KOBENG

KOBENG
Sewidak Loro


__ADS_3

"Kamu sama seperti aku? Disesatkan oleh Mak Nah dan desa ini Sekar?" pekik Purbo, menatap Sekar dengan bola matanya yang bulat.


"Sama sepertimu sebagai pendatang di desa ini Mas. Namun aku tidak pernah merasa disesatkan. Aku bahagia bisa diterima di desa yang tenteram ini," jawab Sekar kalem.


"Bukankah semua kebahagiaan di desa ini semu? Hanya omong kosong untuk menjebakmu. Padahal keluargamu di luar sana menunggu kedatanganmu," bantah Purbo.


"Tidak Mas. Aku hanyalah aib bagi keluarga. Aku yang hamil tanpa laki laki yang mau bertanggungjawab hanya membuat keluargaku malu. Aku tak lagi diterima oleh Bapak Ibukku. Sedangkan di desa ini, Mak Nah dan yang lainnya menyambutku dengan tangan terbuka. Mereka begitu menghargaiku, juga anakku," Sekar tersenyum. Wajah yang selalu terasa teduh dan kalem di mata Purbo.


"Lagipula Nyonya sudah tidak bisa kembali ke dunia sana Tuan," sela Mak Nah.


"Apa maksudnya?" Purbo mengernyitkan dahi.


"Aku sampai di desa ini setelah mengalami kecelakaan mobil, dan raga kasarku sudah tidak ada Mas. Aku tidak tersesat, tidak lupa asal usulku, tidak kobeng sepertimu. Mak Nah dan Mbah Modo mengulurkan tangannya padaku di hari ke 7. Aku dibutuhkan di desa ini," jawab Sekar setelah menghela nafas pelan.


"Lalu, mengapa kalian mencoba menipuku? Membuat cerita seolah olah aku adalah suamimu Sekar?" Purbo melotot.


"Saat melihatmu pertama kali, kamu yang 'kosong' tak punya arah ataupun tujuan membuatku iba Mas. Aroma mu wangi, sorot matamu meneduhkan, dan aku merasa kamu orang yang baik," mata Sekar terlihat berkaca kaca.


"Aku yang mengusulkan pada Nyonya untuk memberi Njenengan sebuah tujuan. Nyonya pun setuju. Nyonya benar benar jatuh cinta pada Tuan sejak pandangan pertama," sela Mak Nah, membuat Sekar sedikit tersipu.


Purbo menjatuhkan badannya di kursi. Segala penjelasan Mak Nah dan Sekar sulit untuk dia percaya.


"Kalaupun sukma Mas tidak tersesat di desa Ebuh, mungkin Mas juga akan terdampar di tempat lain. Pada dasarnya banyak tempat lain yang serupa dengan desa Ebuh, yang bisa membuat Mas Kobeng. Jika dalam waktu 40 hari Mas tidak juga bisa mengingat siapa Mas sebenarnya, maka selamanya Mas akan Kobeng," ucap Sekar lirih.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang agar bisa kembali pada keluargaku yang sesungguhnya?" tanya Purbo kebingungan.


"Kami tidak bisa membantu apapun Tuan. Semua tergantung dengan diri Njenengan sendiri. Kalaupun Njenengan tidak kembali, bukankah desa ini bisa memberikan semuanya? Tidak akan ada kesedihan jika Njenengan tinggal disini. Bersama Nyonya, kebahagiaan Njenengan akan langgeng. Apalagi ada seorang putra sehat yang akan mengisi hari hari Njenengan. Sebuah kebahagiaan yang belum tentu bisa Njenengan dapatkan di luar sana," ujar Mak Nah. Kata kata yang keluar dari perempuan tua itu manis, dan membuai hati Purbo dengan janji kebahagiaan.

__ADS_1


"Tidak Mak. Aku menolak percaya padamu. Bagaimanapun, kamu dan Sekar telah menipuku. Tidak ada kebahagiaan yang langgeng diawali dengan sebuah tipu muslihat," bantah Purbo.


Terdengar langkah kaki memasuki kamar. Mbok Yem menggendong bayi mungil berkulit bersih. Bayi itu sudah tak lagi menangis. Dipeluk rasa hangat oleh kain jarit berwarna cokelat bergambar harimau pemberian dari Mbah Modo.


Mbok Yem meletakkan bayi laki laki itu di dada sang ibu. Setitik air mata hangat menetes di bola mata jernih milik Sekar.


"Siapa namu bayi ini Non?" tanya Mbok Yem.


Sekar mengalihkan pandangan, menatap Purbo yang masih duduk di hadapannya.


