KOBENG

KOBENG
Telungpuluh Siji


__ADS_3

Jangan mandi di malam hari. Salah satu nasehat dari orangtua jaman dulu. Nyatanya nasehat itu memiliki dampak buruk jika dihiraukan. Pun demikian yang terjadi pada Purbo.


Setelah mandi, bukan rasa nyaman yang dia dapatkan. Tubuhnya demam, dia menggigil di balik selimut tebalnya di atas ranjang tempat tidur. Dini duduk bersandar pada dinding kamar tidur. Dia membelai lembut wajah suaminya yang nampak membiru.


"Mak Nah?" Dini berteriak memanggil 'rewang' nya.


Mak Nah masuk ke dalam kamar memenuhi panggilan majikannya. Melihat Purbo dalam kondisi demam dan menggigil, Mak Nah sama sekali tak menunjukkan ekspresi khawatir. Mak Nah terlihat tenang, dan seolah dia sudah tahu hal itu akan terjadi.


"Ada apa Nyonya?" tanya Mak Nah dengan senyumnya yang terlihat ramah.


"Mas Purbo demam Mak. Bagaimana ini?" ujar Dini panik.


Mak Nah segera memeriksa Purbo. Dia menempelkan punggung tangannya di dahi laki laki berkulit putih bersih itu.


"Kelihatannya Tuan masuk angin," ucap Mak Nah.


"Ini yang aku khawatirkan. Suhu udara malam begitu dingin. Apalagi hujan disertai angin sangat deras. Makanya aku sangat tak suka Tuan kelayapan tadi. Tapi Tuan salah sangka dan malah marah marah padaku," gerutu Mak Nah.


Telinga Purbo panas mendengar omelan Mak Nah. Tapi dia tak punya tenaga untuk meladeninya. Dia memilih menggosok gosok kedua telapak tangannya di balik selimut, agar hawa dingin sedikit berkurang.


"Aku ambilkan jahe hangat dan minyak balur dulu Nyonya," ucap Mak Nah sembari berjalan keluar kamar.


"Perempuan tua cerewet," gumam Purbo setelah Mak Nah pergi.


"Mas kenapa sih? Marah marah terus bawaannya," Dini mengelus elus kepala suaminya. Tangan Dini yang terasa beku itu, membuat Purbo bergidik dan semakin tak nyaman.


"Yang, kupikir ini semua gara gara Mak Nah," ucap Purbo di antara giginya yang gemeretak beradu.


"Apa maksudmu Mas?" tanya Dini, tak mengerti maksud ucapan suaminya.


"Tadi tuh waktu aku cekcok dengan Mak Lampir itu, dia komat kamit gitu. Aku yakin dia tengah mengutuk, atau mendoakan hal buruk terjadi padaku. Dan inilah yang terjadi sekarang, aku demam," Purbo berusaha meyakinkan Dini.

__ADS_1


"Hi hi hi," Dini terkekeh.


"Mas, kamu itu kok ya lucu," bahu Dini berguncang guncang ringan saat tertawa.


"Kamu nggak percaya sama aku? Kamu nggak lihat aku menggigil seperti ini?" Purbo merajuk.


"Aduh, jangan ngambek dong Mas. Kamu demam karena masuk angin itu," Dini tersenyum geli. Laki laki setua apapun, saat merasakan sakit akan muncul sifat kekanak kanakannya.


Mak Nah masuk ke dalam kamar membawa gelas berisi air bening dengan dua ruas jahe yang sudah digeprek di dalamnya. Asap tipis mengepul di atas gelas, menandakan air masih panas. Dia meletakkan minuman itu di atas meja rias.


Mak Nah keluar kamar lagi. Namun beberapa saat berikutnya dia sudah kembali membawa satu baskom air hangat dengan aroma wangi melati dan minyak kayu putih yang menyengat.


"Tuan, tolong njenengan bangun sebentar," perintah Mak Nah. Purbo menoleh pada Dini, dan istrinya itu mengangguk memberi persetujuan.


Dengan susah payah Purbo bangun dari tidurnya. Tangannya gemetar, begitupun sekujur tubuhnya bergerak sendiri tak mampu ditahan.


"Lepas kaos njenengan Tuan," ucap Mak Nah memberi perintah lagi.


"Aku sedang kedinginan Mak. Kenapa kaosku malah dilepas?" protes Purbo kesal.


