
Dok dok dok dok
Suara ketukan membangunkan Purbo dari tidurnya. Padahal baru sekejap kelopak mata itu terpejam. Sedikit gelagapan dia memperhatikan keadaan sekitar.
Purbo tak lagi berada di kursi ruang tamu. Aroma lumpur dan rumput yang 'langu' menyengat indera penciuman. Purbo tengah terbaring di atas tanah basah, separuh tubuhnya terbenam disana. Di sekeliling Purbo, nampak pepohonan besar menjulang tinggi.
"Arrghhhh," Purbo mengerang kesakitan. Kedua kakinya yang terbenam tak bisa digerakkan.
Tangan kiri Purbo pun terasa ngilu. Sedangkan tangan kanannya nampak penuh dengan cairan warna merah kental dan beraroma anyir.
"Toloonggg!" Purbo berteriak sekuat kuatnya.
Hening. Suara Purbo bergema, memantul dan terdengar kembali di gendang telinga. Dengan susah payah tangan kanan Purbo mencakar cakar tanah dan berhasil menggapai sebuah akar pohon. Dia berpegangan pada akar itu, dan menyeret tubuhnya keluar dari dalam lumpur.
"Aarrgghhhh," Purbo mengerang. Entah apa yang terjadi, perih terasa di sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang tak terperi, tanpa sadar membuat air matanya meleleh sendiri.
Purbo berhasil mengeluarkan kedua kakinya dari dalam lumpur. Tulang kering kiri terlihat bengkok dengan posisi tak wajar. Telapak kakinya menoleh ke belakang. Pantas saja Purbo merasakan sakit yang luar biasa.
Sambil meringis dan menarik nafas, pelan pelan Purbo mengamati kondisi tubuhnya. Dia baru sadar saat ini tengah mengenakan sebuah jaket.
"Jaket ini kan. . .," gumam Purbo, menyadari jaket kulit yang dia kenakan kini sama dengan jaket waktu hari pertama dia lupa segala hal. Celana, juga sepasang sepatu boot yang ternyata sama dengan waktu dia mengantar Dini periksa ke dokter.
Purbo menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang berdiri kokoh di belakangnya. Dia melepas jaket, kemudian mengikat kakinya yang patah dengan jaket tersebut. Sambil mengerang kesakitan, Purbo mengikat kuat kakinya, hingga terdengar bunyi tulang gemeretak.
Jeritan ngilu bergema. Purbo hampir pingsan dibuatnya. Keringat dingin membasahi kening dan pelipis. Kaki Purbo terlihat lebih baik kali ini. Nampak lurus meski panjangnya tidak sama.
"Tolooonggg!" Purbo kembali berteriak, mencoba mencari pertolongan. Namun tak ada tanda tanda seorang pun disana.
Purbo merogoh saku celananya. Dia sudah menduga akan menemukan dua buah benda di dalam saku celana. Liontin bergambar perempuan dan sebuah handphone yang terkunci.
Tak jauh dari tempat Purbo bersandar ada sebuah kotak kardus berwarna putih dengan pita merah muda yang cantik. Sayang warna yang melambangkan kesucian itu harus kotor oleh bercak bercak lumpur yang menempel.
Purbo menyeret pantatnya untuk bergerak, meraih kotak kadus itu. Susah payah, akhirnya Purbo berhasil meraih kotak dan segera membukanya. Sebuah gaun pengantin berenda warna putih bersih. Ada sebuah kertas di bagian bawah kotak.
__ADS_1
Kertas putih beraroma wangi parfum berisi ucapan selamat kepada Purbo dan Dini yang segera melangsungkan pernikahan. Di kertas itu juga tercetak gambar Purbo memakai tuksedo dan seorang perempuan cantik dengan riasan natural. Perempuan yang sama dengan foto di liontin.
Purbo semakin dibuat bingung. Kepalanya terasa berdenyut. Pandangannya tiba tiba saja berputar putar, dibarengi suara ketukan ketukan di kejauhan. Suara kayu yang dipukul pukul semakin keras dan semakin dekat. Purbo memejamkan matanya. Semakin terasa sakit, seolah kepalanya tengah di cengkeram dan dihantam hantamkan.
Dok dok dok dok
"Haaahhhh!" Purbo membuka mata. Kini dia kembali duduk di kursi kayu ruang tamu.
