
Wajah pucat membiru dengan bola mata yang menonjol keluar. Mulut penuh liur dengan suara desis dan geraman yang mengerikan. Sani masih duduk di depan api unggun, memunggungi Asrofi yang ketakutan hingga jatuh terjengkang di tanah.
Selama beberapa saat lamanya, Asrofi tak mampu bergerak. Tubuhnya terasa kaku, pun otot otot di kakinya terasa kehilangan tenaga. Lidahnya kelu. Dia ingin berteriak namun suara seakan terjebak di tenggorokannya.
Sedikit demi sedikit Asrofi menyeret tubuhnya sambil tetap memandangi Sani yang tak bergeming di depan api unggun. Asrofi berhasil masuk tenda. Dan segera membangunkan rekan rekannya.
"Ada apa sih? Sudah pagi?" tanya Yolla dengan wajah bantal, rambut panjangnya nampak kusut.
"Si si Sani. Sani," Asrofi tergagap. Sekujur tubuhnya gemetar.
"Hei tenanglah. Nyebut As," Laila menepuk pundak Asrofi. Tepukan yang membuat sang ketua club sedikit lebih tenang.
"Sani kerasukan," bisik Asrofi.
"Astaghfirullah," pekik Laila dan Nita bersamaan.
"Ini pasti gara gara mulutnya yang nggak ada saringan itu!" Yolla geleng geleng kepala.
"Terus gimana ini?" tanya Hasan khawatir. Dia masih duduk di atas kasur lantai. Kedua kakinya masih meradang, sulit untuk digerakkan.
"Lai, kamu kan yang paling tahu hal ginian. Gimana caranya menyadarkan Sani?" tanya Asrofi menatap Laila.
"Sumpah aku nggak ngerti apa apa soal beginian," jawab Laila.
"Terus gimana dong?" Nita terlihat panik. Dia menggigiti kuku tangannya sendiri.
"Oke tenang. Begini saja, kalian semua awasi si Sani. Aku coba ke masjid terdekat, tak minta tolong ke takmir masjid buat manggil ustad atau siapa gitu yang ngerti," ucap Asrofi memberi ide.
"Hah? Yang benar saja? Masjid cukup jauh dari sini. Kamu mau kabur sendirian?" protes Yolla.
"Plis lah Yol, aku nggak mungkin seperti itu. Atau kita bertukar tugas kalau gitu. Kamu yang ke masjid, aku yang disini. Gimana?" tantang Asrofi kesal.
"Jam berapa sih sekarang?" tanya Yolla.
"Jam 11 lebih," sahut Laila melirik arloji di tangan kirinya.
__ADS_1
"Ogah ah. Tengah malam motoran sendirian di tengah desa gini? Serem!" Yolla merangkul Laila.
"Yasudah kalau gitu, nurut. Kalian awasi Sani. Aku pergi sebentar," Asrofi menyambar helm di sudut tenda.
"Cepet balik!" bentak Yolla dan Nita bersamaan.
"Iyaaaa. Hasan, aku titip teman teman ya. Aku tahu kamu capek, tapi mau gimana lagi," pesan Asrofi pada Hasan.
Hasan sedikit ragu, namun tetap mengangguk. Tak ada pilihan lain. Meskipun sebenarnya mustahil bagi Hasan bisa menjaga teman temannya disaat kaki sulit digerakkan karena meradang.
Asrofi keluar tenda. Dia berjalan berjingkat meninggalkan Sani yang masih tak bergeming di depan api unggun. Asrofi mendorong motor matic yang terparkir di samping tempat tenda berdiri. Setelah dirasa cukup jauh, barulah dia menghidupkan motor dan menarik gas dalam dalam.
Jalanan pedesaan di tengah malam benar benar sepi. Lampu penerangan yang minim juga mengakibatkan beberapa kali roda depan motor Asrofi menghantam lobang jalan yang menganga. Ditambah udara dingin yang terasa menguliti tubuh meskipun sudah berbalut jaket tebal.
Tempat Asrofi dan kawan kawannya mendirikan tenda berada di tanah lapang samping balai desa. Sebenarnya di sebelah balai desa berdiri dua rumah warga. Sayangnya selama 5 hari rumah tersebut kosong, karena semua penghuninya tengah mengikuti rombongan ziarah.
Motor Asrofi menyusuri jalanan beraspal rusak yang berada di tengah kebun jagung. Setelah kebun jagung itu barulah berdiri pemukiman warga, juga masjid desa yang menjadi tujuan Asrofi. Jarak antara balai desa dengan pemukiman warga tak lebih dari tiga kilometer.