Purbo menurut, dia melepas kaos yang dikenakan. Dadanya yang bidang, dengan otot perut nampak terpahat sempurna. Anehnya tubuh yang terlihat bugar itu malah terserang demam dan menggigil hebat.


Mak Nah menggambil selembar handuk tebal, mencelupkannya ke dalam baskom berisi air panas yang sudah dicampur minyak dan ramuan khusus. Kemudian dia mengusapkan handuk itu di punggung Purbo yang penuh bulu bulu halus.


Sensasi hangat menyengat Purbo. Menjalar dari punggung, pinggang dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Tanpa Purbo sadari, Mak Nah memejamkan mata dengan mulut komat kamit. Sesekali dia meniup air di dalam baskom, sambil terus mengusap punggung majikannya itu.


Setelah sekitar lima belas menit, Purbo tak lagi menggigil. Mak Nah meraih gelas di atas meja rias. Dia menyodorkan minuman jahe panas itu pada Purbo.


"Minumlah Tuan, setelah itu pakailah baju njenengan dan beristirahatlah," ucap Mak Nah kalem.


Purbo menurut, dia menenggak habis jahe hangat dari Mak Nah. Kini, bukan hanya tubuh luarnya saja yang terasa nyaman, tapi juga tenggorokan, dada, serta perutnya. Purbo merebahkan badan di kasur setelah memakai kaosnya kembali.

__ADS_1


"Bagaimana Tuan?" tanya Mak Nah dengan senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Purbo.


"Ya, sekarang jauh lebih baik," jawab Purbo singkat. Sejujurnya dia enggan mengakui pengobatan yang dilakukan Mak Nah sangat manjur untuk demam yang dia derita.


"Nanti jangan lupa sebelum tidur Tuan minum dulu wedang parem. Wedang paremnya masih tak rebus saat ini. Dalem permisi dulu," ucap Mak Nah keluar kamar sambil membawa gelas kosong serta baskom berisi air ramuan yang sudah dingin.


"Tuh kan Mas, Mak Nah baik kan orangnya?" Tanya Dini sambil memainkan alisnya. Dia mengejek Purbo yang sedari tadi kesal dengan 'rewang' nya itu.


"Apapun itu tidak menghapus kenyataan bahwa Mak Nah berani membentakku. Ingat ya Din, kalau bukan karena kamu yang begitu menyukainya, aku pasti sudah memecatnya," Purbo tak mau mengalah. Dia sedikit malu saat Dini tersenyum senyum geli menatapnya.


"Aku sedang marah ini. Kenapa kamu senyum senyum sih?" protes Purbo dengan wajah memerah.


"Hi hi hi, kamu lucu," Dini terus tertawa.


"Au ah," Purbo pura pura cemberut. Dini terkekeh sambil mengusap usap rambut suaminya.


"Every moment I spent with you is like a beautiful dream come true Mas," ucap Dini. Kali ini perempuan cantik itu terlihat berkaca kaca.


Purbo bangun dari tidurnya. Kemudian mengecup kening Dini. Dia meraih kepala istrinya itu dan menyandarkan di pundak bidangnya.


"Maafkan jika aku selama ini banyak kurang, banyak salah atau mungkin di masa lalu yang kulupakan, aku pernah menyakitimu," ucap Purbo lirih.


Dini mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah Purbo lekat. Dua bola matanya terlihat bergetar.


"Sebenarnya aku lah yang berhutang maaf padamu Mas," Ekspresi Dini tiba tiba berubah sedih.


Purbo mengernyitkan dahi. Dia tak mengerti maksud ucapan Dini. Saat itulah Mak Nah masuk kembali ke dalam kamar membawa kendi berisi wedang parem hangat dan sebuah cangkir kecil.


"Aduh, apakah dalem mengganggu kemesraan Tuan dan Nyonya?" tanya Mak Nah menggoda.


Purbo tersenyum masam, masih jengkel dengan pembantunya itu. Sementara Dini segera mengusap air mata di sudut netranya.

__ADS_1


"Ini wedang paremnya Tuan. Agar istirahat njenengan malam ini bisa maksimal. Tidur pulas, bangun pagi badan segar bugar," Mak Nah meletakkan kendi di meja rias. Dengan cekatan segera menuang wedang parem dari kendi ke cangkir kecil di hadapannya.


Bersambung___


__ADS_2