
Aroma pandan menyengat, menguar dari dalam tas ransel Hasan yang tergeletak di dalam tenda. Aroma yang harum dan wangi, namun membuat suasana terasa tidak nyaman.
"Kalian tahu nggak, ada bebauan yang menjadi pertanda kalau kita sebenarnya tidak sendirian," ucap Laila tiba tiba. Pipinya yang cubby nampak mengembang dibarengi bola matanya yang melotot.
"Ya kan kita memang bareng bareng Lai. Siapa yang bilang sendirian," sanggah Sani.
"Maksudnya bukan begitu Sani Bin Abdulganiiii," Yolla melotot gemas. Sebuah cubitan mendarat di paha Sani tanpa perlawanan. Sani mengaduh, meringis kesakitan.
"Bau ketela yang dibakar, konon ceritanya itu ada pocong di sekitar kita. Bau bunga melati, juga bau pandan wangi, semuanya menjadi penanda ada makhluk lain yang mungkin tengah mengawasi," bisik Laila.
"Jangan gila dong. Cepetan buka tas mu San! Bulu ketekku merinding ini, sial!" gerutu Sani.
Hasan meraih tas ranselnya. Ada rasa bimbang di hati. Padahal dia tadi begitu yakin kalau dalam tasnya hanya ada ubi dan pisang emas. Namun gara gara ucapan Laila, kini rasa takut menguasai hati, jari jari tangannya bergetar hebat.
Hasan menelan ludah. Dia mengedarkan pandangan, menatap satu persatu teman temannya. Wajah wajah yang terlihat tegang. Dada terasa sesak, seolah oksigen dalam tenda menipis dengan tiba tiba.
"Ayoklah, buka ranselmu," ucap Asrofi sembari mengusap dahinya yang mulai berkeringat. Tak peduli seberapa dingin udara malam, nyatanya rasa takut membuat sekujur tubuhnya gerah.
Perlahan, Hasan menarik resleting ranselnya. Menimbulkan bunyi bergema yang memecah kesunyian. Aroma pandan semakin menyengat berputar putar terjebak di dalam tenda. Sebuah kantong plastik warna hitam ada di dalam ransel.
Suasana berubah tegang. Bahkan Sani yang biasanya asal ngomong pun kali ini memilih diam. Semua mata tertuju pada kantong kresek yang dipegang Hasan. Dan saat kantong tersebut dibuka lebar, nyatanya hanya ada ubi dan pisang emas di dalamnya. Tak ada yang aneh, kecuali aroma pandan yang masih menguar di udara.
"Woooo, mbelgedhes! Wong cuma pisang sama ubi lho udah bikin semua takut. Aku sampek ngerasa celana dalamku agak basah. As*!" Sani mengumpat kesal.
"Kamu ngompol Ni?" tanya Asrofi, menoleh menatap Sani.
"Dikit, cuma dipucuk kok. Setetes doang," Sani nyengir.
__ADS_1
"Nggilaniii!" bentak Yolla.
Sani meraih kresek hitam di tangan Hasan. Dia mengambil satu pisang, segera mengupas dan memakannya dalam sekali suap.
"Wooo, tanganmu Niii," teriak Yolla jengkel.
"Yang tadi ngomong katanya aroma pandan, kita nggak sendirian gaes. Manaaa?? Halah halah, makan nih pandan," ucap Sani mencibir Laila.
Laila diam saja, tak menyahut. Entah apa yang dipikirkan gadis gemuk itu. Saat semua orang merasa lega karena tidak ada benda aneh yang dibawa Hasan, Laila nampak murung dan masih terlihat khawatir.
"Sudah sudah. Sekarang biarkan Hasan istirahat. Yang lain segera packing, besok pagi kita dijemput mobil pick up. Jangan sampai ada yang tertinggal. Sampah sampah plastik bisa dibakar di api unggun. Jangan sampai kita mengatasnamakan club pecinta alam, tapi kegiatan kita malah meninggalkan sampah," ucap Asrofi bijak. Dia menghentikan Sani yang mengolok olok Laila.
"Nita, jangan dekat dekat Hasan lho ya. Dia masih capek, jangan diganggu," Sani kali ini meledek Nita.
"Otakmu kebanyakan pasir Ni. Ngeres," Nita melotot.
