KOBENG

KOBENG
Pitungpuluh Loro


__ADS_3

Hanya butuh waktu satu minggu, Purbo sudah benar benar sehat dan diijinkan untuk pulang. Lik Kani menyambut kedatangan keponakannya itu dengan suka cita. Dia meminta tolong para tetangga mempersiapkan masakan untuk 'ambeng' sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan anak semata wayang Bu Sudarsih itu.


Tumpeng, buceng, sayur urap, ayam bumbu lodho, jenang abang, polo kependhem dan beraneka ragam makanan lain diolah siang itu. Purbo turun dari mobil SUV putih mengkilat, dengan seorang sopir yang cekatan membukakan pintu.


"Terimakasih Pak. Sebenarnya Njenengan nggak perlu melayani saya sampai seperti ini," ucap Purbo.


"Ini perintah Non Dini Mas. Sebagai permintaan maaf karena nggak bisa nganterin Mas pulang. Non Dini tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Mas Purbo," balas Pak Sopir sambil membungkuk.


"Yasudah, terimakasih Pak kalau begitu," jawab Purbo.


"Saya permisi ya Mas, Buk. Monggo," Pak Sopir lantas pamit.


Para tetangga yang melihat kedatangan Purbo dan Bu Sudarsih diantarkan mobil baru, mulai saling berbisik. Sudah menjadi kebiasaan, saat melihat orang lain menggunakan barang mewah para tetangga akan menggunjingkannya. Ada beberapa orang yang berbisik dan menyebut Bu Sudarsih mengorbankan anaknya yang tampan agar memperoleh menantu kaya raya. Adapula yang menyebut Purbo sakit karena mendapat gangguan dari calon mertuanya yang kaya. Spekulasi spekulasi liar bertebaran di perkumpulan ibu ibu itu.


Lik Kani tergopoh gopoh menyambut Purbo. Dia memeluk keponakannya itu dengan erat. Lik Kani mengalihkan pandangannya, menatap Bu Sudarsih yang tersenyum bahagia. Mbak Yu nya itu terlihat sudah tua. Rambut memutih dengan kerutan kerutan di dahinya.


"Syukurlah Mbak Yu, anakmu sudah sehat," ucap Lik Kani.


"Lik, kapan kapan tolong antarkan aku ke rumah Mbah Yon ya," sahut Purbo, melepas pelukan Lik Kani. Bu Sudarsih dan Lik Kani bertukar pandang. Mereka sama sama penasaran, untuk apa Purbo ingin ke rumah Mbah Yon? Pada akhirnya Lik Kani mengangguk mengiyakan.


Sore pun tiba, bersama langit berwarna jingga dan beberapa kicau burung hitam di pucuk tiang listrik. Tetangga terdekat berkumpul di rumah Bu Sudarsih. Ambeng, tumpeng, buceng dan beberapa macam makanan sudah tersusun di ruang tamu. Bu Sudarsih menggelar syukuran kecil kecilan atas kesembuhan anaknya.


...****************...


Waktu cepat berlalu. Pernikahan Purbo dan Dini tinggal menghitung hari. Namun seolah tidak belajar dari kejadian di masa lalu, Purbo bepergian menjelang hari pernikahannya. Bedanya kali ini dia tidak sendiri.


Purbo berboncengan dengan Lik Kani, sampai di sebuah rumah di tengah tegalan. Rumah joglo yang nampak tidak terawat. Halaman depan penuh dengan rumput liar dan semak berduri.


"Nggak terawat ya. Apa Mbah Yon nggak pernah pulang ke rumah ini lagi?" tanya Lik Kani heran.


Purbo menghela nafas. Sesungguhnya dia tahu betul kenapa rumah itu tak terawat. Mbah Yon memang tidak pernah pulang karena mengorbankan diri demi kesembuhan Purbo. Dan Lik Kani juga orang lain tidak ada yang tahu tentang itu semua. Purbo menyimpan rapat rapat rahasia dan kenyataan yang menimpa Mbah Yon.


"Tapi ini bener rumahnya Mbah Yon kok. Kalau kamu pengen berterimakasih padanya karena sudah menolongmu, kita kembali kesini lagi di lain hari," ucap Lik Kani.


