
Langkah kaki gontai menapaki tanah lembab dengan daun bambu kering berserakan. Semilir angin malam begitu dingin menyentuh kulit ari di lengan yang terbuka. Kabut tak jua hilang, masih berpendar mencipta sensasi basah setiap melewatinya.
Masih terdengar jelas suara gamelan yang ditabuh. Merdu, dan berirama, sekaligus membawa sensasi horor tersendiri. Purbo terus berjalan, menjauh dari rumah sang kepala desa Ebuh meski belum menentukan tujuan hendak kemana dirinya pergi.
Suara berderak sesekali bergema, saat rumpun bambu bergerak tertiup angin. Pohon yang tak bercabang itu saling menindih dan bergesekan menghalangi cahaya rembulan untuk menerangi pijakan kaki Purbo. Sesekali Purbo tersandung dan terantuk. Tanpa pencahayaan, cukup sulit berjalan melewati medan yang tersusun atas bebatuan terjal itu.
Purbo sampai di pasar desa. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada kesunyian, dan beberapa ekor kucing hitam yang tengah berlarian di bangunan kios. Purbo merogoh saku celana. Membuka liontin dan menatap foto perempuan cantik yang terpasang di dalamnya.
"Aku masih belum mengingatmu," gumam Purbo lirih. Dia berusaha mengingat perempuan dalam foto, namun malah wajah Sekar yang muncul di benaknya. Tahi lalat yang ada di ujung hidungnya yang mancung, juga suara lembut yang beberapa waktu terakhir membuat dada Purbo berdebar.
"Aku mungkin sudah gila," Purbo menghela nafas. Dia kembali melangkahkan kakinya yang jenjang.
Melewati area pasar yang sepi, Purbo kembali menghentikan langkahnya di depan sebuah gang kecil. Gang yang menuju warung rawon langganannya. Ajeng terlihat berdiri disana, seolah sudah tahu kalau Purbo akan lewat di hadapannya.
"Ajeng?" pekik Purbo sedikit terkejut.
"Aku yakin kamu akan memilih pergi dari tempat itu," ucap Ajeng datar.
"Apa maksudmu? Kamu menungguku? Kenapa tidak ikut berpesta dengan 'bangsamu' itu?" tanya Purbo sinis. Ajeng hanya menggeleng pelan.
"Atau kamu memang ditugaskan oleh Mbah Modo untuk mencegatku dan membujukku agar tinggal di desa ini?" Purbo memberondong Ajeng dengan pertanyaan.
"Aku menunggumu disini karena aku merasa memiliki kewajiban untuk menjelaskan kenyataan tentang desa ini," sahut Ajeng.
"Halaahh, aku sudah tahu. Mak Nah sudah menceritakannya padaku," bantah Purbo.
"Kenyataan desa ini versi warga asli dengan versi pendatang tentu beda Purbo!" Ajeng membentak.
__ADS_1
Purbo langsung terdiam. Teringat foto yang dia temukan di halaman depan rumah. Juga koran keluaran lama yang dia baca di ruang tamu.
"Kamu, perempuan yang ada di koran?" tanya Purbo setelah beberapa saat terdiam.
"Calon pengantin memang seharusnya tidak diperbolehkan bepergian. Sehari sebelum pernikahan, nasib buruk menimpaku. Ada orang yang membenci calon suamiku. Aku yang kena dampaknya, aku terbunuh pagi itu," Ajeng menghela nafas.
"Calon pengantin itu beraroma wangi Purbo, bagi bangsa mereka. Bagi Jasman, Mak Nah, Mbah Modo," lanjut Ajeng.
"Jadi, kamu juga tersesat sepertiku? Kobeng?" tanya Purbo. Cerita Ajeng benar benar membuatnya terkejut.
"Tidak. Tapi aku sama seperti Sekar. Datang ke desa ini secara sukarela karena tidak tahu lagi tempat mana yang harus aku tuju. Dalam kebingungan, selama 40 hari aku diurus Mak Nah di rumah itu. Rumah yang sekarang kamu tempati," jelas Ajeng. Dia bersedekap merasakan udara malam yang semakin terasa beku.
"Rumahku? Rumah yang ada di ujung desa itu?" Purbo mengarahkan telunjuknya, memastikan tempat yang dimaksud. Ajeng mengangguk yakin.
