KOBENG

KOBENG
Telulikur


__ADS_3

Dug dug dug dug


Sayup sayup terdengar suara ketukan. Suara yang awalnya terdengar di kejauhan. Angin pun berhembus perlahan, meniupkan hawa dingin beku yang membuat gigi gemeretak beradu.


Dug dug dug dug


Lagi, suara ketukan itu semakin mendekat. Bersama dengan suara lain yang bersahut sahutan. Ada tawa meringkik, terdengar juga seolah ada seseorang yang tengah menangis. Semua suara yang tak jelas asal usulnya itu berputar putar di gendang telinga Purbo.


"Banguunn!"


Sebuah teriakan memekakkan telinga, bersama dengan hembusan angin kencang yang menyingkap selimut tebal di kedua kaki Purbo.


"Haahhhh!" Purbo terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu, detak jantungnya berdegup dengan sangat cepat.


Purbo mengedarkan pandangan sambil menepuk nepuk dadanya sendiri. Peluh membasahi kaos lusuh yang dia kenakan. Udara begitu dingin, namun keringat tak henti mengucur melalui pori pori kulitnya.


Purbo menoleh, ternyata Dini masih tidur pulas memunggunginya. Purbo melirik HP yang tergeletak di atas meja. Layar HP masih tetap dalam keadaan terkunci. Dia menekan tombol di bagian samping kanan, hanya untuk melihat jam berapa saat ini.


Jam 12 malam tepat. Tak biasanya Purbo terbangun tengah malam. Padahal beberapa hari ini dia merasa selalu tidur dengan pulas dan tak pernah terganggu.


"Hmmm, mungkin karena aku nggak minum wedang parem ya," gumam Purbo lirih.


Purbo merasa tenggorokannya kering dan serak. Dia beranjak dari tempat tidur. Sambil sesekali menguap lebar dia menuju ke ruang tamu, mencari gelas dan kendi yang tadi terisi wedang parem.


Ternyata wedang parem masih ada di atas meja. Mungkin Mak Nah lupa membereskannya. Atau bisa juga Mak Nah teledor lagi, meski baru tadi sore Purbo marah marah padanya.

__ADS_1


Purbo meraih gelas berisi wedang parem yang sudah dingin. Awalnya Purbo berniat mengobati dahaga dengan wedang parem itu. Namun hidungnya mencium aroma busuk yang menyengat.


Air parem dalam gelas di genggaman tangan Purbo berwarna cokelat keruh, dengan bau busuk dan anyir yang tak tertahankan. Padahal sebelum tidur tadi Purbo ingat betul, wedang parem itu berwarna cokelat jernih dengan aroma jahe yang menenangkan.


Spontan Purbo meludah di lantai ruang tamu. Kemudian Purbo memeriksa ke dalam kendi. Bau busuk pun tercium dari sana. Air di dalam kendi juga sama keruhnya. Apalagi nampak serabut serabut kehitaman yang mirip rambut menempel di bagian tutup kendi.


"Uubbhhh!" Purbo menutup mulut menggunakan telapak tangan kanan. Sementara pipinya terlihat menggelembung menahan muntah.


Setengah berlari Purbo bergegas ke belakang. Dengan kasar dia mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Isi perut Purbo mendesak keluar, tak tertahankan. Tenggorokannya terasa penuh dan perih berisi cairan asam lambung.


"HOOEEKKKKK!" Purbo memuntahkan isi perutnya.


Bulir bulir nasi yang masih utuh tumpah di pelataran kamar mandi. Bola mata Purbo nampak memutih saat cairan di dalam perut keluar bersamaan. Namun, perut Purbo masih kembung dan bergemuruh. Dia merasakan begah dan isi perutnya kembali terdorong ke tenggorokan.


"Hooeekkkk!" sekali lagi Purbo muntah.


Purbo mengusap mulut menggunakan punggung tangan kanan. Perut Purbo kini terasa nyaman, tapi sekujur tubuhnya terasa lemas. Purbo menyiram dan membersihkan bekas muntahannya yang tercecer di pelataran kamar mandi.


Setelah kumur kumur dan mencuci muka, Purbo berjalan ke dapur. Dia mengambil gelas yang tertata rapi di atas rak. Kemudian menuangkan air putih yang ada di teko ke dalam gelas.