Purbo tidak menyahut. Pikirannya mengawang jauh. Mengingat kembali apa yang diucapkan Mbah Yon malam itu. Semua japa mantra tertulis dalam buku, tersimpan di rumah Mbah Yon.


Tanpa mengucap salam atau permisi, Purbo langsung mendorong pintu rumah yang penuh debu itu. Bunyi engsel yang kering dan berkarat memekakkan telinga. Lik Kani terkejut melihat tingkah keponakannya yang tiba tiba membuka pintu rumah Mbah Yon.


"Hey, ngawur kamu! Nanti kalau dikira maling bagaimana?" hardik Lik Kani dengan mata melotot.


Purbo tak menggubrisnya. Dia berjalan mendekati lemari yang ada di sudut ruangan. Keris keris lawas terpajang dalam lemari. Benda milik Mbah Yon itu terlihat bersih dan berkilau meski di bagian luar lemari penuh dengan debu tebal.


Sedikit kasar, Purbo langsung menarik gagang pintu lemari. Aroma kembang kantil dan melati menyeruak di udara.

__ADS_1


"Hey hey, sembrono kamu Pur!" bentak Lik Kani panik.


"Mau nyolong keris?" Lik Kani melotot. Purbo mengacuhkannya. Dia malah mengangkat benda kotak di dalam lemari yang terbungkus kain beludru berwarna ungu.


"Ayo kita pulang Lik. Tujuanku kemari memang untuk mengambil benda ini," ucap Purbo sambil tersenyum.


"Lhah, apa itu? Kamu kok jadi aneh?" Lik Kani terlihat kebingungan.


"Wes to Lik, Njenengan manut saja. Aku nggak nyuri kok. Mbah Yon sendiri yang memintaku untuk mengambil benda ini," Purbo menepuk nepuk pundak Lik Kani.


"Memangnya apa itu Pur?" tanya Lik Kani sekali lagi.


"Buku," jawab Purbo singkat. Dia melangkahkan kaki keluar rumah.


Sampai di teras depan, Purbo dan Lik Kani dikejutkan oleh kedatangan seorang laki laki tua dengan udheng di kepalanya. Mirip dengan Mbah Yon. Kakek tua itu menatap sinis pada Purbo.


"Nyari siapa Kung? Mbah Yon nggak ada di rumah," ucap Purbo kalem.


"Sudah tahu. Aku mau ambil keris yang beberapa minggu lalu kutitipkan disini. Lagi butuh," jawab laki laki tua.


Laki laki tua itu hendak masuk ke dalam rumah namun dihalang halangi oleh Lik Kani.


"Minggir kamu!" bentak laki laki tua.


"Lha terus, apa bedanya aku dan kalian? Kalian juga asal masuk rumah padahal orangnya nggak ada!" Laki laki tua berbicara dengan nada tinggi. Seperti sedang marah marah.


"Ya kami saudaranya Mbah Yon. Njenengan balik lagi kesini kalau Mbah Yon sudah pulang," Lik Kani tak mau mengalah. Sedangkan Purbo diam saja mengamati.


"Menunggu Yono pulang ya sampai tahu berubah jadi kedelai juga nggak bakal pulang!" Laki laki tua itu menggertak, suaranya keras dan menggelegar. Membuat nyali Lik Kani menciut.


"Namaku Kadir. Aku dan si Yono iku teman mbeguru. Kalau kalian mengaku sebagai saudaranya, maka aku lebih dekat dari sekedar saudara, hubunganku dengannya lebih kental dari darah. Aku dan Yono dibesarkan oleh orang yang sama. Di tempat yang sama," Kakek tua bernama Mbah Kadir itu membentak bentak Lik Kani. Pada akhirnya Lik Kani beringsut minggir dari pintu rumah.


"Jangan kamu pikir aku nggak tahu atas apa yang terjadi pada Yono bin Sukro!" Mbah Kadir beralih menatap Purbo penuh amarah dan kebencian. Lalu dia masuk ke dalam rumah.


"Pur, apa maksudnya?" tanya Lik Kani berbisik di telinga Purbo.


"Jangan dipikirkan Lik. Ayo pulang," ajak Purbo santai. Lik Kani hanya bisa garuk garuk kepala.


...****************...


