
Tidak seperti hari hari sebelumnya, Purbo terbangun dari tidur dalam keadaan acak acakan kali ini. Beberapa ruas sendi terasa ngilu dan linu. Lehernya terasa kaku. Berkali kali dia menguap, menandakan istirahatnya semalaman kurang berkualitas.
Purbo menoleh, dan ternyata Dini tak ada di atas ranjang tempat tidur. Purbo menyingkap selimut, berniat keluar dari kamarnya yang entah kenapa pagi ini terasa pengap. Namun saat hendak melangkah, Purbo merasakan nyeri di bagian mata kaki sebelah kiri.
Purbo duduk di sudut ranjang dan memeriksa kakinya. Ada sebuah luka basah dan memerah di pergelangan kaki sebelah kiri. Padahal sebelum tidur tadi malam, Purbo yakin tidak memiliki luka itu. Apa mungkin saat tidur dia tanpa sadar menendang sesuatu hingga melukai kakinya sendiri. Namun tak ada benda apapun di sekitar tempat tidur yang sekiranya tajam hingga melukainya seperti itu.
Sambil menahan nyeri, Purbo membuka lemari dan mengambil kotak kaleng berisi kain kasa, antiseptik, dan peralatan P3K lainnya. Dengan cekatan, laki laki itu membalut luka di pergelangan dan mata kakinya. Dia merasa cukup heran, ternyata punya kemampuan membalut luka dengan baik.
"Hmmm, sepertinya aku lebih cocok jadi perawat daripada seorang pelukis," gumam Purbo sendirian. Dia sedikit terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.
Setelah luka aneh di kakinya selesai di perban, Purbo berjalan keluar kamar. Dia hendak ke kamar mandi. Namun saat melihat sekelebat bayangan di depan rumah, Purbo akhirnya melangkah ke ruang tamu.
Suasana ruang tamu lengang dan sepi. Sarang laba laba yang baru saja Purbo bersihkan beberapa waktu yang lalu, nyatanya kini sudah menumpuk lagi. Langit langit ruang tamu kembali terlihat kotor dan kusam.
Terdengar langkah kaki mondar mandir di teras depan. Suara langkah yang pelan, namun karena keadaan sekitar yang sunyi indera pendengaran Purbo dapat menangkapnya dengan gamblang. Purbo membuka pintu rumah dan seperti biasanya kabut putih ke abu abu an langsung menyambut.
Di sudut teras rumah nampak Dini tengah berdiri memunggungi Purbo. Dia memakai baju terusan berenda berwarna hitam, susah dibedakan dengan warna rambut panjangnya yang juga legam.
"Yang? Ngapain disitu? Badanmu sudah baikan ya?" tanya Purbo berjalan mendekat.
Dini diam tak bergeming. Dengan masih memunggungi Purbo, tangannya bergerak gerak, mungkin mengusap perutnya yang lonjong dan besar.
"Din, aku boleh tanya sesuatu?" ucap Purbo kemudian. Dia teringat obrolan Dini dengan Mak Nah tadi malam yang tengah merencanakan sesuatu.
Pertanyaan Purbo tak dijawab oleh Dini. Perempuan berbaju hitam itu hanya mengangguk perlahan. Dia juga tak menoleh, masih tetap menatap halaman samping rumah yang berkabut tebal.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Mak Nah? Apa itu wedang parem?" tanya Purbo pelan.
Udara dingin berhembus. Membuat bulu bulu halus di pergelangan tangan berdiri. Purbo merasakan kulitnya kering dan bersisik. Dia mengusap usap lengannya sendiri.
Sedangkan Dini masih diam terpaku memunggungi Purbo. Sesekali hanya terdengar deru nafasnya yang kasar. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dini. Kesunyian yang terasa panjang dan membuat Purbo merinding.
"Din? Kenapa kamu diam saja? Bukankah dalam berkeluarga, berumahtangga komunikasi adalah yang utama?" Purbo mulai meninggikan nada bicaranya. Dini masih tetap tak bergeming.
"Hey! Jawab pertanyaanku Dini! Aku nggak suka kamu acuhkan seperti ini!" bentak Purbo mulai marah.
