KOBENG

KOBENG
Sewidak Telu


__ADS_3

Wajah renta yang terlihat kalem, juga senyum ramah yang meneduhkan itu telah sirna. Sosok pembantu tua yang selalu terlihat sabar, kini berubah menjadi sosok menyeramkan. Rambutnya yang putih kusut terurai menyentuh lantai semen yang berdebu. Bola matanya bulat memerah dengan cekungan hitam dan penuh kerutan.


Mak Nah menunjukkan wujud aslinya yang juga sempat dilihat oleh Hasan beberapa hari yang lalu. Kini Purbo hanya bisa berdiri terpaku memperhatikan leher Mak Nah dengan kulitnya yang bergelambir memiliki bekas jeratan tali tambang besar. Senyuman dari perempuan tua itu menunjukkan deretan gigi yang hitam legam.


"Jika saat Njenengan terbangun melihat sosokku yang seperti ini, apa Njenengan sudi tinggal bersama Nyonya?" Mak Nah menyeringai.


"Kami, warga desa Ebuh sudah lama menantikan kehadiran bayi Bajang," ucap Mak Nah. Tatapannya mengawang jauh. Purbo masih tak sanggup bersuara. Dia tertegun, merasakan bulir keringat mengalir di dahinya.


"Nyonya Sekar kecelakaan saat hamil tua. Dua nyawa tak tertolong dalam satu waktu. Janin dalam perutnya yang tak berdosa ikut menjadi korban. Dia datang ke desa ini dengan penuh kekecewaan, dan amarah. Namun saat melihat Njenengan, Nyonya lebih tenang. Akhirnya Nyonya menemukan kebahagiaannya," ujar Mak Nah dengan raut wajah yang mengerikan.


"Lalu, apa itu bayi bajang?" tanya Purbo setelah menguasai rasa takutnya. Suaranya masih terdengar bergetar.


"Bayi yang menyeberang dari dunia sana, ke dunia kami. Bayi Bajang lah yang akan menjadi pemimpin desa nantinya," jawab Mak Nah.


"Itu artinya kalian memanfaatkan Sekar untuk mendapatkan anaknya?" Purbo menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang terasa gersang.


"Njenengan salah Tuan. Nyonya Sekar sendiri yang menginginkan tinggal di desa ini. Mungkin malah Njenengan lah yang kami manfaatkan untuk membuat Nyonya senang hingga saat persalinannya tiba. Njenengan sangat berharga bagi Nyonya Sekar dan anaknya. Hal itulah yang membuat Njenengan juga begitu berharga untuk kami," lanjut Mak Nah.


"Makanya kalian menghukum Ceking, karena berusaha menyadarkanku dengan minuman aneh waktu itu," sela Purbo geram.


"Kopi pahit sajen namanya. Bagi warga asli desa Ebuh kopi itu terasa nikmat. Tapi untuk Njenengan yang pendatang, tentu akan berbeda. Ceking melanggar aturan, dan itu fatal bagi kami. Makanya dia dihukum," sambung Mak Nah melotot.

__ADS_1


"Ceking tak sebaik yang Njenengan pikir. Sudahlah Tuan, apa yang Njenengan sangka tentang kami tak sepenuhnya benar. Percayalah, hidup Njenengan lebih mulia di desa Ebuh daripada di luar sana," lanjut Mak Nah.


"Aku tak kan percaya. Kalian menghukum orang orang yang hendak memberitahuku tentang kebenaran tentangku, tentang tempat ini. Dengan menghukum Ceking, menyiksa Jasman. Dan menunjukkan wujud aslimu saat aku hendak pergi. Kamu pikir aku akan takut Mak? Tidak. Tekadku sudah bulat. Aku tak sudi berada di desa terkutuk ini!" Purbo meninggikan nada bicaranya. Tidak ada lagi rasa takut di hatinya.


"Jaga bicaramu Tuan! Yang Njenengan anggap buruk belum tentu demikian kebenarannya. Kami memang menghukum Ceking karena tindakannya yang melanggar aturan desa. Tapi kami tidak pernah menyiksa Jasman," bantah Mak Nah. Bola matanya melotot, seakan hendak keluar dari tempatnya.


"Aku bertemu Jasman waktu itu, wajahnya penuh dengan luka gores. Pasti kalian kan yang menyiksa Jasman? karena laki laki itu berusaha memberitahuku keadaan desa yang sebenarnya," Purbo terus mendebat Mak Nah.


