
Braakkkk
Kendi yang dipegangi oleh Lik Kani, Dini dan Pak Sopir pecah setelah beberapa saat bergetar hebat. Suara hancurnya wadah yang terbuat dari tanah liat itu memekakkan telinga, mengusir kesunyian hutan. Dini menjerit tertahan, Lik Kani melompat ke belakang, sedangkan Pak Sopir jatuh terjengkang di rerumputan.
Di dalam kendi terdapat cairan kental berwarna merah maron. Aroma anyir menyeruak di udara mengalahkan wangi pandan yang sedari tadi menusuk indera penciuman. Cipratan cipratan cairan merah itu berhamburan di tikar, juga membasahi baju Dini, serta mengotori sebagian wajah dari Pak Sopir.
"Non, ini darah Non," Pak Sopir meludah. Ternyata sebagian cairan merah itu masuk ke dalam mulutnya, membasahi indera pengecap, dan terasa seperti besi berkarat.
"Apa artinya ini Lik?" Dini menjerit. Wajahnya merah padam, menatap Lik Kani penuh amarah.
"Aku juga nggak tahu. Apa mungkin ini yang dimaksud tanda dari Mbah Yon?" Lik Kani berdiri menepuk nepuk lututnya yang berdebu.
"Kakek tua itu mengerjai kita. Lihat bajuku jadi kotor seperti ini," Dini marah marah.
"Ayo Non kita pulang saja," pinta Pak Sopir merengek.
"Mana kunci mobil Pak?" tanya Dini setengah membentak pada Pak Sopir.
"Untuk apa Non?" Pak Sopir mengernyitkan dahi.
"Mau ambil barang dalam mobil. Sudah jangan banyak tanya! Mana kunci mobilnya?" Dini berteriak teriak kesal.
Pak Sopir merogoh saku celananya. Dia mengambil kunci mobil yang sedikit basah.
"Ini Non," dengan tergopoh gopoh Pak Sopir menyodorkan kunci mobil pada Dini.
"Iihhh, ini bekas ompolmu ya Pak?!" protes Dini. Dia mengusap usapkan ujung kunci mobil yang basah ke baju Pak Sopir.
Lik Kani hanya diam terpaku, memperhatikan tingkah dan sikap dari calon istri keponakannya itu.
"Lik, aku mau ke tempat mobil terparkir. Mau ambil baju ganti," ucap Dini ketus.
__ADS_1
"Iya. Aku disini saja menunggu Mbah Yon dan keponakanku," jawab Lik Kani menghela nafas. Ada sedikit rasa kecewa di hati Lik Kani melihat tindak tanduk Dini.
Dini tak menoleh, dia berbalik badan dan berjalan menyibak rerumputan liar dengan bantuan senter dari HP Pak Sopir.
"Non, hati hati Non. Nanti kakinya kena duri," ucap Pak Sopir khawatir.
"Iya, aku juga lihat," sahut Dini datar.
"Non yakin, Mas Purbo bisa sembuh setelah kita pulang dari tempat ini? Ritual apaan sih ini Non? Bagaimana kalau nanti Mas Purbo beneran bisa sembuh, tapi menjadi pribadi yang berbeda?" tanya Pak Sopir sambil tetap mengarahkan sorot senter di pijakan kaki majikannya.
"Apa maksudmu Pak?" tanya Dini, menoleh dan melotot pada Pak Sopir.
"Ya Mas Purbo kan ber hari hari nggak sadar. Terus kita ngadain ritual beginian untuk membangunkannya. Lha saya pernah dengar cerita lho, ada yang memang bisa kembali dari sana tapi sifat dan sikapnya berubah," jawab Pak Sopir.
"Purbo nggak mungkin berubah Pak. Hidupnya aku yang nanggung. Dulu ibuknya sakit, aku yang membiayai pengobatannya. Kalau sikapnya berubah padaku, kuminta dia mengembalikan semua pemberianku. Beres kan?" sahut Dini santai.
"Hoalah Non, Njenengan se bucin itu sama Mas Purbo. Iya sih dia ganteng, tapi Non Dini kan juga cantik, kaya lagi, kenapa nggak nyari yang lebih? Yang setara gitu sama Non Dini?" Pak Sopir kembali bertanya.
