
Cahaya putih saling bertabrakan, menghasilkan warna perak berkilau terang. Terdengar pula suara manusia bergumam dan bersahut sahutan. Nampak lingkaran besar berwarna pucat sedikit biru, dan sesosok manusia jatuh ke dalamnya.
Purbo berada di tempat yang sulit dijelaskan. Dia merasa seperti tenggelam dalam air. Tenggorokan serasa dicekik kehilangan nafas. Bayangan kehidupannya yang telah terlewati tumpah disana, bagaikan menonton pementasan drama dengan cerita tentang kisah hidupnya.
Seorang perempuan cantik berpayung hitam berjalan menggandeng tangan Purbo di tengah rintik air hujan. Udara dingin dan aroma tanah basah tercium menyengat, dan Purbo suka dengan baunya. Purbo rindu dengan suasana yang demikian.
Purbo mengenali perempuan cantik itu. Bibirnya yang merah ranum, seperti buah leci. Tipis, mungil, dan manis. Tanpa bedak dan make up yang berlebihan gadis itu terlihat hampir tak bercela.
Bukan Dini, bukan pula Sekar. Winda namanya. Gadis desa, teman Purbo dari masa sekolah TK dulu. Cinta monyet yang menjelma menjadi kasih sayang yang dewasa. Bahkan janji untuk menjalin hubungan yang lebih serius sudah diikrarkan oleh Purbo pada Winda.
Rencana indah memang bisa dirancang manusia. Namun hasil dan takdir bukan kuasa Purbo untuk meminta. Bu Sudarsih diketahui sakit parah dan membutuhkan penanganan operasi secepatnya. Purbo berupaya, bekerja di beberapa tempat sekaligus. Mengorbankan waktunya untuk sang kekasih.
Suatu pagi dalam rintik hujan, Purbo bertemu Winda. Gadis itu terlihat cantik dengan bola mata yang hitam, segelap warna payungnya.
"Maafkan aku," ucap Purbo lirih.
"Untuk apa?" tanya Winda dengan kening yang berkerut.
"Aku tak pernah ada waktu untukmu," Purbo menunduk. Wajahnya tertekuk dalam pilu. Raut wajah terpancar penuh kesedihan.
"Tenanglah. Aku akan selalu menunggumu," jawab Winda sambil tersenyum. Purbo mengusap dagu Winda dalam dinginnya hujan.
"Setelah pulang kerja, kita jalan jalan sebentar ya. Ke pantai, atau alun alun kota," pinta Winda manja.
"Lihat langit senja ya," Purbo mengangguk setuju.
Purbo tidak pernah menyangka, kalau pertemuan mereka waktu itu menjadi yang terakhir. Senyum cantik dan meneduhkan itu hilang. Winda dinyatakan meninggal siang hari dalam keadaan tidur di atas ranjang kamarnya. Kematian yang tenang, tanpa keluhan tanpa suara.
Seakan kehilangan pijakan dalam langkahnya, Purbo merasa hancur saat itu. Ibuknya yang terbaring lemah di rumah sakit dan kekasihnya yang sudah pergi untuk selama lamanya. Bahkan Purbo tak kuasa mengantarkan Winda ke liang lahat. Purbo hanya duduk termenung di lorong rumah sakit, dengan tatapan kosong.
Hingga akhirnya, jari jemari mulus Dini mengulurkan bantuan. Mengajak Purbo untuk bangkit kembali. Dengan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya, Dini menghidupkan kembali asa di hati Purbo.
__ADS_1
Dalam waktu singkat mereka memutuskan untuk saling mengisi. Namun, bayangan Winda nyatanya tak pernah sepenuhnya hilang dari hati Purbo. Rasa sayang pada Dini tak lebih dari sekedar keinginan untuk balas budi. Apalagi melihat perangai Dini yang terasa sombong bahkan cenderung meremehkan. Seringkali saat mereka jalan berdua, Dini selalu terasa dominan.