"Njenengan ditipu olehnya. Kenapa ada bekas luka di wajah Jasman? Ya karena wujudnya memang seperti itu. Sama sepertiku dengan luka di leher ini Tuan. Jasman sengaja meminta Njenengan untuk tidak minum wedang parem agar dia bisa menunjukkan wujudnya yang asli. Membuat Njenengan yang dari awal berprasangka buruk padaku semakin menjadi jadi. Ibarat bara api yang sengaja disulut menggunakan minyak tanah," jelas Mak Nah.


Purbo terdiam sesaat, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut perempuan tua mengerikan itu.


"Untuk apa Jasman melakukan semua itu?" tanya Purbo. Nada bicaranya terdengar lebih kalem di antara bunyi gamelan yang menggelegar di luar rumah sang kepala desa.


"Kenapa?" sahut Purbo cepat. Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan dan rasa penasaran.


"Bayi Bajang merupakan bayi istimewa, yang akan melanjutkan kepemimpinan dari Mbah Modo. Njenengan tahu bagaimana jika bayi Bajang tidak pernah ditemukan? Apakah Mbah Modo akan terus menjadi pemimpin desa?" Mak Nah balik bertanya. Purbo menggeleng pelan.


"Jawabannya tidak. Setiap seratus tahun sekali, kepala desa harus berganti. Dan kandidat paling kuat sebagai pengganti Mbah Modo adalah Jasman. Ceking adalah salah satu pengikut dan pendukung Jasman. Dengan kelahiran bayi Bajang, bisa dikatakan mustahil bagi Jasman untuk menjadi pemimpin desa. Dia berusaha memanfaatkan Njenengan untuk menyakiti Nyonya agar bayi Bajang tidak pernah terlahir di desa ini," jelas Mak Nah sedikit terkekeh.


"Jasman tidak sebaik yang Njenengan sangka. Dia bukan teman!" ucap Mak Nah menegaskan.

__ADS_1


Purbo menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung, pergolakan batin terjadi. Ada sebagian dirinya yang percaya dengan ucapan Mak Nah. Dia juga teringat ucapan Jasman tempo hari, untuk tidak percaya dengan siapapun. Apa itu juga berarti Jasman tak boleh dipercaya? Siapa kawan dan siapa lawan, Purbo tak bisa membedakannya.


"Apapun itu keputusanku sudah bulat Mak. Aku akan pergi dari sini. Aku bukan bangsa kalian!" Purbo melangkah pergi.


Otot otot kaki Purbo terlanjur kaku karena rasa takut melihat sosok Mak Nah yang menyeramkan. Purbo memaksa, menyeret langkah menjauhi perempuan tua yang masih melotot menatapnya. Namun baru saja beberapa jengkal dia berjalan Mak Nah kembali memanggilnya.


"Tuan!" Panggil Mak Nah. Purbo berhenti tanpa menoleh. Terdengar suara Mak Nah berjalan mendekat.


"Jika di luar sana Njenengan tidak mendapatkan kebahagiaan, kami menerima Njenengan dengan tangan terbuka. Kembalilah ke desa Ebuh," bisik Mak Nah berdiri di samping Purbo. Sosoknya berubah kembali, perempuan tua dengan wajah yang ramah.


"Njenengan tak perlu bingung, selalu ada jalan untuk kembali kesini. Selalu ada alasan untuk berjumpa dengan kami," lanjut Mak Nah sambil tertawa meringkik yang membuat Purbo merinding hebat.


Tanpa menanggapi ucapan Mak Nah, Purbo kembali berjalan. Suara tawa Mak Nah yang melengking masih terdengar di belakangnya. Purbo terus melangkah melewati ruang tamu berbau kemenyan yang dibakar. Dan akhirnya sampai di teras rumah.


Pesta yang semarak di halaman depan, suara gamelan yang dimainkan dengan merdu, seketika langsung berhenti. Semua warga kini menatap Purbo yang berdiri sendirian di teras rumah Mbah Modo. Mereka memelototi Purbo dengan mata mengkilat diterpa cahaya obor yang kemerahan.


Purbo pantang mundur. Dia tetap melangkahkan kakinya tanpa keraguan. Kerumunan warga menepi, membukakan jalan untuk Purbo. Wajah wajah pucat pasi itu hanya mengamati Purbo tanpa bersuara.


Meski lututnya terasa lemas dan lunglai, Purbo mencoba berjalan tegap se tenang mungkin. Dia yakin, keluarganya yang asli tengah menunggu kepulangannya.


Purbo berhasil keluar dari halaman rumah Mbah Modo. Kerumunan warga desa Ebuh kembali berpesta. Gendang dan gamelan kembali ditabuh berirama. Purbo sempat menoleh dan mendapati wujud warga desa yang mengerikan. Wajah wajah rusak, punggung penuh belatung, juga kuku kuku hitam menari nari di bawah sorot cahaya obor.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2