
Sebuah tikar dari daun pandan sudah dibentangkan di atas rerumputan hijau depan gapura lawas. Mbah Yon menata kendi dan sebuah cawan dari tanah liat. Sedangkan Lik Kani, Dini dan Pak Sopir hanya mengamati dengan mulut terkatup rapat.
"Kalian kemarilah," Mbah Yon mengayun ayunkan tangannya, meminta pada orang orang untuk mendekat.
Lik Kani, Dini dan Pak Sopir hanya bisa menurut. Mereka melepas alas kaki dan kemudian duduk melingkar di atas tikar. Mbah Yon menggulung daun sirih yang masih muda, kemudian menyumpalkannya di ujung kendi.
"Nak Purbo merupakan trah keturunan Mbah Kusworo. Beliau itu orang sakti. Bahkan sewaktu aku kecil, sering sekali dengar cerita kalau jaman perang dulu, musuh kebingungan mengatasi perlawanan Mbah Kusworo yang kebal senjata. Saat terakhirnya, Mbah Kusworo dikuburkan secara terpisah antara badan dengan kepala. Mungkin Kani juga sudah kenyang dengan cerita itu," ucap Mbah Yon dengan mata berbinar. Dia menghidupkan semacam obor yang ditancapkan ke tanah. Semua peralatan itu tadi dia bawa dalam tas slempang hitam yang sempat membuat Lik Kani penasaran dengan isinya.
"Kok malah ngomongin dongeng," sahut Pak Sopir.
"He he he, itu bukan dongeng. Sebuah cerita turun temurun yang benar adanya. Bahkan se penglihatanku, Mbah Kusworo sempat mencoba menolong Nak Purbo namun keberadaannya ditolak," jelas Mbah Yon.
"Aku sendiri belum tahu, letak pasti dimana Nak Purbo tersesat. Jadi, aku membutuhkan bantuan Mbah Kusworo. Apapun yang kalian lihat nanti, se menakutkan apapun itu, jangan lari. Bertahanlah di dalam tikar ini," lanjut Mbah Yon.
Lik Kani menelan ludah mendengar ucapan Mbah Yon. Dia mengangguk meskipun hatinya was was.
"Setelah aku masuk ke dalam hutan sana, kalian harus menjaga kendi ini. Pegang kendi ini terus menerus. Kalian tidak boleh melepaskannya sebelum ada tanda dariku," Mbah Yon mengedarkan pandangan.
"Tanda apa Mbah?" tanya Lik Kani penasaran.
"He he he, nanti kalian juga akan tahu," Mbah Yon terkekeh.
"Intinya begini, kalian harus tetap berada di atas tikar. Pegang kendinya, jangan dilepas sebelum aku beri tanda. Nah setelah kuberi tanda, bawa pergi kendinya. Nggak usah menungguku. Nggak usah mencariku. Kalian segera pergi ke tempat Nak Purbo dirawat. Kemudian usapkan air dalam kendi ke wajah Nak Purbo," ucap Mbah Yon mengakhiri penjelasannya.
"Itu sih mudah Mbah," sahut Pak Sopir memcibir.
"He he he, ya mudah. Tapi kadang bisa membuat orang sepertimu ngompol di celana," Mbah Yon tertawa.
"Apapun akan kulakukan, yang penting Mas Purbo kembali," sambung Dini meyakinkan.
__ADS_1
"Yaahh, semoga saja Nak Purbo mau kembali," Mbah Yon tersenyum sekilas.
Laki laki berambut putih itu mengambil sebuah gulungan sirih di saku bajunya. Kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan. Dia berdiri dan berjalan keluar dari hamparan tikar.
Mbah Yon terus mengunyah daun sirih hingga benar benar lembut. Setelahnya, dia mengelilingi hamparan tikar sembari meludah. Ludah yang terlihat merah pekat. Dini merasakan tubuhnya merinding, sedikit jijik dengan apa yang dilihatnya.
Mbah Yon duduk bersila di atas rumput, menghadap gapura lawas yang nampak gelap tanpa pencahayaan. Matanya terpejam, mulut komat kamit. Sesekali terdengar suaranya seperti menggeram.
Angin bertiup dari hutan di balik gapura lawas. Aroma pandan tercium menyengat. Terlihat daun bambu kering kecokelatan beterbangan, meski tak nampak rumpun bambu dimanapun.
Dari balik gapura lawas, samar samar terlihat sosok yang berjalan mendekat. Dengan langkah yang terseok seok, sosok itu menenteng sesuatu di tangan kanannya. Bersama kegelapan, dia datang dalam senyap.