"Rumah itu adalah tapal batas. Batas dunia ini dengan dunia sana. Sebelum 40 hari dilalui, setiap yang mau tinggal di desa Ebuh harus berdiam di rumah itu dulu. Mak Nah adalah rewang Mbah Modo. Dia adalah pengurus, seorang 'emban' yang bertugas 'ngopeni' dan mempersiapkan yang mau menetap di desa Ebuh. Selama 40 hari lamanya aku beradaptasi dengan makanan, kebiasaan, pantangan dari desa ini," Ajeng menjelaskan sambil menatap Purbo.
"Jasman asli warga desa Ebuh. Salah satu yang tertua," jawab Ajeng.
"Jasman hanya tidak mau desa Ebuh kelak dipimpin oleh keberadaan dari luar desa. Bukan karena dia ingin berkuasa. Dia hanya tidak setuju dengan rencana kelahiran bayi Bajang. Desa ini tenteram, dan damai sebelum kedatangan kalian," lanjut Ajeng. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
"Maksudmu aku dan Sekar?" tanya Purbo
"Iya, siapa lagi. Aku hanya ingin tinggal di desa dengan tenang. Maka keputusanmu untuk pergi kini sebuah kabar bahagia untukku. Sayangnya, kamu tak mengajak serta istrimu itu," Ajeng mendengus kesal.
"Sekar bukan istriku! Aku tak ada kaitan dengannya," bantah Purbo.
"Jadi itu alasanmu tak ikut dalam perayaan? Lalu dimana Jasman?" Purbo celingukan mencari sosok suami Ajeng.
__ADS_1
"Entahlah. Mungkin dia sudah dihukum. Bernasib sama dengan Ceking. Siapa yang tahu?" Ajeng mengangkat kedua bahunya.
"Kalau begitu, bukankah lebih baik ikut denganku pergi dari sini?" Purbo mengernyitkan dahi.
"Hah? Mau kemana lagi? Rumahku sekarang adalah desa Ebuh. Lagipula aku tidak peduli dengan Jasman. Sudah kukatakan aku hanya butuh kehidupan yang damai. Sendiri pun aku mampu," Ajeng tersenyum masam.
"Apa kamu tahu, bagaimana cara agar bisa kembali pada keluargaku yang sebenarnya?" tanya Purbo. Dia berharap Ajeng tahu cara untuknya kembali.
"Maaf, aku tak tahu apapun soal itu," Ajeng menggeleng pelan. Purbo menghela nafas.
"Satu pesanku Purbo," Ajeng kembali menatap Purbo dengan sorot matanya yang tajam.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah mencoba kembali lagi kemari. Ada harga yang harus dibayar saat kamu masuk ke desa Ebuh. Itupun kalau kamu benar bisa keluar," Ajeng tersenyum, kemudian berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam gang. Meninggalkan Purbo yang masih berdiri terpaku kebingungan.
"Sial! Ndak jelas banget. Apa maksudnya sih?" gumam Purbo jengkel.
Setelah kepergian Ajeng, Purbo kembali berjalan menyibak kabut tebal yang bergerak pelan menyelimuti pemukiman warga. Sungguh malam yang sunyi. Hanya ada suara dedaunan kering yang terinjak oleh kaki Purbo.
Rumah warga desa yang berdiri berjejer di tepi jalan nampak gelap tanpa pencahayaan sama sekali. Rumah rumah joglo lawas dengan beberapa sarang laba laba bergelantungan di bagian atapnya. Warna genteng terlihat abu abu, tertimpa kabut yang menghalangi cahaya rembulan.
Di salah satu rumah, di bagian halamannya terlihat sebuah kandang besar dari kayu. Seekor kera kurus meringkuk di bagian sudutnya. Kera itu memandangi Purbo yang tengah berjalan di hadapannya. Kera itu mengeluarkan suara jeritan yang parau, seolah meminta untuk dilepaskan. Suara mengiba yang bergema di tengah kesunyian desa.
Purbo tetap berjalan, mengacuhkan teriakan dari sang kera. Hewan primata itu masih tetap bersuara, menjerit, meski tubuhnya tak bergerak. Mata bulat cokelat itu, memperhatikan punggung Purbo yang berjalan semakin jauh, hingga hilang ditelan kegelapan.
Malam semakin larut. Warga desa Ebuh melanjutkan pestanya yang meriah, menyambut kelahiran bayi yang digadang gadang sebagai calon pemimpin desa yang kuat. Sulung Ankawijaya, itulah namanya. Nama yang kelak tersohor di dua dunia.
Bersambung___
__ADS_1