KOBENG

KOBENG
Sewidak Limo


__ADS_3

Purbo sampai di depan rumah yang beberapa hari ini dia tempati. Rumah yang awalnya dia kira adalah tempat untuk pulang, tempat dimana keluarga kecilnya mencipta kehangatan dan kebahagiaan. Namun kini Purbo sadar, rumah itu hanyalah bangunan yang asing untuknya.


Ada rasa kecewa di hati Purbo. Teringat ucapan manis Sekar yang mengatakan kalau rumah bukan sekedar bangunan fisik melainkan bangunan hati. Ternyata kata kata itu hanya bualan. Bahkan bangunan yang Purbo pikir benar benar rumah itu, berdiri di atas fondasi dusta dan kebohongan.


"Brengsek!" Purbo mengumpat kesal. Tanpa terasa beberapa butir air menetes dari sudut matanya yang bulat.


Purbo memperhatikan rumah joglo besar di hadapannya itu. Lampu teras dan ruang tamunya menyala berpendar kemerahan. Bayangan kehidupan yang dia lewati beberapa hari ini berseliweran di pelupuk mata. Teringat kebersamaan dengan Sekar. Perempuan kalem yang selalu menunjukkan wajah yang meneduhkan. Mengusap perutnya yang besar menggantung, menggenggam telapak tangannya yang sedingin es.


Mungkin rumah tangga yang Purbo jalani beberapa hari ini merupakan sebuah kebohongan, namun kehangatan cinta dan kasih sayangnya terasa nyata. Dalam benak Purbo pun timbul tanya, bagaimana jika kehidupan yang sebenarnya di luar sana lebih buruk seperti perkataan Mak Nah?


"Sial! Sial! Siaall! Mikir apa aku ini?" Purbo menepuk nepuk pipinya sendiri.


Dalam kebimbangan, angin semilir bertiup menerpa tengkuknya yang terbuka. Udara dingin membuatnya begidik. Purbo mendesis sembari mengusap usap bagian belakang lehernya itu.


Terdengar langkah kaki mendekat dari balik kegelapan. Suara langkah yang cukup keras, seakan sosok yang berjalan itu menghentakkan kakinya kuat kuat. Purbo menyipitkan matanya, mencoba melihat di tengah kabut.


Kaki jenjang dengan langkahnya yang lebar mendekat dari arah luar desa. Sosok tinggi besar mulai terlihat, menenteng benda bulat di tangan kanannya.


"Memalukan! Anak keturunanku punya mental tempe sepertimu!" terdengar suara membentak dari balik kabut di hadapan Purbo.


"Siapa?" tanya Purbo lantang. Dia merasa tak ada lagi yang perlu ditakuti. Hal hal menyeramkan dan aneh sudah biasa baginya. Apalagi desa Ebuh yang menjadi tempat tinggalnya beberapa hari ini, merupakan desa mistis dari dunia yang berbeda.


"Rupanya kamu tak merasa takut dengan kehadiranku," kembali terdengar suara, namun tak terlihat sosok yang berbicara.


Kabut tebal di hadapan Purbo tiba tiba saja menghilang. Seperti kelambu yang tersingkap saat angin bertiup. Kini terlihat jelas, sosok berbadan tegap tengah berdiri menghadap Purbo. Bagian kepalanya tidak berada di tempat yang seharusnya. Dengan seulas senyum di bibir, kepala sosok itu berada di genggaman tangan kanan, berayun ayun dengan deretan giginya yang menguning.

__ADS_1


"Si siapa kamu?" pekik Purbo sembari mundur beberapa langkah. Melihat wujud menyeramkan di depannya, tubuh Purbo gemetar hebat. Nyali yang tadi begitu besar, yang seolah tak ada ketakutan tersisa, kini menciut.


"Aku mbah buyutmu," jawab sosok itu singkat. Purbo diam tertegun.


"Kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Kamu menolak keberadaanku waktu itu. Namun kini kamu terlihat sudah siap untuk pulang," sosok menyeramkan itu terus berbicara. Sedangkan Purbo masih membisu, kehilangan kata kata. Terlalu banyak kebohongan yang terbongkar hari ini. Purbo sulit percaya pada sosok asing nan menyeramkan itu.


Belum hilang rasa takut di benak Purbo, muncul satu sosok lagi di hadapannya. Sosok laki laki tua, bertubuh kurus yang nampak tidak asing di mata Purbo.