Purbo mendekat dan meraih bahu perempuan di hadapannya. Pada saat yang sama terdengar langkah kaki dari ruang tamu.
"Mas sedang apa disitu?" sebuah suara menegur Purbo dari dalam rumah.
Sedikit tersentak, Purbo menoleh. Ternyata Dini tengah berdiri di ambang pintu rumah. Istrinya itu nampak memperhatikan Purbo sembari mengusap usap perut besarnya. Dini memakai baju tidurnya semalam, yang berwarna putih bersih.
Anehnya, perempuan berbaju hitam yang tadi mematung memunggungi Purbo kini lenyap begitu saja. Purbo mengucek ngucek kedua matanya. Dan sama saja, tak ada siapapun di hadapannya kini. Tangan Purbo tak lagi menggenggam bahu perempuan berbaju hitam tadi, kini jari jari tangan berkulit putih itu hanya mencengkeram angin.
"Mas, sedang apa disitu?" Dini mengulang pertanyaannya kala melihat wajah suaminya yang nampak bingung.
"Ah, sedang peregangan saja," jawab Purbo beralasan.
"Aku mencarimu tadi. Kamu terlihat sangat segar hari ini Din," ucap Purbo sambil berjalan mendekat pada Dini.
"Yaahh, waktu bangun tadi pagi tubuhku terasa enteng Mas," sahut Dini nampak ceria.
__ADS_1
"Oh, syukurlah. Ngomong ngomong tubuhmu wangi bunga ya," Purbo mengendus endus di dekat Dini.
"Iya kah? Sabun baru Mas," jawab Dini cepat.
Purbo tak menyahut. Dia berjalan melewati Dini dan duduk di kursi ruang tamu. Pikirannya mengawang jauh. Kian hari, hidupnya terasa semakin aneh.
Purbo juga teringat sosok perempuan berbaju hitam yang tadi berdiri di sudut teras rumah. Dia yakin tidak sedang berhalusinasi atau bermimpi. Sosok perempuan itu begitu nyata.
Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang timbul di benak Purbo. Pertanyaan pertanyaan yang entah bagaimana tak terbersit di otak Purbo di hari hari sebelumnya. Pertanyaan itu baru muncul saat dirinya tak lagi meminum wedang parem buatan Mak Nah.
Kenapa tak pernah terlihat warga luar desa yang masuk ke wilayah desa Ebuh? Hanya Hasan yang mengaku tersesat kemarin, satu satunya orang luar yang dijumpai Purbo. Bahkan pencari rumput pun berada di luar batas desa. Padahal rumput di area desa Ebuh lebih subur dan rimbun.
Hal aneh lainnya yang mulai Purbo sadari adalah tidak adanya pemerintahan di wilayah desa Ebuh. Bagaimana mungkin sebuah desa tanpa adanya kegiatan administrasi sama sekali?
Ada satu lagi yang benar benar aneh dan tidak masuk akal. Purbo baru teringat, di desa Ebuh tidak nampak satu pun anak kecil. Purbo tidak pernah menjumpai bayi, ataupun bocah bocah di desa Ebuh. Hanya ada orang dewasa, dan sedikit lansia yang menghuni desa terisolir tersebut.
Lalu bagaimana jika bayi dalam perut Dini sudah lahir? Purbo merasa anaknya tidak akan mendapatkan teman dan pendidikan yang layak bila masih tetap berada di desa Ebuh. Pertanyaan demi pertanyaan yang terus berputar putar di dalam kepala Purbo. Membuatnya gundah dan muncul kebiasaan menggigiti kuku jari tangannya sendiri.
"Mas mikir apa sih? Kok kayak bingung gitu?" tanya Dini penasaran, menyusul Purbo duduk di kursi kayu ruang tamu.
"Aku memikirkan masa depan anak kita. Kupikir setelah anak kita lahir lebih baik kita segera pindah rumah Din," jawab Purbo sembari menghela nafas.
Pada saat yang sama Mak Nah berjalan dari dapur, membawa sebuah kendi besar berwarna hitam legam.
"Tuan dan Nyonya, karena hari ini Nyonya Dini kembali sehat saya buatkan minuman spesial untuk merayakannya," ucap Mak Nah dengan mata berbinar.
__ADS_1
Bersambung___