KOBENG

KOBENG
Telungpuluh


__ADS_3

Saat kaki Purbo melangkah masuk ke dalam rumah, Mak Nah nampak berdiri di tengah ruangan. Perempuan itu menyambut Purbo dengan tatapan tajam. Dia bersedekap dengan raut muka yang tak sedap dipandang mata.


Sungguh Purbo merasa Mak Nah bukan seperti layaknya seorang pembantu. Perempuan tua itu terlihat mengintimidasi dan seolah tak suka dengan kegiatan majikannya yang tidak sesuai dengan kehendaknya.


"Tuan darimana?" tanya Mak Nah ketus.


"Kenapa tanya tanya?" balas Purbo jengkel.


"Kenapa Tuan kelayapan saat istri njenengan tengah hamil tua? Seharusnya njenengan tinggal di rumah menemani Nyonya," protes Mak Nah.


"Aku tidak kemana mana. Hanya berusaha berbaur dengan warga desa. Kita sebagai makhluk sosial pasti butuh bantuan orang lain. Bagaimana kita bisa mendapat bantuan orang lain, kalau kita tak pernah mau berbaur?" Purbo melotot.


"Urusan berbaur dengan warga desa, itu tugasku Tuan. Tugas njenengan adalah menjaga kehamilan Nyonya!" bentak Mak Nah.


"Lancang benar mulutmu itu! Berani kamu membentakku? Kamu lupa posisimu disini Mak Nah?" Purbo marah. Dia tak terima dibentak oleh pembantunya sendiri.


Raut muka Mak Nah memerah. Tangannya terkepal erat. Mak Nah memejamkan mata, dengan bibir komat kamit seakan tengah membaca mantra. Purbo semakin kesal, amarahnya sudah tak terbendung. Dia hendak membuka mulut untuk mengusir pembantunya itu, saat terdengar suara Dini memanggil dari dalam kamar.


"Mas Pur? Mak Nah? Tolong hentikan. Jangan berdebat," ucap Dini lirih.


Mendengar suara Dini, Mak Nah langsung membuka mata dan beringsut mundur dari hadapan Purbo. Mak Nah masuk ke dalam bilik tempat tidur Dini. Purbo menyusul mengekor di belakangnya.


"Tolong jangan berdebat," ucap Dini sekali lagi. Mak Nah mengangguk pelan.


"Mak, ambilkan aku minum ya," Dini meminta tolong pada Mak Nah.


"Baik Nyonya," Mak Nah mengangguk dan segera melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Mas, sini mendekatlah," Dini memanggil suaminya yang berdiri bersandar pada besi penyangga kelambu.


Purbo menghela nafas, membuang sisa sisa emosinya. Dia duduk di sebelah Dini yang tengah berbaring di ranjang. Tubuh Dini terasa beku, dengan cekungan matanya yang nampak semakin dalam. Purbo merasa istrinya itu semakin kurus dan lemah.


"Mas, jangan marah marah. Kita sebentar lagi jadi orangtua. Ingat, menjadi orangtua itu harus bisa memberi contoh yang baik untuk anaknya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau Mas marah marah begini, apa Mas mau si Purbo junior nanti jadi anak yang pemarah?" Dini menatap Purbo dalam dalam.

__ADS_1


"Yaa aku tahu. Tapi Mak Nah sudah keterlaluan. Dia tidak sadar posisi Yang. Berani beraninya dia membentakku," Purbo masih berbicara dengan nada yang tinggi.


"Itu karena dia peduli padaku Mas, pada kita," sahut Dini cepat.


"Tadi dia menutup mata komat kamit. Mungkin perempuan tua itu mengutuk, atau mendoakan buruk padaku. Kepedulian apa itu? Hah?" Purbo masih tak terima.


"Sekarang aku tanya padamu Mas. Mas tadi darimana? Sampai malam kayak gini. Apalagi hujan deras, berangin pula. Istri mana yang tak khawatir dengan suaminya yang keluyuran dalam cuaca buruk begini?" Dini meraba pipi kanan Purbo.


"Aku hanya ngopi sebentar tadi. Lalu terjebak hujan, untung ketemu Jasman," jawab Purbo kalem. Emosinya sudah lenyap saat tangan lembut Dini menyentuhnya.


"Jasman?" Dini mengernyitkan dahi.


"Ya, Jasmannya Mbak Ajeng. Dia meminjamkan payung dan senter untukku, sehingga aku bisa pulang meski kondisi hujan dan gelap," Purbo menggenggam tangan Dini, menurunkan dari pipinya. Kemudian Purbo menggenggam erat tangan yang terasa beku itu.