"Mas, tolong beri bayi ini sebuah nama," ucap Sekar memohon.


"Aku tidak punya hak Sekar. Aku bukan orangtuanya," jawab Purbo memalingkan wajah.


"Dia memang bukan anakmu Mas. Tapi dengan memberinya sebuah nama, dia bisa mewarisi sifat dan sikap baikmu," pinta Sekar memelas.


"Kamu orang yang baik Mas. Se marah marahnya kamu, bahkan seperti saat ini aku tahu kamu begitu kecewa namun kamu masih tetap bersabar dan tak pernah kasar kepadaku," Sekar tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat dada Purbo berdesir pelan.


"Bagaimana kalau Ankawijaya?" tanya Purbo kemudian. Hatinya yang lembut telah luluh dengan sikap Sekar yang kalem.


"Kejayaan pertama, itu artinya. Nama yang bagus. Njenengan pintar Tuan," Mak Nah manggut manggut.


"Oh ya? Entah kenapa nama itu terbersit di benakku," Purbo garuk garuk kepala.


"Sulung Ankawijaya. Namamu bagus Nak," ucap Sekar membelai lembut pipi anaknya.


Di saat bersamaan, terdengar gong ditabuh dan diikuti suara gamelan yang merdu. Pesta yang dipimpin oleh Mbah Modo telah dimulai.

__ADS_1


"Mas?" panggil Sekar lirih. Purbo menoleh dalam diam.


"Kalau memang kamu ingin pergi, silahkan Mas. Aku tidak akan menghalangimu. Bersama bayi kecilku ini, aku yakin bisa bahagia meski sebenarnya terasa berat untuk melepasmu," Sekar menangis. Ujung hidungnya yang runcing terlihat memerah.


"Jika Tuan pergi dari sini, kami tidak yakin Njenengan bisa kembali ke tempat asal. Bisa jadi Njenengan Kobeng di tempat lain. Apalagi aroma wangi dari tubuh Njenengan memang mampu menarik 'bangsa' kami," Mak Nah menatap Purbo tajam.


"Aku tetap akan pergi," ujar Purbo, tekadnya telah bulat. Dia yakin ada keluarga yang menunggu kepulangannya di luar sana.


"Maafkan aku Sekar. Aku akan pergi. Jujur menurutku kamu perempuan yang baik. Mungkin jika dari awal pertemuan kita berkenalan dengan cara yang benar, tanpa kamu harus membohongiku kita bisa berteman dan memiliki ikatan hubungan yang lebih baik dari saat ini," Purbo menghela nafas.


"Maafkan aku Mas. Aku hanya ingin memiliki seorang laki laki bertanggung jawab di sampingku. Aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah kudapatkan di dunia sana dahulu," Sekar menangis, air matanya jatuh menetes di pipi bayi mungil dalam dekapannya.


Purbo tetap melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Dia sudah memantapkan hatinya, tak boleh ada keraguan. Tidak ada kebaikan dalam sebuah dusta, tidak ada kebahagiaan di atas kebohongan.


"Tuan yakin dengan keputusan ini?" tanya Mak Nah sekali lagi saat Purbo sudah berada di luar bilik.


"Aku nggak bisa percaya dengan kalian. Meski aku nggak tahu harus kemana, aku tetap ingin keluar dari desa ini," jawab Purbo tanpa menoleh.


Baru beberapa saat Purbo melangkah, dia berhenti kembali. Tiba tiba Purbo teringat sesuatu.


"Jika kalian tidak berniat membuatku tersesat, lalu kenapa Ceking harus dihukum?" tanya Purbo.


"Ooh, padahal Njenengan berniat pergi dari desa ini tapi masih memikirkan warga desa yang tidak pernah Njenengan kenali. Njenengan memang orang baik," Mak Nah terkekeh.


"Jawab aku Mak. Kenapa kalian menghukum Ceking? Lalu, waktu itu aku juga melihat wajah Jasman penuh luka gores. Apa kalian masih membohongiku?" Purbo kali ini menoleh dan langsung dikejutkan dengan penampakan sosok yang ada di hadapannya.


Bersambung___

__ADS_1


Holla gaes. Maaf banget ya 3 hari nggak menyentuh KOBENG. Baru sembuh dari meriang (merindukan tatih tayang). Ada kesibukan juga yang harus diselesaikan. Yang pasti KOBENG akan ditulis sampai tamat kok. Doakan tetap sehat, semuanya lancar, agar lebih lancar juga ide ide nya. Pokoknya buat kalian yang masih baca KOBENG thank you so much. Kalian luaarr biaasaaa


__ADS_2