Suara ketukan bertubi tubi terdengar dari area dapur. Purbo memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Memperhatikan kaki kirinya yang ternyata utuh, tak ada luka atau lecet secuil pun.
Purbo beranjak ke dapur, mencari tahu suara ketukan yang sedari tadi mengganggunya. Ternyata Mak Nah tengah memasang paku di dinding dapur.
"Ngapain Mak?" tanya Purbo ketus.
"Masang paku untuk gantungan panci Tuan," jawab Mak Nah.
"Kenapa nggak besok siang saja sih Mak? Sumpah suaranya mengganggu," sahut Purbo jengkel.
Purbo berbalik badan dan bergegas masuk ke dalam kamar. Dia menemukan Dini duduk di bawah lampu kamar yang temaram. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai di atas kasur. Seulas senyum merekah di bibirnya yang mungil.
"Ada apa Mas?" tanya Dini saat melihat Purbo hanya berdiri termenung menatapnya.
"Ah, engg nggak kok. Aku capek," jawab Purbo beralasan.
"Hmm, sini Mas istirahat sini," Dini melambai lambaikan tangannya, meminta Purbo untuk mendekat.
Purbo menurut. Dia duduk di sebelah Dini. Ada keraguan di hatinya kini. Mimpi yang baru saja dialami sungguh membuat hatinya terusik. Semakin banyak hal aneh dan membuat dirinya curiga pada Dini, Mak Nah, dan lingkungan tempat tinggalnya.
"Kenapa Mas?" tanya Dini sekali lagi saat melihat Purbo termenung di atas ranjang tempat tidur.
"Nggak kok. Aku nggak pa pa. Hanya merasa lelah saja," jawab Purbo tanpa menoleh pada Dini.
"Kamu baru tidur ya Mas?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Purbo balik bertanya.
"Kan sudah aku katakan tadi, jangan tidur waktu surup, nggak baik. Bisa bikin kepala pusing, lupa waktu, dan mendatangkan pikiran yang aneh aneh Mas," Dini mendekatkan tubuhnya pada Purbo.
Purbo tak bergeming mendengar penjelasan Dini. Dia tak terlalu memperhatikan istrinya itu. Pikirannya kacau, dan kalut. Teringat pula janji bertemu dengan Jasman esok hari. Lenyapnya ceking juga menjadi salah satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar bagi Purbo.
Saat Purbo melamun, Mak Nah datang membawa kendi dan gelas berisi wedang parem hangat.
"Mak Nah, bisa nggak kalau masuk ke kamar ketuk pintu dulu atau permisi dulu? Jangan maik nyelonong saja!" bentak Purbo jengkel.
"Maaf Tuan. Saya pikir karena pintunya terbuka jadi," ucap Mak Nah sambil tertunduk.
"Kalau njenengan bisa berpikir, seharusnya njenengan tahu adab!" sergah Purbo memotong ucapan Mak Nah.
"Maass, sabar dong. Jangan bentak bentak gitu," Dini meraih tangan Purbo dan menggenggamnya erat.
"Yang benar saja Din. Kamu membelanya? Dia salah lhoh," Purbo geleng geleng kepala tak percaya.
"Sabar Mas. Kamu kok jadi sensitif banget sih Mas," Dini berusaha merangkul Purbo, namun laki laki itu menggeser duduknya, menjauh.
"Maafkan saya Tuan dan Nyonya, saya yang salah," ucap Mak Nah tertunduk.
"Sudah pergilah! Aku mau istirahat!" bentak Purbo.
Dengan wajah yang memerah Mak Nah mengangguk dan beringsut mundur. Saat Mak Nah mencapai ambang pintu kamar, Purbo sekali lagi berteriak keras.
"Tutup pintunya!"
Mak Nah menurut dan menutup pintu dari luar. Kemudian dia berjalan ke dapur dengan gigi gemeretak beradu menahan emosi yang terlanjur meluap. Sampai di dapur, Mak Nah melempar nampan alumunium di tangannya. Menimbulkan bunyi berisik yang memecah kesunyian.
"Slira gawe aku wirang! Wedhus!" Umpat Mak Nah dengan bola mata membulat.
Bersambung___
__ADS_1