Setelah cukup dekat, cahaya obor yang tertancap di tanah menunjukkan wujud sosok itu dengan jelas dan nyata. Kuku tangan yang menghitam, pakaian serba putih nan lusuh, kaki kaki pucat membiru tanpa alas.
Sosok itu ternyata berjalan tanpa kepala. Tangan kanan menenteng benda terbalut kain putih kecokelatan. Pak Sopir gemetar ketakutan melihatnya. Apalagi saat sosok itu terus berjalan mendekat pada rombongan yang bersimpuh di atas tikar pandan.
Blughh
Suara benda jatuh, berdebum di atas rerumputan. Sosok itu menjatuhkan benda di tangan kanannya yang sedari tadi di genggam dengan erat. Kain yang membungkusnya tersingkap. Akhirnya terlihat jelas, benda yang awalnya tertutup kain kafan itu.
Lik Kani, Dini dan Pak Sopir terpaku di tempat duduknya. Tidak ada yang mampu bersuara, semua tercekat, diam seribu bahasa. Bahkan Pak Sopir terlihat gemetar, serta merta cairan hangat membasahi kedua pahanya.
Di atas rerumputan, sepotong kepala tergeletak. Rambutnya ikal, kulit pucat pasi, dengan janggut penuh cipratan lumpur yang telah mengering. Kedua mata yang tertutup rapat secara tiba tiba berkedip menunjukkan bola mata yang putih seluruhnya.
"Noonn, demit Noonn," Pak Sopir merintih lirih. Aroma pesing menguar di udara. Dini dan Lik Kani mengacuhkannya.
"Ngaturaken sembah pangabekti kawula," ucap Mbah Yon tiba tiba sembari membungkuk.
"Siapa gerangan dirimu? Berani memanggilku, mengusikku!" kepala yang tergeletak di rerumputan itu membentak dengan bola mata yang melotot. Suaranya menggelegar menakutkan. Serta merta angin bertiup kencang, membuat nyala obor bergoyang goyang sesaat.
__ADS_1
"Saya Yono Mbah. Keturunan dari Mbah Sukro, rewang panjenengan," jawab Mbah Yon tertunduk.
"Saya datang kemari atas perintah Ibu Sudarsih, cucu cicit Njenengan yang sedang dirundung kesusahan. Anaknya yang bernama Purbo, sukmanya Kobeng Mbah, tersesat digondol 'mereka' yang tinggal di wilayah sini," lanjut Mbah Yon.
"Aku sudah pernah bertemu dengannya," sahut potongan kepala itu dengan suara seraknya.
"Mohon bimbingannya Nggeh," ucap Mbah Yon kemudian.
"Kamu sudah tahu kan resikonya jika nekat mendatangi tempat 'mereka'? Ada janji yang harus ditepati, ada hal yang harus dikorbankan," bentak potongan kepala Mbah Kusworo. Mbah Yon mengangguk cepat dan mantab.
"Trah keturunan kami, sudah siap mengabdi pada trah keturunan panjenengan Mbah," tukas Mbah Yon meyakinkan.
"Ikut denganku!"
Badan Mbah Kusworo bergerak. Tangannya yang pucat dan keriput meraih kepala yang tergeletak di atas rerumputan. Sosok itu kembali berjalan dengan menenteng kepalanya. Melangkahkan kaki ke arah gapura lawas dengan terseok seok.
Mbah Yon segera berdiri, mengekor di belakang sosok yang menyeramkan itu. Mbah Yon sama sekali tak menoleh pada orang orang di belakangnya yang gemetar ketakutan. Pada akhirnya, Mbah Yon menghilang di tengah pekatnya kegelapan hutan.
"Pak, kamu ngompol ya?" bentak Dini pada Pak Sopir, setelah semua kengerian yang ada di hadapannya menghilang.
"Kelepasan Non," Pak Sopir tertunduk malu.
"Dih, badan doang yang gedhe. Nyalinya se cuil," ledek Lik Kani. Padahal dirinya juga nyaris pingsan ketakutan.
"Wajar kalau kamu nggak takut Lik. Lha wong itu kan Mbah Buyutmu Lik. Berarti Njenengan, juga Tuan Purbo itu keturunan orang sakti ya?" Pak Sopir bertanya dengan nafasnya yang tersengal.
"Nggak tahu!" jawab Lik Kani cepat.
Bersambung___
__ADS_1