
Kamar Mak Nah luasnya tak jauh berbeda dengan kamar utama milik Purbo. Terdapat sebuah ranjang di ujung kamar dengan sprei berwarna putih lusuh. Lemari kayu berukuran besar bersandar di sudut kamar, nampak beberapa sarang laba laba dan debu yang menumpuk.
Mata Purbo tertuju pada bagian tengah ruangan. Ada sebuah meja kayu dengan alas tikar dari pandan. Aroma tikar yang khas menyeruak di ruangan tanpa ventilasi itu.
Di atas meja nampak sebuah nampan lebar yang terbuat dari seng. Ada beberapa benda yang tertata rapi di nampan. Pecahan genteng dengan kemenyan yang terbakar separuh. Taburan bunga warna warni juga berserak disana.
Beberapa bunga dengan warna putih yang mendominasi. Beberapa tangkai mawar putih pucat, kembang kantil yang masih kuncup belum mekar, juga bunga melati dengan aroma semerbak bercampur aroma tikar pandan yang menyengat.
Ada satu lagi benda kecil yang menarik perhatian Purbo. Letaknya di samping pecahan genteng. Sebuah cawan dari tanah liat dengan cairan hitam di dalamnya. Purbo berjalan mendekat, dan mencelupkan telunjuk kanannya ke dalam cawan.
Sensasi basah lengket seperti minyak membuat Purbo sedikit jijik. Pencahayaan lampu yang temaram membuat Purbo susah memastikan warna cairan yang disentuhnya itu. Tapi dari rasa lengket serta baunya yang anyir Purbo dapat menebak cairan itu adalah darah.
Purbo mengusap usapkan telunjuknya pada celana kolor yang dia kenakan. Kini dia berjalan mendekat pada lemari kayu di sudut kamar. Lemari dalam keadaan tidak terkunci. Dengan kasar Purbo membuka lemari itu.
Di dalam lemari, hanya ada beberapa lembar baju dengan model yang sama. Motif bunga bunga berwarna gelap sepertinya merupakan favorit Mak Nah. Purbo juga menemukan sebuah kotak kayu yang sepertinya tempat menyimpan benda benda berharga. Mungkin perhiasan atau emas tertumpuk di dalamnya.
Perlahan Purbo membuka kotak kayu tersebut. Ternyata dugaan Purbo keliru. Bukan benda berharga yang dia temukan. Melainkan gulungan kain berwarna putih dengan bercak bercak tanah kecokelatan.
Gulungan kain dibuka oleh Purbo. Ada beberapa potong kecil kain kain putih yang terlihat seperti sebuah tali. Aroma bunga yang harum juga tercium dari lembaran lembaran lusuh itu.
"Kain pembungkus mayat? Kain kafan kah?" gumam Purbo sendirian. Keringat dingin mengalir di pelipisnya yang terasa berdenyut. Rasa takut mulai menjalar dari lubuk hati dan menyebar, membuat tubuh Purbo semakin lemah seolah kehilangan tenaga.
Di bawah gulungan kain ada satu lembar kertas berwarna cokelat tua. Purbo membukanya dengan tergesa gesa. Seperti sebuah surat, namun dengan aksara jawa yang ditulis dengan tinta hitam yang sedikit luntur.
__ADS_1
Purbo kesulitan membaca aksara jawa. Hanya ada beberapa aksara yang dia kenali. Purbo memperhatikan beberapa aksara yang tertulis di akhir paragraf.
"Ma ga ba. . .ini ba," ucap Purbo sambil berpikir.
"Pa dha ja ya. Ya dengan apa ini yang kecil, wulu. Berarti dibaca Yi," Purbo mencoba mengeja.
"Ba lagi terus ini apa ya ini. Sial," Purbo menggerutu sendiri.
"Oohhh, ini Ja," pekik Purbo setelah beberapa saat mengingat ingat.
"Terus ini sandhangan cecak. Berarti Ng mati. Jang. Ba Yi Ba Jang. Bayi Bajang? Apa maksudnya?" Purbo mengernyitkan dahi. Tak mengerti dengan kalimat yang terbaca. Atau mungkin bisa saja dia salah baca. Dalam hati Purbo juga merasa heran, bagaimana bisa dia mengenali aksara jawa meskipun hanya sedikit?