Sani hanya tertawa, kemudian beranjak keluar tenda. Hasan merebahkan tubuhnya di kasur lantai. Tak henti hentinya Hasan mengucap syukur dalam hati karena bisa keluar dari hutan dengan selamat. Sementara Yolla menyadari gelagat aneh dari Laila. Ekspresi perempuan gemuk itu jelas menunjukkan kekhawatiran dan rasa takut.
"Tentu saja tidak Yolla. Perasaanku nggak enak," bisik Laila. Mereka berdua berpindah duduk di pojok tenda sambil melipat baju kotor untuk dimasukkan dalam ransel.
"Ada apa sih? Cerita dong cerita," desak Yolla penasaran.
"Kamu tahu oleh oleh yang dibawa Hasan, itu nggak wajar," ucap Laila lirih.
"Hah? Itu kan cuma ubi dan pisang emas Lai. Parno mu berlebihan deh," sanggah Yolla.
"Sudah kukatakan tadi, aroma pandan itu sangat aneh. Tidak ada daun pandan dimanapun di tempat ini. Lagipula segala jenis 'polo kependhem' termasuk ubi serta pisang emas itu biasanya digunakan sebagai pelengkap sajen," Laila melotot menggenggam tangan Yolla dengan erat.
__ADS_1
"Sudahlah Lai. Kita lebih baik berpikir positif saja, juga berdoa semoga semuanya baik baik saja," ucap Yolla mengakhiri percakapan. Laila hanya mengangguk meski hatinya masih gusar.
Malam beranjak semakin larut. Udara dingin menembus jaket berbahan parasit yang dikenakan Asrofi. Nita, Yolla, dan Laila sudah tidur di dalam tenda. Hasan pun nampak terlelap. Wajar saja dia kelelahan setelah berjalan seharian tanpa jeda.
Kini tinggal Asrofi yang masih sibuk membereskan tali temali, juga beberapa perlengkapan penjelajahan. Sebagai ketua club, Asrofi sangat sadar tugas dan kewajibannya. Termasuk memastikan semua perlengkapan tidak ada yang tertinggal. Karena barang barang tersebut termasuk fasilitas milik kampus.
Sementara di luar tenda di depan api unggun, Sani duduk termenung. Asrofi sedikit heran melihat Sani yang tak bergeming dari tempat duduknya sedari tadi. Bahkan barang barangnya pun terlihat berserakan belum dibereskan.
"Ni, kamu nggak tahan dingin atau gimana sih? Sedari tadi nungguin api unggun terus," tanya Asrofi. Dia berdiri di belakang Sani yang masih diam mematung.
"Kenapa?" tanya Sani. Nada suaranya terdengar datar. Dia sama sekali tak menoleh, tetap memunggungi Asrofi.
"Itu lho semua orang sudah packing. Tinggal kamu tok yang belum. Besok pagi pagi kita sudah harus pulang," Asrofi menghela nafas. Sani memang anggota club yang kadang terasa sangat menyebalkan.
"Aku nggak mau pulang," ucap Sani lirih.
"Hah? Nggak usah aneh aneh. Perlengkapan club sudah aku beresin. Kalau perlengkapan pribadi, packing masing masing dong. Masak iya perlengkapanmu, aku juga yang harus beresin. Ayoklah, aku tuh ketua club bukan jongos ya," gerutu Asrofi jengkel.
"Ya sudah," sambung Sani lirih.
"Please lah jangan becanda c*k. Aku capek, mau istirahat juga!" kali ini Asrofi membentak, mulai kehilangan kesabarannya.
"Iya," jawab Sani.
Asrofi benar benar marah kali ini. Dia menarik bahu Sani, berusaha menyeretnya ke dalam tenda. Namun sayang, tenaga Asrofi tak cukup kuat menarik Sani. Laki laki berambut kribo itu tak bergeming. Berulang kali Asrofi mencoba menarik tubuh Sani tapi tetap saja tak mampu membuat Sani bergerak.
Setelah beberapa saat, akhirnya Sani menggerakkan kepalanya. Perlahan dengan gerakan yang patah patah, Sani menoleh. Di depan kobaran api unggun, wajah Sani nampak pucat membiru. Urat urat wajah dan lehernya terlihat menonjol. Kedua bola mata melotot dan berair dengan warna putih seluruhnya.
__ADS_1
"Aku nggak mau pulang!" bentak Sani dengan suara yang terdengar serak, seolah ada beberapa orang yang bersuara.
Bersambung___