Tidak lebih dari tiga puluh menit, Dini sampai di tempat mobil terparkir. Pak Sopir mengekor di belakangnya tanpa bersuara. Hingga akhirnya Dini membuka pintu bagian kemudi mobil. Pak Sopir mulai bingung dengan tingkah majikannya itu.
"Non, Non Dini mau ngapain?" Pak Sopir bertanya penasaran.
"Kamu diam disitu," perintah Dini setelah masuk ke dalam mobil. Dia membuka kaca jendela perlahan, kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Aku mau ke Rumah Sakit," ucap Dini sambil mengunci pintu mobilnya.
"Lhah, jalanannya sulit lho Non. Biar saya saja yang nyetir," Pak Sopir merengek, mulai ketakutan.
"Aku bisa sendiri," sahut Dini ketus.
"Lha saya bagaimana Non?" Pak Sopir terlihat hendak menangis.
__ADS_1
"Kuperintahkan kamu untuk menemani Lik Kani. Aku nggak mau dinilai buruk oleh calon pamanku. Tapi aku juga nggak tahan dengan bau darah di bajuku. Jadi, kamu harus menggantikanku menunggui Lik Kani di tengah hutan sana hingga ritual selesai," ucap Dini sinis.
"Lha pulangku gimana Non?" tanya Pak Sopir mengiba.
"Gampang, nanti kuperintahkan pengawal Ayah agar menyusul kalian kesini," jawab Dini cepat.
"Tapi Non, ini gelap lho. Bagaimana caranya kembali ke tengah hutan sana?" Pak Sopir penakut itu kembali merengek.
"Kamu bawa senter! Sudah, minggir! Atau kamu mau kupecat? Hah?" gertak Dini. Pada akhirnya Pak Sopir menurut, mundur perlahan menjauhi mobil majikannya.
Dengan tergesa gesa Dini memutar kemudi mobilnya. Terdengar suara bemper belakang menabrak sesuatu, namun Dini tidak peduli. Dia segera menginjak gas, dan pergi meninggalkan Pak Sopir yang diam dengan kaki gemetar ketakutan.
Mobil Dini melaju cukup kencang, meski tengah melewati turunan yang terjal. Sesekali terdengar suara berdebum yang keras. Entah bagian mana dari mobilnya yang menghantam bebatuan, Dini tak peduli.
Setelah sampai di jalanan pedesaan yang lebih landai, Dini mengurangi kecepatan mobilnya. Dia melepas kaosnya yang penuh noda merah darah dan melemparnya begitu saja ke tepi jalan. Kini dia hanya mengenakan tanktop berwarna merah muda yang menampilkan lekuk tubuhnya yang sintal.
"Mas Purbo, bangunlah. Semua hal telah kulakukan untuk kesembuhanmu," Dini menepikan mobilnya, meletakkan keningnya di kemudi.
Teringat kembali pertemuannya dengan Purbo dulu. Laki laki kalem dengan sorot matanya yang tajam. Dini yang angkuh dan tidak pernah mempercayai cerita tentang cinta pada pandangan pertama nyatanya benar benar mengalami sendiri, bagaimana yang dinamakan nandang wuyung.
Segala upaya Dini lakukan untuk menaklukkan Purbo. Hingga akhirnya Purbo menjadi milik Dini setelah ibunya sakit parah dan membutuhkan biaya besar untuk pengobatan. Dini datang mengulurkan tangan dan memberikan bantuan pada Purbo.
"Kenapa kamu baik sekali? Apa yang harus kulakukan agar bisa membalas budi padamu?" tanya Purbo kala itu, di lorong rumah sakit ber cat putih tulang.
"Buka hatimu untukku Mas," jawab Dini tersipu malu.
Sejak hari itu, Purbo resmi menjadi kekasih Dini. Yang selalu ada di samping Dini, juga membantu menyelesaikan tugas akhir kuliah anak gadis orang paling berpengaruh se kota kabupaten itu.
Selama ini Dini tidak pernah bertanya, bagaimana perasaan Purbo padanya. Yang Dini tahu, dirinya tak bisa lepas dari Purbo. Baginya tidak penting bagaimana isi hati Purbo. Yang terpenting adalah raga dan waktu laki laki pujaannya itu hanya untuk bersamanya. Sebuah rasa sayang yang egois, dan mengintimidasi.
Bersambung___
__ADS_1