
Hujan deras tak kunjung mereda. Kilat beberapa kali menyambar, menghasilkan percikan cahaya yang mengusir kegelapan dalam hitungan detik. Kabut nampak semakin tebal bersama udara dingin yang menusuk pori pori kulit.
Purbo mengusap usap lengannya. Bulu halus di tengkuk meremang merasakan serangan suhu yang beku. Purbo hanya mengenakan kaos tipis lusuh yang membuatnya semakin kedinginan.
"Duh, hujan deras banget," gumam Jasman di antara suara rintik air yang menghantam atap seng.
Ajeng menghidangkan bubur kacang hijau panas. Perempuan manis itu ternyata sangat pendiam. Hanya sesekali ikut berbicara saat Jasman bertanya. Sangat berbeda ketika Ajeng bertemu Dini kemarin.
"Mas, tolong jawab pertanyaanku tadi. Mas sebenarnya kenal kan dengan warga yang bernama Ceking? Terus kemana dia? Kenapa semua orang berpura pura tak mengenal sosoknya?" Purbo kembali bertanya dan menatap tajam pada pasutri di hadapannya itu.
Jasman diam bersedekap. Semangkuk bubur kacang hijau dibiarkan mengepulkan asap tipis dengan aroma jahe menyengat di hadapannya. Pertanyaan Purbo membuat Jasman hilang selera makan meskipun bubur hangat sangat menggoda di tengah suhu dingin dan hujan deras.
"Sungguh, aku tadi datang kemari berharap mendapat jawaban darimu Mas Jasman. Dari sekian banyak warga, hanya njenengan yang terlihat ramah dan tidak mengacuhkan aku. Sama halnya dengan njenengan yang berpikir aku butuh teman ngobrol saat mondar mandir di pasar tadi. Aku pun juga menduga njenengan sudah tahu soal kebingunganku ini dan berniat menjelaskan semuanya," ucap Purbo mulai kehilangan kesabaran.
"Sudah kukatakan Mas Purbo, aku hanya berusaha berteman dengan semua orang yang ada di desa ini," jelas Jasman.
"Kalau memang njenengan pengen berteman, seharusnya njenengan mau menjawab pertanyaanku. Dimana Ceking?" Purbo mendesak.
"Aku tidak bisa menjawabnya," sahut Jasman cepat.
"Berarti tak ada gunanya aku berlama lama disini," ujar Purbo, berdiri dari duduknya.
"Njenengan mau kemana? Hujan masih sangat deras," cegah Jasman.
"Hari sudah terlalu sore Mas. Istriku nanti khawatir jika aku tak segera pulang. Maaf Mbak Ajeng buburnya tidak aku makan," Purbo beralih menatap Ajeng. Istri Jasman itu hanya mengangguk perlahan.
"Sebentar. Biar aku antarkan. Sudah terlalu gelap," Jasman ikut berdiri.
"Jeng tolong ambilkan payung ya," ucap Jasman pada istrinya.
Ajeng berjalan masuk ke dalam rumah. Hanya sebentar, perempuan manis itu sudah kembali membawa dua buah payung berwarna hitam. Dia menyerahkan salah satu payung pada Purbo.
"Terimakasih," ucap Purbo membungkuk sebentar.
__ADS_1
Saat Purbo membuka payung hitam di tangannya, tiba tiba saja sekelebat gambaran perempuan cantik di tengah derasnya hujan kembali terbayang. Perempuan itu memakai payung hitam dan menoleh pada Purbo. Seulas senyum terkembang di bibirnya yang semburat kemerahan.
"Mas? Mas Purbo?" Jasman menepuk nepuk bahu Purbo yang berdiri mematung sambil menggenggam erat payung hitam di tangannya.
"Ah, iyy iyaaa," Purbo tersadar dari lamunan.
"Mas Purbo nggak pa pa kan?" tanya Jasman khawatir.
"Aku ngg nggak pa pa. Oh iya, aku pamit Mas Mbak," ucap Purbo gelagapan.
"Iya Mas. Biar kuantar. Sudah sangat gelap soalnya," Jasman mengeluarkan sebuah senter besar.
Di tengah guyuran hujan, Purbo dan Jasman berjalan melewati jalanan desa Ebuh yang mulai licin dan becek. Genangan air berwarna cokelat tua mulai terbentuk mengisi lobang lobang yang bertebaran di sepanjang jalan depan pemukiman warga desa.
Aroma tanah basah menyengat indera penciuman. Angin kencang beberapa kali membuat payung hitam di genggaman Purbo terasa berat dan hampir terlepas. Guntur tak henti hentinya bersahut sahutan, seolah mereka bersaing saling menunjukkan suara mana yang paling menakutkan.