Dalam kebimbangan, pada akhirnya Purbo menyerah untuk mengartikan dan menerka nerka aksara jawa yang tertulis di secarik kertas itu. Dia memasukkan kembali kertas dan gulungan kain ke dalam kotak, kemudian meletakkannya dalam lemari, di tempat semula.
Sekuat tenaga Purbo menghantamkan gandhen di tangannya ke pintu. Bunyi berdebum bergema di dalam rumah. Purbo terus menerus menghantamkan palu besar itu tanpa ampun. Hingga akhirnya pintu berhasil dijebol.
Purbo melemparkan begitu saja gandhen di tangannya. Dia mengatur nafasnya yang tersengal. Peluh mengucur membasahi punggungnya yang bidang.
Kini kamar rahasia itu telah terbuka. Tak terlihat apapun di dalamnya. Hanya ada kegelapan yang pekat. Indera penciuman Purbo menangkap bau lumut dan lumpur. Dia mengendus endusnya, dan merasa familiar dengan aroma tersebut.
Perlahan Purbo melangkahkan kakinya dalam kegelapan. Kedua matanya mengerjap ngerjap, mencoba mencari setitik cahaya dalam ruangan tanpa ventilasi itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya indera penglihatan Purbo mulai terbiasa dalam pekatnya kegelapan. Ruangan itu kosong. Tak ada perabotan apapun. Hanya ada sebuah kotak kardus berpita di tengah ruangan. Kotak yang sedikit penyok di bagian sisinya.
__ADS_1
Purbo mengambil kotak itu dan membawanya keluar. Dalam pencahayaan ruang tamu, dapat terlihat jelas kotak itu sama seperti kotak yang dilihat Purbo dalam mimpinya saat tertidur di waktu surup.
Pantas saja Purbo tidak asing dengan aroma lumpur dari kotak itu. Aroma lumpur yang sama dengan bau rawa dalam mimpi Purbo. Meski Purbo dapat menebak isi kotak, tetap saja dia penasaran untuk membukanya.
Benar saja, setelah kotak terbuka isinya sama persis dengan yang ada dalam mimpi. Selembar kertas ucapan selamat untuk pernikahan yang akan dilangsungkan, beserta foto Purbo dan seorang perempuan cantik serta sebuah gaun pengantin.
Selain benda benda itu, ternyata di dasar kotak ada benda lain yang memantik rasa penasaran Purbo. Sebuah buka KIA berwarna merah muda, dengan identitas tertulis rapi di bagian bawah Sekar Dyah Lestari.
Purbo membuka buku KIA tersebut. Ada beberapa tulisan yang terbaca. Terdapat catatan pemeriksaan kandungan yang rutin, dan usia kehamilan yang sudah mencapai 8 bulan. Ada pula hasil USG yang mengatakan bayi dalam kandungan, berjenis kelamin laki laki.
Di bagian biodata hanya tertulis Nn. Sekar Dyah Lestari, tanpa ada nama laki laki atau suami. Usia Sekar 24 tahun, berasal dari desa W kecamatan G. Bukan dari desa Ebuh.
"Siapa Sekar? Kenapa buku prmeriksaan kehamilan ini bercampur dengan gaun pengantin? Dan foto ini?" Purbo semakin bingung.
"Atau jangan jangan yang selama ini bersamaku, kukira istriku, itu bukan Dini? Mungkinkah dia Sekar?" gumam Purbo dengan tangan gemetar. Dia takut jika praduganya itu benar.
"Kalau tidak salah Jasman tadi mengatakan kalau aku berbeda karena masih hidup. Itu artinya semua warga Desa Ebuh bukan makhluk hidup? Bukan manusia?" Purbo membanting buku merah muda di tangannya.
"Aku harus segera pergi dari desa ini. Sial sial sial! Tempat macam apa ini?" pekik Purbo dengan suara parau menahan tangis.
Purbo merasa telah dibohongi, dijebak dan disesatkan. Purbo masih belum ingat apapun soal dirinya. Karena itu dia merasa harus segera pergi menjauh dari desa Ebuh agar bisa mengingat kembali semua hal yang dia lupakan.
Purbo berlari masuk ke dalam kamar, menyambar kunci mobil yang tergantung di atas meja rias.
__ADS_1
Bersambung___