KOBENG

KOBENG
Sewidak Pitu


__ADS_3

Malam yang biasanya tenang, kini berubah gaduh. Suara deru angin ribut membuat wilayah hutan bukit manik manik terasa mencekam. Dari kejauhan terdengar seolah seperti bunyi siulan yang panjang. Pemukiman warga desa di sekitar bukit manik manik pun terkena imbasnya. Pak Kaji, Pak Uceng, Mbah Bayan dan warga lainnya berkumpul di balai RW menyaksikan bagaimana pepohonan di tengah hutan berayun ayun sangat kuat dan sesekali terdengar dahan dahannya yang patah.


"Pak Kaji, kira kira apa yang terjadi disana ya?" Mbah Bayan terlihat panik sekaligus penasaran.


"Entahlah. Bisa jadi memang fenomena alam biasa Mbah. Saat ini kan memang peralihan musim dari penghujan ke kemarau. Jadi sangat mungkin terjadi angin ribut. Angin ribut bisa terbentuk karena perbedaan tekanan dan stabilitas udara. Pertemuan antara udara panas dan dingin yang memiliki tekanan yang berbeda memicu pergolakan arus naik dan turun dengan kecepatan tinggi. Kira kira begitu yang aku baca dari buku sekolahnya anakku," sahut Pak Kaji bijak. Mbah Bayan manggut manggut, meski sebenarnya dalam hati dia merasa kurang faham dengan maksud perkataan Pak Kaji.


"Lak yo bahaya kalau anginnya kesini. Itu kayak kelihatan muntar muntir tuh," Pak Uceng mengarahkan sorot senternya ke wilayah perbukitan.


"Mari kita duduk di emperan balai RW. Kita panjatkan doa bersama, untuk memohon keselamatan," jawab Pak Kaji menenangkan.


"Ayo, digelar tikarnya yok. Kita doa bareng bareng," Mbah Bayan memerintahkan warga yang sebagian berdiam melongo melihat kehebohan yang ada di hutan.


"Yang mimpin doa Njenengan Mbah?" celetuk salah satu warga.


"Jangan becanda kamu. Ini saat genting ini," Mbah Bayan sewot.


Sementara itu, di tengah hutan dua kekuatan tengah diadu. Beberapa saat lamanya terlihat tidak ada yang mundur ataupun goyah. Baik Mbah Modo maupun Mbah Kusworo masih tetap kokoh di tempatnya berdiri. Mereka hanya saling tatap, namun hutan sudah riuh dan ribut tak karuan. Mereka baru mencoba mengukur kemampuan masing masing.


Purbo berpegang erat di pundak Mbah Yon. Dia ketakutan. Tidak pernah terlintas di benaknya akan terjebak di situasi tak masuk akal seperti ini.


"Nak Purbo bisa lho mewarisi ilmu, kemampuan hebat seperti ini. Karena Nak Purbo adalah keturunan, darah asli dari Mbah Kusworo," ucap Mbah Yon. Suaranya lirih tapi terdengar jelas meski di tengah tengah deru angin.


"Hah? Buat apa Mbah?" tanya Purbo setengah berteriak.

__ADS_1


"He he he, ya kalau suatu saat nanti pengen belajar. Bukunya ada di rumahku. Japa mantra, lakon yang mesti dijalani tercatat semua disana," Mbah Yon tersenyum menatap Purbo.


Purbo benar benar heran dengan kakek tua yang ada di depannya itu. Saat angin bergejolak dahsyat, pijakan kaki renta tak terlihat goyah, terlihat santai bersedekap dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.


Angin ribut tiba tiba berhenti. Suasana berubah hening. Dedaunan jatuh berguguran, terasa lambat menyentuh tanah. Mbah Modo menghela nafas, dari ekspresinya nampak kesal.


"Jika diteruskan, alam akan rusak," ucap Mbah Modo prihatin.


"Ya aku pun sependapat. Obah ngarep kobet mburi. Sebagai pemimpin, tindakanmu akan berdampak pada wargamu. Lebih bijak, biarkan aku pergi dengan cucu cicitku," sahut Mbah Kusworo kalem.


"Kadang mripat iso salah ndelok, kuping iso salah krungu, lambe iso salah ngomong, tapi ati ora bakal iso diapusi. Aku yakin di sudut hati Njenengan sadar kalau ini semua keliru. Njenengan harus ingat bahwa aturan yang melekat pada suatu wilayah, harus dipatuhi," ucap Mbah Modo dengan suaranya yang serak.


