KOBENG

KOBENG
Patangpuluh


__ADS_3

Hasan disambut kawan kawannya. Mereka merangkul dan memeluk Hasan penuh haru. Bahkan ada salah satu perempuan yang nampak tak kuasa membendung air matanya, dia menangis sembari terus memeluk laki laki yang hampir pingsan kehausan itu.


"Mbah Bayan terimakasih ya," ucap Hasan saat Mbah Bayan memutar motor dua tak nya.


"Sama sama Mas. Ingat ya, jadi pelajaran dan pengalaman. Kalau lagi jelajah di hutan baca doa dulu. Jangan terulang Kobeng lagi ya Mas Wagiman," ucap Mbah Bayan sambil melepas secara mendadak kopling di tangan kirinya. Motor melompat dan segera digeber habis habisan oleh orang tua nyentrik itu.


"Syukurlah kamu sudah kembali San," ucap laki laki berkumis tipis. Sang ketua penjelajahan bernama Asrofi.


"Kamu nggak pa pa kan?" sambung laki laki berambut kribo bernama Sani. Hasan menggeleng pelan.


"Tolong ambilkan aku air," ucap Hasan lirih.


Dua orang perempuan yang sedari tadi hanya mematung memandangi Hasan langsung berlari ke tenda untuk mengambil air. Perempuan berambut panjang lurus bernama Yola dan seorang perempuan gemuk bernama Laila. Sementara itu satu anggota penjelajahan bernama Nita masih menangis tertunduk di hadapan Hasan.


"Hei, jangan nangis terus dong. Apa kamu sedih melihat pacarmu ini kembali?" ucap Hasan menggoda Nita.


"Mulutmu! Aku mengkhawatirkanmu seharian tahu! Aku takut kamu kalap, kobeng, dan nggak bisa kembali. .huuuuu," Nita semakin terisak keras.


"Dah dah, ayok masuk ke tenda dulu, biarkan Hasan istirahat," sahut Asrofi.


Setelah Hasan tenang, kondisinya terlihat baik dan sehat, semua rekan rekannya berkumpul duduk mengelilingi Hasan di dalam tenda. Semua penasaran dengan apa yang telah dilalui dan dialami oleh laki laki berbadan gempal itu.


"Kita sudah berencana untuk telpon sekretariat kampus malam ini agar meminta bantuan Tim SAR untuk mencarimu San," ucap Sani menghela nafas.


"Bisa bisanya kowe ngilang. Sebagai ketua penjelajahan aku yang paling was was. Imbasnya bisa ke club pecinta alam lho. Tapi apapun itu, aku sangat bersyukur kamu sudah kembali," sambung Asrofi.


"Yaahh, ini pelajaran untukku. Syukur syukur untuk kita semua. Pas kita berangkat subuh tadi, aku masih ngantuk dan sedikit melamun. Yang akhirnya membawaku ke tempat antah berantah," ucap Hasan mengingat ingat kembali kejadian yang sudah menimpanya


"Aku tadi sudah hopeless banget. Kupikir nggak bakal balik nih orang," sambung Yolla, perempuan berbadan ceking.

__ADS_1


"Ya aku pun sempat punya pikiran kayak gitu. Bakal tersesat di hutan terus hingga kehabisan tenaga. Tapi Gusti Allah masih menunjukkan jalan untukku," Hasan menghela nafas pelan.


"Kalau kamu nggak balik, Nita nge janda dong," celutuk Sani nyengir.


"Lambemu! Belum pernah makan kolak sandal? Hah?" Nita melotot dengan kelopak matanya yang sembab.


"Kayaknya besok besok lagi kalau penjelajahan jangan ke tempat ini deh," bisik Hasan serius. Semua orang langsung terdiam. Hawa dingin meniup tengkuk, membuat bulu bulu halus berdiri meremang.


"Kamu ketemu hewan buas atau hal aneh gitu San?" tanya Laila penasaran. Di antara semua orang, Laila memang type yang paling antusias membahas hal hal menyeramkan.


Hasan meraih botol air mineral di hadapannya. Dan meneguknya hingga tandas. Sudah botol ketiga yang dia habiskan.