"Wahh, Njenengan jalannya cepet banget Mbah. Dalem ketinggalan jauh," ucap kakek kakek itu mengatur nafas.


"Haloo Nak Purbo. Perkenalkan saya Mbah Yon," kakek tua yang memakai ikat kepala itu memperkenalkan diri. Menatap Purbo dengan senyuman yang ramah.


"Mbah Yon yang bersih bersih di halaman belakang?" tanya Purbo mengingat ingat.


"Siapa sebenarnya kalian? Mau apa datang kemari? Dan lagipula apa apaan penampilan kakek tanpa kepala ini?" Purbo menunjuk nunjuk sosok di sebelah Mbah Yon.


"Beliau ini adalah Mbah buyut Njenengan Nak Purbo. Beliau adalah Mbah Kusworo. Sementara saya adalah keturunan dari 'rewang' atau abdi Mbah Kusworo. Kedatangan kami kemari tentu untuk mengajak Njenengan pulang ke tempat asal. Njenengan itu bukan warga desa sini Nak," ucap Mbah Yon menjelaskan.


"Dari rupamu iku wes kelihatan, kamu sudah sadar kalau bukan warga asli tempat ini. Tapi kenapa batinmu bergejolak. Kenapa sebagian hatimu pengen tetap tinggal di tempat ini? Apa cucu cicitku tresno sama 'medi' yang ada disini?" sindir Mbah Kusworo.


"Setelah apa yang aku alami, aku tidak bisa langsung percaya sama Njenengan berdua. Bisa saja kan aku keluar dari desa ini, dan malah tersesat di desa yang lain lagi. Bukankah tempat seperti ini banyak di luar sana?" Purbo menatap Mbah Yon.


"Ibuk Nak Purbo namanya Bu Sudarsih. Nak Purbo juga memiliki tunangan bernama Dini. Mereka berdua sangat menunggu Nak Purbo segera sembuh. Raga kasar Nak Purbo saat ini terbaring koma di rumah sakit umum daerah," jawab Mbah Yon masih tetap tersenyum.


"Ojo ngelunjak kamu Ngger. Wong tuwo kayak aku harus jauh jauh datang ke tempat ini untuk menjemputmu. Kalau memang kamu nggak mau pulang tak jadi masalah buatku. Katakan sama Sudarsih Yon, anaknya pengen tinggal sama penghuni alas bukit manik manik," Mbah Kusworo membentak penuh amarah. Matanya melotot dengan alis terangkat.

__ADS_1


"Sabar Mbah. Monggo Nak Purbo, ikut kami. Percayalah," bujuk Mbah Yon.


Purbo akhirnya mengangguk. Meski dia masih kurang yakin pada dua sosok di hadapannya itu. Belum sempat Purbo melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Mbah Yon, terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam bergerombol membawa obor. Mereka berdiri mengelilingi Purbo, Mbah Yon dan Mbah Kusworo.


Di barisan paling depan gerombolan, nampak Japra dengan wajah bengisnya. Laki laki bertubuh tambun itu selalu menatap Purbo dengan ekspresinya yang tidak menyenangkan. Pipi yang bulat besar terlihat penuh dengan luka gores menganga saat terkena pantulan sinar obor yang kemerahan. Rupanya, seperti itulah wajah asli dari Japra.


"Mau apa kalian?" Purbo bertanya terlebih dahulu. Sedangkan Mbah Yon dan Mbah Kusworo tetap tenang dengan senyuman di wajahnya.


"Kamu mau kemana Purbo?" tanya Japra sambil melotot.


"Aku mau pulang ke tempat asalku. Mak Nah sudah mengijinkanku pergi," jawab Purbo mengedarkan pandangan.


"Kamu nggak boleh pergi Purbo," sahut Japra menyeringai


"Kenapa?" tanya Purbo balas menatap Japra.


"Kamu sudah minum minuman kami. Sudah merasuk dalam tubuhmu, air yang seharusnya hanya diminum oleh warga desa. Kamu tak diijinkan keluar!" bentak Japra garang.


"Wedang parem maksudmu? Bukankah Mak Nah yang memaksaku untuk minum?" bantah Purbo.


"Parem? Ha ha ha. Bukan gobl*k!" Japra tertawa diikuti warga yang berdiri di belakangnya.


"Kopi pahit sajen milik desa Ebuh. Ceking yang sudah memberimu kopi itu. Seharusnya kamu tidak meminumnya," ucap Japra lirih, setengah berbisik.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2