"Jaman iku owah gingsir. Dunia selalu berubah, bersifat dinamis," jawab Mbah Kusworo.


"Tapi aturan tetap sama," sela Mbah Modo cepat.


"Ini bukan soal kopi nya Tuan. Melainkan sebuah aturan yang harus dipatuhi. Beras wutah arang bali menyang takere. Sesuatu yang sudah dirusak, tentu tidak bisa kembali seperti semula. Saya pribadi tidak bisa menyalahkan warga desa. Karena mereka hanya berusaha menegakkan sebuah aturan yang sudah ada dari dulu," sahut Mbah Yon.


"Ternyata Njenengan paham. Desa kami bisa bertahan sampai sekarang karena patuh pada aturan. Beberapa waktu lalu pun ada seorang manusia yang makan pisang sajen milik kami. Memakan pisang yang bukan hak miliknya, sebuah perilaku yang serupa dengan seekor 'kethek' (kera)," Mbah Modo beralih menatap Mbah Yon kali ini.


"Tapi Nak Purbo harus pulang," sahut Mbah Yon tenang.


"Jalma angkara mati murka. Daripada berselisih dan mendapatkan kesulitan karena amarah sendiri, dengan kerendahan hati, amit nuwun sewu, ijinkan saya menyampaikan sebuah usulan," Mbah Yon membungkuk. Mbah Kusworo melirik pada Mbah Yon, seolah sudah tahu ujung pangkal niat abdinya itu.

__ADS_1


"Katakan, apa usulanmu," Mbah Modo mengangguk.


"Ijinkan saya menggantikan Nak Purbo, untuk bertanggungjawab tinggal di desa yang Njenengan pimpin. Saya berjanji setia dan mengabdi pada desa," ucap Mbah Yon sambil berjongkok, dengan lututnya digunakan sebagai tumpuan.


"Hey, apa apaan ini?" Purbo tersentak kaget.


"Tidak perlu bingung Nak Purbo. Saya adalah keturunan dari abdi Mbah Kusworo. Garis darah kami memang untuk melayani, dan melindungi keturunan Mbah Kusworo. Suatu kebanggaan kalau dalem bisa berguna untuk Nak Purbo," jawab Mbah Yon. Sebuah senyuman tetap tersungging dari bibirnya yang kehitaman dan penuh kerutan.


Mbah Modo melirik Japra dan para warga yang bersembunyi di belakang. Japra perlahan maju dan terlihat membisikkan sesuatu.


"Jika perselisihan diteruskan, kerusakan yang ditimbulkan bisa mempengaruhi kehidupan manusia di luar sana. Terimalah saya sebagai wadah pengganti dari Nak Purbo. Lagipula saat ini saya datang kemari dengan raga kasar, yang tentunya bisa 'digunakan' untuk kepentingan warga desa bukan?" Mbah Yon masih terus tersenyum. Purbo semakin bingung dan tak mengerti dengan perkataan kakek tua yang ada di depannya.


"Baiklah. Tawaran aku terima," Mbah Modo menghela nafas. Gerombolan warga desa terlihat menyeringai girang.


"Terimakasih," ucap Mbah Yon segera berdiri dan berjalan mendekati warga desa yang langsung memegang erat lengan keriput kakek tua itu.


"Yon, jasamu akan selalu kuingat," ucap Mbah Kusworo dengan raut muka datar.


"Terimakasih Mbah," Mbah Yon mengangguk.


"Saya harap, Njenengan, juga Nak Purbo tidak lagi datang kemari. Atau mendekati wilayah kami," Mbah Modo berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Mbah Kusworo dan Purbo yang masih berdiri mematung. Warga desa Ebuh berjalan rapi mengekor sang kepala desa hingga menghilang ditelan kegelapan. Setelahnya kabut tebal kembali membungkus hutan, udara beku terasa menusuk dan aroma pandan wangi tercium menyengat.


"Kenapa Njenengan tidak terus melawannya saja? Kenapa membiarkan Mbah itu ditangkap? Berkorban demi orang sepertiku? Hah?" pekik Purbo dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


Kepak kepak sayap gagak kembali terdengar memecah kesunyian malam, bercampur suara burung hantu yang seperti tangisan pilu di kejauhan.


Bersambung___


__ADS_2