"Awalnya setelah melewati jalur yang salah, aku berada di wilayah yang penuh dengan kabut. Benar benar tebal dan pekat. Hanya jalanan setapak di ujung kakiku saja yang terlihat. Sekeliling tuh kayak ke tutup kapas gitu. Perasaanku langsung nggak enak. Aku panik, gimana caranya bisa keluar dari tempat itu? Aku berjalan tak tentu arah, sampai betis ini rasanya mau meledak," ucap Hasan menunjukkan betisnya yang bengkak meradang.


"Lalu, tiba tiba saja ada seorang laki laki yang menghampiri. Mengajakku untuk mampir ke rumahnya. Aneh banget, bagaimana mungkin tiba tiba ada orang menawarkan mampir ke rumahnya di tengah hutan," Hasan memijat mijat keningnya.


"Terus terus? Kamu mampir ke rumahnya?" tanya Laila antusias.


"C*k aku merinding!" sela Sani memegangi tengkuknya.


"Mulutmu, jangan misuh misuh!" bentak Yolla. Sani langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Laki laki berambut keriting itu ketakutan dibentak Yolla yang terkenal galak.


"Penampakan seperti apa yang kamu lihat?" tanya Laila. Hanya dia satu satunya orang yang terlihat bersemangat mendengar cerita dari Hasan.


"Dua makhluk berambut panjang. Salah satunya berperut besar dengan mata menyala se merah darah," Hasan merinding sendiri mengingatnya.


"Nah, aku buru buru pamit dong setelah itu. Aku pura pura nggak lihat pokoknya, aku datang kesitu baik baik, pamit pun baik baik. Nah sampai di luar rumah entah dapat keberanian darimana aku merentangkan kedua kakiku dan melihat ke arah rumah besar itu melalui sela sela kaki. Kalian pernah dengar kan kalau cara seperti itu bisa digunakan untuk melihat hal yang sebenarnya tertutup oleh tabir ghaib?" Hasan mengedarkan pandangan. Semua mengangguk setuju, kecuali Sani.


"Emang iya begitu to?" tanya Sani polos.

__ADS_1


"Udahh, kamu dengerin aja nggak perlu banyak tanya," sergah Yolla cepat.


"Saat melihat melalui sela sela kakiku, ternyata rumah Joglo itu nggak ada," Hasan meraih botol minuman ke empat. Dia benar benar kehausan.


"Disana hanya ada reruntuhan bangunan dengan kendi kendi yang berjejer di tanah," Hasan begidik ngeri.


"Aku sempat berkenalan dengan penghuni rumah itu. Laki laki ganteng mungkin usianya tak jauh denganku. Namanya Purbo," lanjut Hasan.


"Purbo? Kayak nggak asing gitu namanya," gumam Nita.


"Bukannya yang lagi rame di medsos ya?" sambung Asrofi.


"Hah? Apaan?" Sani lagi lagi nggak faham.


"Itu lho, calon pengantin yang kecelakaan motor terus masih koma hingga sekarang. Viral di eFBe, soalnya si mempelai wanita anak salah satu pejabat," jawab Asrofi sembari membuka HP nya.


"Kamu ada fotonya?" tanya Hasan penasaran.


"Sebentar, ini masih tak cari cari. Padahal baru tadi kubaca artikelnya," Asrofi men scroll layar HP nya.


"Nah, ini," ucap Asrofi menyodorkan HP nya pada Hasan.


"Astagaaa, benar. Ini orang yang tadi kutemui di rumah joglo tengah hutan," pekik Hasan dengan mata melotot.


"Kamu yakin? Saat ini orang yang ada dalam foto tengah terbaring di RSUD lho. Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya di tengah hutan?" Asrofi mengernyitkan dahi.


"Entahlah, aku juga bingung. Apalagi dia ngomong kalau disana adalah rumahnya. Dan dia sudah punya istri yang sedang hamil tua. Aneh," Hasan menopang dagu.


"Ngomong ngomong, tas ranselmu kok bau pandan menyengat sih San?" Yolla menunjuk tas ransel di sebelah tempat mereka duduk.

__ADS_1


Hasan menepuk dahinya. Dia baru ingat diberi bungkusan plastik dari perempuan bernama Mak Nah. Bungkusan yang tadi sempat dia lihat berisi ubi dan pisang Mas.


Bersambung___


__ADS_2