KOBENG

KOBENG
Sewidak Wolu


__ADS_3

Api dari obor yang tertiup angin terlihat meliuk liuk kemerahan. Sesekali nyalanya redup hingga hampir padam. Kayu penyangga obor begitu kokoh tertancap pada tanah. Meski deru angin kencang menghantam, namun tak sedikitpun goyah.


Dini dan Lik Kani memegangi kendi yang tersumpal daun sirih di bagian ujungnya. Sementara Pak Sopir duduk di sebelah Dini, mengedarkan pandangan dan sesekali menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. Pak Sopir sadar tugasnya untuk mengawal dan menjaga Dini. Meski beberapa kali cairan hangat membasahi celana panjangnya.


"Hey, Pak Sopir! Berapa kali kamu ngompol? Memalukan!" bentak Dini kesal.


"Maaf Non, kelepasan dikit dikit. Klep nya udah agak dol Non. Saya itu nggak masalah kalau mau lawan sekuat apapun, saya yakin bisa melindungi Non Dini. Tapi ini lawannya bukan manusia Non. Saya itu nonton film horor di bioskop saja biasanya merem Non, lha ini malah mengalami langsung. Melihat dengan mata kepala sendiri," Pak Sopir merengek seperti anak kecil.


"Awas saja, setelah ini aku bakal mengadu sama Ayah. Punya pengawal nggak guna," ancam Dini dengan tatapan sinis.


"Ampun Non," Pak Sopir mengiba.


"Sudahi perdebatan. Bukankah kendi ini terasa bergetar?" sela Lik Kani panik.


"Iya Lik. Kupikir karena tangan Njenengan gemetar," sahut Dini. Keningnya nampak mengkerut.


"Ya ndak to. Aku tidak penakut seperti Pak Sopirmu," ejek Lik Kani.


"Sekarang, kendinya terasa hangat Lik!" pekik Dini semakin gusar.


"Sesuai pesan Mbah Yon, kita harus tetap memeganginya erat erat lho. Jangan dilepas," perintah Lik Kani mengingatkan. Dini mengangguk setuju.


Angin kencang kembali berhembus dari dalam hutan. Percikan percikan api obor beterbangan di udara. Aroma sangit bercampur dengan wangi pandan yang entah datang darimana.


"Non, ini gimana kalau angin besar datang Non. Kita ditempat terbuka lhoh, bisa tergulung habis ini," keluh Pak Sopir was was.


"Bisa diam nggak sih Pak? Ini semua untuk kesembuhan Mas Purbo!" Dini melotot.

__ADS_1


"Duh Non, Mas Purbo yang lain masih banyak di dunia ini Non. Non Dini kan cantik, kaya, nggak susah cari lain. Keselamatan kita lebih utama," pinta Pak Sopir memelas.


"Mulutmu Pak! Ini kaitannya keselamatan keponakanku lhoh ya. Kalau ngomong jangan sembarangan!" bentak Lik Kani sewot. Pak Sopir langsung terdiam. Saking gugupnya dia lupa sedang bersama Pak Lik calon suami majikannya.


"Sudah, ini bantu pegang! Goncangan kendinya makin kencang," Dini meringis kewalahan.


Pak Sopir menuruti perintah Dini meski terpaksa. Sebenarnya dia enggan ikut menyentuh kendi aneh yang tengah bergetar itu. Pak Sopir meletakkan telapak tangannya yang gemetar di badan kendi yang halus.


"Kok hangat begini Non?" Pak Sopir bertanya penasaran. Tidak ada yang menjawab. Baik Dini maupun Lik Kani fokus pada kendi di hadapannya.


Gerakan kendi semakin liar. Getaran semakin terasa, seolah ada sesuatu di dalam kendi yang memaksa untuk keluar.


Sementara itu jauh di dalam hutan, Purbo masih terduduk lemas di atas tanah basah. Mbah Kusworo berdiri di sampingnya dengan raut wajah yang datar.


"Kenapa Mbah? Kenapa harus ada yang dikorbankan? Tidak bisa kah Njenengan menyelamatkannya?" Purbo meratap, tangisnya pecah. Tubuh gagah itu nampak berguncang di bagian pundaknya.


"Aku tidak mau ada yang menderita gara gara diriku. Bukankah ini hanya kesalahan sepele? Hanya secangkir kopi, kenapa harus nyawa yang menjadi ganti?" Purbo tidak mempedulikan ejekan Mbah Kusworo.


