mengincar aroma harum itu," jelas Mbah Yon dengan tatapannya yang mengawang jauh.


"Aku bisa saja mengupayakan mengajaknya kembali," Mbah Yon menghela nafas.


"Terus bagaimana Mbah?" tanya Lik Kani penasaran.


"Beberapa waktu yang lalu, aku melepas 'rewangku', mencari dimana keponakanmu berada. Intinya sih sudah ketemu. Dia sehat, dan berada di sebuah rumah. Sayangnya hanya sebatas itu. Aku nggak bisa tahu dimana posisi pasti dari keponakanmu. Banyak tempat tempat strategis, sebagai rumah tinggal 'mereka' di wilayah kita ini. Aku sudah hampir menyerah dan pasrah untuk menemukan keponakanmu yang 'Kobeng' itu. Tapi untunglah kalau ada petunjuk. Bukit manik manik," Mbah Yon mengangguk angguk.


"Berarti Purbo bisa kembali kan Mbah?" tanya Lik Kani gusar.


"Ya aku akan mencoba kesana besok. Tapi balik tidaknya keponakanmu itu, tergantung dirinya sendiri. Mau balik atau nggak?" Mbah Yon mengusap jenggotnya yang putih.


"Kok bisa begitu Mbah?" Lik Kani mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Ya bisa. Mungkin saja kan dia bahagia tinggal disana. Yang jelas masih ada cukup waktu, sebelum 40 hari," sahut Mbah Yon.


"Kalau kelewat 40 hari?" tanya Lik Kani sekali lagi.


"Ya bablas angine to Ngger," sambung Mbah Yon sedikit membentak. Lik Kani langsung terdiam.


"Tapi tenang saja, kalian itu trah dan keturunan dari Mbah Kusworo. Kakek buyutmu itu kan sesepuh di wilayah sini dulunya. Bahkan jaman babat alas dulu, Mbah Kusworo terkenal paling disegani. Jadi aku yakin keponakanmu nggak bakal mudah terbawa oleh mereka," ucap Mbah Yon meyakinkan.


"Duh Mbah, kalau mbahas Mbah buyut jaman dulu ngeri aku. Langsung merinding rasanya," Lik Kani mengusap usap lengannya yang terasa dingin.


"He he he, ya ya aku mengerti. Pasti cerita soal kematian buyutmu yang harus dipisahkan badan dan kepalanya itu kan? Sayang, anak keturunannya tak ada yang mau mewarisi ilmu ilmu nya," Mbah Yon geleng geleng kepala.


"Ilmu nya sudah diwariskan ke njenengan Mbah," sahut Lik Kani cepat.


"Aku itu hanya keturunan dari salah satu pembantu kakek buyutmu. Ilmu seperti ini seharusnya yang mewarisi langsung kalian sebagai keturunan garis darah yang asli," Mbah Yon geleng geleng kepala. Lik Kani diam tak menyahut.


"Yasudah, urusan ini biar aku yang menangani. Lusa pas waktu 'surup' kembalilah kesini dan tolong bawakan aku kembang tujuh rupa," perintah Mbah Yon kemudian.


"Baik Mbah. Ada lagi?" tanya Lik Kani memastikan.


"Satu lagi, ini nggak boleh terlewat," ucap Mbah Yon dengan ekspresi yang serius.


"Apa itu Mbah?" Lik Kani menelan ludah.


"Martabak terang bulan," bisik Mbah Yon.


"Hah?" Lik Kani mengerutkan kening.

__ADS_1


"Itu makanan kesukaanku," tukas Mbah Yon sembari tertawa lebar. Sebuah tawa yang bergema saat sinar sang surya mulai merekah kemerahan di ufuk timur.


Bersambung___


__ADS_2