"Oohh, Mas Jasman penjual rawon," Dini manggut manggut.


"Emmm. . .Soal marahnya Mak Nah, mungkin Mak Nah marah karena kamu berhasil membuat istri yang tengah hamil ini khawatir Mas," Dini tersenyum.


"Se sayang itu Mak Nah padamu?" Purbo mencibir.


Purbo menghela nafas. Dia tak lagi bisa membantah saat Dini mengucap kalimat itu. Mungkin memang Mak Nah menganggap Dini sebagai putrinya. Sehingga dia marah saat Purbo keluyuran dan membuat Dini khawatir. Purbo menggaruk garuk kepalanya, pusing memikirkan tentang Mak Nah.


"Emm, baiklah. Sekarang kita bahas yang lain saja," ucap Purbo mengalihkan pembicaraan.


"Apa?" tanya Dini dengan seulas senyum manja.


"Tahu nggak, aku tadi tanya ke warga yang kebetulan ngopi di warung. Aku tanya perihal Ceking, karena laki laki kurus itu tak terlihat batang hidungnya di warung si Tomi. Nah orang orang disana tuh pura pura nggak kenal Ceking Yang. Aneh kan?" ucap Purbo antusias.


"Mas, aku harap kita fokus pada kehidupan rumah tangga kita saja. Untuk apa berbaur dengan orang orang dan bertanya hal random seperti itu? Nggak penting kan?" Dini menarik tangannya dari genggaman Purbo.


Pada saat itu Mak Nah datang membawa satu gelas air berwarna putih keruh, seperti susu. Purbo yang awalnya kebingungan dengan ucapan Dini, kini perhatiannya teralihkan dengan minuman aneh yang dibawa oleh Mak Nah.


"Minuman apa itu Mak?" tanya Purbo penasaran.

__ADS_1


"Ini tajin Tuan, sari pati nasi. Sehat dan bisa menambah tenaga Nyonya Dini," jawab Mak Nah. Purbo manggut manggut.


"Silahkan Nyonya, diminum," ucap Mak Nah pada Dini. Istri Purbo itu menurut dan segera menenggak habis minuman buatan Mak Nah.


"Tuan, sebelum tidur njenengan nanti jangan lupa minum wedang paremnya," kali Ini Mak Nah menoleh pada Purbo dengan sebuah senyuman yang terlihat ramah. Jauh berbeda saat dia menyambut kedatangan Purbo tadi.


"Nggak haus Mak. Cuaca juga lagi dingin, hujan. Kok disuruh minum terus," sahut Purbo asal.


"Wedang parem banyak khasiatnya Tuan. Agar njenengan tidak masuk angin, pegal dan capek hilang. Terus agar njenengan tidurnya pules, nggak mimpi yang aneh aneh," jelas Mak Nah.


Purbo mengernyitkan dahi dan penasaran. Darimana pembantunya itu tahu kalau dia sering mimpi aneh? Apakah asal tebak saja?


"Mas, nanti minum wedang paremnya ya?" Dini ikut membujuk.


"Ah, iya deh iya. Aku mandi dulu kalau gitu. Kehujanan malah bikin badan terasa lengket," Purbo berdiri, menyambar handuk di gantungan dan melenggang keluar kamar.


Mak Nah mendekati Dini sesaat setelah memastikan Purbo sudah menjauh dari bilik tempat tidurnya.


"Suamimu itu ternyata tidak sepenuhnya lupa dengan pesta 'bebendhu," ucap Mak Nah datar.


"Bagaimana bisa Mak?" tanya Dini khawatir. Mak Nah hanya menggeleng pelan.


"Pantas saja dia tadi menanyakan soal Ceking," lanjut Dini.


"Dia harus rutin meminum wedang paremnya," Mak Nah menghela nafas.


"Gimana kalau dia ingat sebelum 40 hari Mak?" Dini nampak hampir menangis.


"Tak perlu khawatir Nyonya. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu memilikinya," Mak Nah mengusap bahu Dini.


"Ya aku serahkan padamu. Terimakasih Mak. Terimakasih sudah membawaku ke desa ini. Terimakasih sudah merawatku selama ini," Dini menggenggam tangan Mak Nah yang terlihat keriput.


"Sama sama Nyonya. Sudah menjadi tugasku untuk membuat warga baru di desa Ebuh merasakan kebahagiaan. Jadi, njenengan tak perlu berterimakasih," jawab Mak Nah sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2