"Dasar bebal. Bukankah sudah dijelaskan ini semua soal aturan. Apa yang kamu pikir sepele dengan rasa dan hati manusiamu itu, merupakan sebuah pakem di tempat ini. Jangan meremehkan aturan yang tidak kamu pahami. Dunia ini dengan dunia manusiamu itu berbeda. Pakemnya sendiri sendiri," Mbah Kusworo tersenyum masam.


"Yono datang ke tempat ini dengan kesiapan hati. Dari awal memang rencananya menyerahkan si Yono itu untuk menggantikanmu, bocah ingusan," lanjut Mbah Kusworo.


"Hah? Kenapa?" Purbo terperanjat.


"Apa kamu pikir aku bakalan menang menghadapi kekuatan ghaib mereka semua? Bangsa mereka akan semakin kuat saat berada di wilayahnya sendiri. Kalau pertarungan diteruskan, keberadaanku bisa lenyap dan upaya penyelamatanmu akan sia sia. Semua ini sudah sesuai dengan rencana dari awal. Yono adalah keturunan dari Sukro, abdiku. Garis keturunannya memang untuk mengabdi pada getih lan dagingku. Beruntunglah kamu sebagai cucu cicitku bisa keluar dari tempat ini," jawab Mbah Kusworo.


Purbo yang terduduk lemas tiba tiba merasakan tangan dingin memegang bagian belakang lehernya. Mbah Kusworo mengangkat Purbo dengan kasar.

__ADS_1


"Berdiri! Jangan membuatku malu, punya keturunan lemah raga lemah batin macam kamu!" bentak Mbah Kusworo.


"Sekarang kita pulang!" perintah Mbah Kusworo, masih memegangi leher Purbo. Cengkeraman tangan Mbah Kusworo membuat Purbo meringis kesakitan.


"Mbah, Mbah tahu apa itu bayi Bajang? Kenapa warga desa ini menginginkan kehadiran sang bayi?" tanya Purbo teringat Sekar dan anaknya.


"Bayi yang menyeberang di dua dunia. Bangsa mereka akan melemah saat keluar dari wilayahnya. Nah, bayi Bajang akan memiliki kekuatan yang bisa menerobos batas itu. Bayi Bajang bisa sesuka hati masuk ke dunia manusia, mudah menjelma menjadi layaknya manusia karena pada dasarnya dia diakui di dua dunia. Untuk apa kamu menanyakannya? Hal itu bukan lagi menjadi urusanmu! Yang penting sekarang kamu bisa pulang, ibukmu menunggu di rumah. Dan akhirnya tugasku selesai. Aku bisa tenang tidak diganggu anak turunku maneh!" jawab Mbah Kusworo ketus.


"Oh iya Mbah, mobilku gimana? Terparkir di luar gapura desa sana," ucap Purbo bingung.


"Guobl*k! Nggak ada mobil! Itu hanya tipuan mereka. Duh, punya keturunan kok yo bodho nemen. Kebacut! Ayo jalan kaki!" Mbah Kusworo menarik ujung kaos Purbo, memaksa dan menyeretnya agar mau berjalan.


Sampai di luar gapura batas desa mereka menghentikan langkah. Kabut benar benar tebal menutup pemandangan malam tanpa pencahayaan.


"Sekarang kamu duduk bersila disini," ucap Mbah Kusworo memberi perintah. Purbo menurut, dia segera melaksanakan perintah kakek buyutnya itu.


"Pejamkan matamu!" Mbah Kusworo kembali memberi perintah.


Setelah mata Purbo terpejam, Mbah Kusworo mencabut satu helai rambut Purbo tepat di bagian ubun ubunnya. Kemudian memasukkan rambut itu ke dalam mulutnya. Mbah Kusworo komat kamit sebentar.


Purbo merasakan ubun ubunnya hangat. Kemudian kehangatan itu menjalar dari kepala menyebar ke seluruh tubuh. Purbo merasa nyaman, tubuhnya ringan dan tercium aroma wangi.


"Tidurlah Ngger. Bangunlah di tempat yang semestinya. Aku jaluk padhang ati. Ora duwe padhang ati. Duweku dimar kurung cumanthol pulunge atiku. Kekuwunge byar padhang ketrawangan lir kadiya surya medal saking wetan," ucap Mbah Kusworo.


Purbo pun terlelap diselimuti cahaya putih yang hangat.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2