Dengan terburu buru Purbo langsung menenggak tiga gelas air putih. Kemudian dia menghela nafas lega.


"Sial! Rasanya mau pingsan!" Purbo menepuk nepuk dadanya sendiri.


Selesai minum air putih Purbo hendak kembali ke dalam kamar, namun indera pendengarannya menangkap suara suara di kejauhan. Suara ramai yang tadi mengganggu tidurnya. Suara teriakan, tawa yang meringkik dan seperti ada beberapa orang yang tengah berbincang.

__ADS_1


Purbo memicingkan mata, mempertajam pendengarannya. Suara suara aneh itu seperti berasal dari area pemukiman warga desa.


"Warga desa sedang apa sih tengah malam begini? Pesta? Atau ada hajatan?" Purbo mengernyitkan dahi.


Sambil menepuk nepuk perutnya yang masih terasa sedikit begah, Purbo berjalan kembali ke kamar. Awalnya dia hendak mengacuhkan suara suara aneh yang terdengar. Purbo kembali merebahkan badannya di samping Dini yang tidur dengan posisi miring memunggunginya. Namun mata Purbo sulit untuk terpejam, kantuknya telah hilang. Berganti dengan rasa penasaran di dalam benaknya. Sedang apa warga desa Ebuh di tengah malam yang beku?


Jam 1 tepat, suara suara dari wilayah pemukiman warga desa semakin kencang, semakin riuh dan ramai. Gelak tawa tak pernah terputus. Sesekali terdengar pula siulan secara bersamaan. Mata Purbo semakin menolak untuk terpejam.


Sekitar lima belas menit berikutnya, tiba tiba saja suara suara itu menghilang. Beberapa saat lamanya suasana malam berubah sepi dan sunyi. Purbo berpikir mungkin hajatan sudah usai. Dia menarik selimut di sudut ranjang, berusaha untuk tidur kembali. Namun ternyata dugaan Purbo salah. Sesaat setelah dia memasukkan tubuhnya ke dalam selimut, terdengar suara gong dipukul bergema memecahkan kesunyian. Disusul suara kendang dan beberapa alat musik mengalun berirama.


Purbo kembali menyingkap selimut di tubuhnya. Dia duduk di atas tempat tidur, mendengarkan alunan musik di kejauhan. Suara orang tertawa meringkik kembali terdengar. Suara orang yang berbincang bincang pun semakin kencang.


Di dorong rasa penasaran, Purbo menyambar jaket di gantungan baju. Tak lupa memasukkan HP di saku celananya, dan mengambil senter yang tergeletak di dalam laci lemari.


Purbo berjingkat keluar kamar, takut mengganggu tidur istrinya. Dia menuju ke ruang tamu dan bergegas membuka pintu. Udara beku berhembus, menerpa wajah Purbo. Bukan ide yang bagus keluar rumah pada malam hari di desa Ebuh. Suhu dingin benar benar menguliti tubuh Purbo.


Di antara pekatnya kabut, nampak sinar berpendar kemerahan di pemukiman warga desa. Musik terus mengalun, menghiraukan udara dingin yang mampu membuat Purbo menggigil.


Didorong rasa penasaran di hati, Purbo merapatkan jaket di tubuhnya. Dia menutup pintu dengan perlahan. Kemudian berjingkat meninggalkan halaman rumah, menyusuri jalanan menuju pemukiman warga desa Ebuh. Berbekal senter di tangan, Purbo terus melangkahkan kakinya.


Suara gong kembali terdengar. Suara alat musik pun menyusul dengan lebih semarak. Purbo semakin yakin sedang ada pesta atau hajatan besar di pemukiman warga. Purbo tak mau ketinggalan. Salah satu cara bersosialisasi di masyarakat adalah dengan hadir pada kegiatan pesta ataupun hajatan, begitu pikir Purbo.


Semakin mendekati pemukiman warga desa Ebuh, kabut terlihat semakin memudar, tak setebal di halaman depan rumah Purbo tadi. Cahaya kemerahan semakin jelas pula terlihat. Ada asap hitam mengepul di langit malam.


"Waahh, ada semacam api unggun kah?" Purbo bergumam, sambil terus mengayunkan kakinya semakin cepat dan bersemangat. Dia tak sabar ingin segera bertemu dengan warga desa dan menyaksikan hajatan besar yang telah mengganggu jam tidurnya itu.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2