Asrofi memperhatikan speedometer motornya. Dengan kecepatan yang tertera 80 kilometer per jam, seharusnya tak lebih dari 5 menit dia sudah sampai di pemukiman warga. Entah berapa tikungan yang sudah dia lewati, Asrofi merasa terlalu lama dia berkendara dan tidak juga sampai di tempat tujuan.
"Astaga, ada yang nggak beres," ucap Asrofi. Dia menghentikan motor di tepi jalan.
Beberapa kali Asrofi menarik nafas, mencoba untuk tetap tenang. Dia merogoh saku celananya. Sebuah senter kecil seukuran ibu jari dinyalakan. Kemudian Asrofi meletakkan senter itu di tepi jalan.
Asrofi kembali menarik gas motor maticnya. Membelah pekatnya kegelapan ladang jagung. Sesekali terdengar suara burung hantu di kejauhan. Asrofi tak mau menoleh, dia fokus memperhatikan jalanan di hadapannya.
Beberapa menit berkendara, Asrofi kembali melihat cahaya lampu senter miliknya yang tergeletak di tepi jalan. Dugaan Asrofi benar. Dia hanya berputar putar di sekitar ladang jagung.
"Astaghfirullah," Asrofi kembali menghentikan motornya.
Angin bertiup lirih, kian larut udara semakin terasa beku. Bunyi batang batang jagung yang bergesekan menambah suasana semakin mencekam.
"Ya Allah tunjukkan jalan Mu. Bismillahi Tawakaltu Alallah," Asrofi memejamkan mata sebentar, dan menarik nafas dalam dalam. Kemudian, dia kembali menarik gas motor maticnya.
Sementara itu dari dalam tenda, Laila dan Yolla mengintip keluar. Sani masih diam tak bergeming di depan api unggun. Setengah jam berlalu, dan belum ada tanda tanda Asrofi kembali. Semua orang mulai gusar.
__ADS_1
"Si Asrofi mana? Jangan jangan dia kabur?" bisik Yolla.
"Nggak mungkin. Aku hafal betul dengan sifat ber tanggung jawab dari ketua kita," sahut Hasan meyakinkan.
"Lha ini buktinya, nggak balik balik. Jarak tempat ini ke masjid paling juga 5 sampai 10 menit. Sudah setengah jam lho ini. Brengs*k!" Yolla nampak kehilangan kesabaran.
"Lai, kamu yakin nggak tahu cara ngusir yang kayak gini? Di antara kita semua, kamu yang paling ngerti beginian," Nita merengek pada Laila. Dia terlihat hampir menangis.
"Aku hanya suka baca baca. Aku hanya tahu sedikit, bukan ahli. Kita harus tetap tenang. Setahuku, makhluk yang merasuki si Sani juga nggak bakal bisa menyakiti kita kok. Kita tetap bareng bareng disini, dalam tenda, sambil mengawasi Sani. Kita hanya bisa menunggu Asrofi, atau kemungkinan paling buruk kita tunggu sampai terbitnya matahari," ucap Laila mencoba menenangkan teman temannya.
"Matahari terbit? Masih lama Laiii. Mana aku kebelet pipis pula," gerutu Yolla.
"Tahan Yoolll," sahut Laila.
"Coba lihat lagi keluar, Sani masih di depan api unggun kan?" tanya Hasan tiba tiba.
Yolla sedikit membuka bagian pintu tenda berbahan polyester itu. Dia mengintip keluar ke arah api unggun. Betapa kagetnya Yolla, Sani tidak ada di tempat duduknya tadi.
"Gaes, Sani ilang!" pekik Yolla tertahan.
"Hah? Serius?" Laila ikut melongok keluar. Benar saja, Sani tak ada di sekitar api unggun.
"Lai, periksa keluar dong!" perintah Yolla pada Laila.
"Biar Hasan saja. Dia kan cowok," Laila menoleh ke Hasan.
"Serius gaes, aku nggak sanggup untuk berdiri. Masih sakit banget betisku," keluh Hasan.
Laila mendengus kesal. Dengan terpaksa dia keluar dari tenda. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia mengedarkan pandangan, mencari dimana sosok Sani berada.
"Laii, coba panggil Sani," bisik Yolla dari dalam tenda.
"San Saniii," ucap Laila ragu ragu.
"Yang kenceengg," perintah Yolla lagi.
__ADS_1
Laila kesal sebenarnya, kenapa dia yang harus dikorbankan berdiri di luar tenda. Saat dia hendak membuka mulut memanggil Sani sekali lagi, matanya menangkap gerakan berayun di atas pohon mangga tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bersambung___