Sore harinya, Purbo tengah membaca buku peninggalan Mbah Yon di teras depan rumahnya, saat terdengar suara sepeda motor menepi. Seorang pemuda turun dari motor mengenakan jas almamater kampus ternama di wilayah kota. Wajah yang tak asing bagi Purbo.


"Hasan kan?" Purbo tersenyum menyalami.

__ADS_1


"Mas Purbo ingat?" Hasan sedikit terkejut. Purbo hanya tersenyum.


Hasan dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Bu Sudarsih menyiapkan minuman hangat karena cuaca sedang terasa beku.


"Ada perlu apa kemari? Apa mungkin kamu penasaran dengan keadaanku setelah keluar dari desa berkabut?" tanya Purbo.


"Yah itu juga sih Mas. Selain itu sebenarnya aku bingung Mas. Nggak tahu mesti tanya kemana lagi kalau bukan ke Njenengan," Hasan terlihat bingung.


"Ada apa? Coba ceritakan padaku," ucap Purbo.


Hasan meneguk minuman hangat, kemudian memulai ceritanya. Oleh oleh Mak Nah dari desa Ebuh menuai masalah. Sani kesurupan setelah memakan pisang pemberian Mak Nah. Polah tingkahnya seperti seekor kera berayun di dahan pohon. Kemudian saat ini, Sani tengah dirawat di rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.


Asrofi sebagai ketua penjelajahan merasa bersalah. Tugas akhir kuliahnya berantakan, dan kini dia terlihat depresi. Hasan menceritakan semua itu dengan mata berkaca kaca.


"Mungkin seandainya oleh oleh dari Mak Nah itu, kamu yang makan tidak akan jadi masalah San. Karena pada dasarnya 'mereka' memberikannya padamu, untukmu, bukan untuk temanmu. Setiap tempat memiliki aturannya masing masing. Dan memang seharusnya kita menghormati itu," Purbo menghela nafas.


"Lalu bagaimana Mas? Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan Sani?" Hasan terlihat hendak menangis.


"Waktu kesurupan Sani bertingkah seperti kera?" Purbo bertanya memastikan. Hasan mengangguk yakin.


Purbo kemudian teringat malam terakhirnya di desa Ebuh. Saat dia menyusuri pemukiman warga dan melihat seekor kera dalam kandang yang nampak bersedih.


"Aku mungkin tahu dimana temanmu berada," ucap Purbo, mendongak menatap langit langit ruang tamu.


"Tidak bisakah kita menolongnya Mas?" tanya Hasan memelas.


Purbo terdiam dalam lamunannya. Tiba tiba saja telinganya berdenging. Sayup sayup terdengar sebuah suara. Suara dari perempuan tua yang Purbo kenali. Suara dari Mak Nah mengucapkan kalimat yang sama seperti saat pertemuan terakhir mereka.


"Njenengan tak perlu bingung, selalu ada jalan untuk kembali kesini. Selalu ada alasan untuk berjumpa dengan kami."


Suara yang diakhiri dengan tawa yang meringkik.


...TAMAT...


KOBENG akhirnya selesai. kok nge gantung? Yah semua judulku kayaknya memang begini ya.


Aku suka cerita yang nge gantung. kalian bisa simpulkan sendiri endingnya seperti apa. sesuai keinginan yang baca pokoknya. apakah Purbo bersama Dini atau kembali ke desa Ebuh?


Nantikan kisah kisah lain dari aku. Entah setelah ini mencoba genre baru atau tetap di jalur misteri hi hi hi hi . .


Untuk yang pengen tahu cerita cerita lain yang aku tulis bisa follow akunku di NT ini ya. Bisa juga Follow IG @bung_engkus. Kalian bisa tanya dan tahu judul lain yang sedang kukerjakan baik di Platform ini ataupun di Platform lain.


Tetap dukung tulisan tulisan recehku. Meskipun tak se rame atau se bagus yang lain, aku berusaha menghadirkan cerita yang bisa bikin jiwa jiwa yang suka misteri bergejolak.

__ADS_1


Terimakasih kalian yang sudah mengikuti Mas Purbo hingga akhir. KOBENG adalah tulisan yang tidak masuk 20 besar lomba menulis horor, tapi kalian masih membacanya hingga TAMAT. Sungguh aku terharu. Terimakasih banyak untuk kalian. Semoga sukses selalu .


__ADS_2