Rumah- rumah warga di kiri kanan jalan nampak sepi dengan semua pintu yang tertutup rapat. Tak terlihat satu pun batang hidung warga desa. Mereka seakan takut dengan derasnya hujan dan suara guntur yang tak berjeda.
"Mas Purbo," ucap Jasman tiba tiba.
Jasman mematikan senternya. Kegelapan langsung memenjarakan indera penglihatan. Purbo menghentikan langkah. Ketakutan mulai menjalar dalam pekatnya warna kelam.
Purbo menelan ludah. Udara dingin semakin menyiksanya. Tengkuknya merinding hebat. Denyut jantungnya berdetak tak beraturan. Purbo mulai curiga, Jasman mempunyai niat buruk padanya. Bukankah semua warga desa berperilaku acuh? Kenapa Jasman bersikap sangat ramah padanya? Jangan jangan sikap ramah itu adalah topeng di balik niat jahat yang sesungguhnya.
"Mas Purbo," ucap Jasman sekali lagi dalam kegelapan. Suaranya lirih namun bisa terdengar dengan jelas meski berlomba dengan bunyi tetes air hujan. Purbo diam saja tak menyahut.
"Saat aku mengatakan ingin berteman dengan njenengan, aku tak berbohong. Lalu pertanyaan tentang Ceking, maaf aku tak bisa menjawabnya. Aku tak boleh menjawabnya di area pemukiman warga desa. Karena pesta yang njenengan lihat pada malam itu, bisa sewaktu waktu menimpaku," lanjut Jasman.
"Pesta? Penghakiman pada Ceking maksudmu? Jadi, malam itu aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi?" sambung Purbo setengah berteriak.
"Semua orang kaget melihat kedatanganmu malam itu Mas. Dari semua warga yang ada di desa Ebuh, kamu lah satu satunya yang tidak boleh ada disana," jawab Jasman.
"Kenapa?" tanya Purbo tak sabar.
__ADS_1
"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Jika terlalu lama disini, suara kita akan terdengar oleh Mbah Modo," Jasman kembali menyalakan senternya.
"Hei! Kamu berhutang penjelasan padaku!" bentak Purbo.
"Jalan saja Mas. Tak ada waktu. Lain kali akan kujelaskan!" perintah Jasman, sedikit mendorong Purbo agar melangkah kembali.
"Aku tak sudi menurutimu!" lagi, Purbo membentak dan melotot.
"Apa njenengan mau kalau aku bernasib seperti Ceking?" balas Jasman menatap tajam pada Purbo.
"Jadi, Ceking dihukum itu nyata?" tanya Purbo dengan suara yang bergetar.
"Jalan Mas! Akan kujelaskan lain waktu!" Jasman berjalan mendahului.
Mendengar ucapan Jasman, Purbo akhirnya menurut. Dia menutup rasa penasaran di hatinya dan berjalan mengekor di belakang Jasman. Tak berselang lama mereka sampai di pelataran rumah Purbo.
"Aku menunggu penjelasan darimu!" bisik Purbo sambil mengembalikan payung yang dipinjamnya.
"Bersikaplah seperti biasa Mas. Lusa datanglah ke warungku," balas Jasman langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Purbo yang masih berdiri di teras depan.
Setengah berlari, Jasman kembali ke rumah. Kala hujan menyisakan gerimis tipis, dengan telapak kaki penuh lumpur dia menapaki lantai keramik warungnya. Dia hendak masuk ke dalam rumah, saat terdengar suara langkah kaki di halaman depan.
Jasman menoleh. Dia cukup terkejut melihat kedatangan Mbah Modo. Sang kepala desa berjalan tertatih dengan tongkat kayu di tangan kanannya. Dia datang bersama Japra dan beberapa warga desa yang berpakaian serba hitam.
"Mbah Modo, mari silahkan masuk," ucap Jasman sambil tersenyum ramah.
"Aku hanya mampir sebentar Jasman. Aku tadi sempat mendengar kalau Purbo baru berkunjung ke warungmu ini," sahut Mbah Modo dengan suaranya yang serak.
"Iya Mbah. Tadi Mas Purbo mampir sebentar kemari. Apa ada masalah Mbah?" tanya Jasman menunduk.
"Tidak ada. Aku hanya mengingatkan saja padamu, barangkali kamu lupa. Kamu bisa memiliki Ajeng juga berkat aku. Jadi, jangan bertindak di luar aturanku ya Ngger," pungkas Mbah Modo sambil menyeringai. Jasman menunduk lebih dalam.
Bersambung___
__ADS_1