"Biar aku saja. Aku khawatir uangmu tak cukup nanti," ucap Dini, setiap kali Purbo merogoh sakunya untuk makan malam berdua.
Hari pernikahan semakin dekat, Purbo semakin ragu. Apalagi setiap malam Purbo selalu bermimpi melihat wajah Winda menggunakan payung hitam dan menagih janjinya.
"Setelah kamu pulang kerja, kita jalan jalan ya," ujar bayangan sosok Winda di dalam mimpi Purbo.
Kian hari bayangan sosok Winda yang berjalan menggunakan payung hitam semakin menjadi jadi, mengusik Purbo dalam setiap aktivitasnya. Sampai akhirnya saat Purbo mengendarai motor setelah mengambil baju pengantin, kejadian naas tak terhindarkan. Setengah melamun, Purbo melihat sekelebat bayangan perempuan berpayung hitam menyeberang jalan. Setelah kejadian itu ingatan Purbo menghilang. Kini hanya ada layar putih bersih di hadapannya.
Perlahan kedua bola mata yang berhari hari tak terbuka itu, kini kembali melihat dunia. Sosok Bu Sudarsih yang tengah merajut terlihat menangis dan merangkul tubuh penuh perban putih itu. Beberapa saat setelahnya, terlihat perawat dan seorang dokter jaga memasuki ruangan.
Purbo telah siuman. Kondisi tubuhnya sudah stabil. Dia mengamati kamar tempat dirinya dirawat. Cat dinding putih bersih, dengan plafon berwarna hijau muda.
"Syukurlah kamu sudah sadar Nak. Terimakasih Gustiii," Bu Sudarsih menangis terharu. Purbo masih sedikit linglung. Dia mengumpulkan serpihan ingatannya, berusaha mencerna semua yang telah terjadi. Perjalanannya selama di desa Ebuh hingga bisa kembali ke raganya yang tertidur di kamar rumah sakit.
Beberapa menit berikutnya, terlihat Dini memasuki kamar dengan tergopoh gopoh. Perempuan itu terlihat cantik, memakai kemeja berwarna merah muda yang sepertinya baru dia beli.
"Iya," jawab Bu Sudarsih datar.
"Ibuk mau keluar dulu. Beli minuman," ucap Bu Sudarsih menghela nafas. Kebahagiaan melihat anaknya sembuh, sedikit berubah saat kedatangan Dini.
"Mas, tahu nggak kalau kamu sembuh itu karena perjuanganku lho," Dini menggenggam tangan Purbo.
"Oh ya?" Purbo mengernyitkan dahi.
"Ya. Tadi aku sama Mbah Yon melakukan sebuah ritual di kaki bukit. Kami mengundang kakek buyutmu. Namanya Mbah Kusworo, untuk datang menjemputmu," mata Dini nampak berbinar.
Purbo kini teringat dengan Mbah Yon dan Mbah Kusworo. Jadi mereka berdua diundang oleh Dini? Sekali lagi Purbo merasa berhutang budi pada perempuan cantik di hadapannya itu.
"Terimakasih," ucap Purbo lirih.
__ADS_1
Purbo disarankan untuk istirahat oleh dokter agar kondisinya lebih stabil. Dini dan Bu Sudarsih duduk di kursi tunggu di luar kamar. Dua perempuan itu sibuk dengan aktivitasnya masing masing.
Bu Sudarsih sibuk dengan benang rajutnya. Sedangkan Dini asyik dengan gadgetnya. Dia tengah mengabarkan sembuhnya sang calon suami di media sosial miliknya.
"Buk, setelah ini aku dan Mas Purbo menikah. Aku minta ijin untuk mengajak Mas Purbo tinggal di rumahku," ucap Dini tanpa menatap Bu Sudarsih.
"Nduk, ibuk sudah tua. Tak bisakah aku bersama kalian?" Bu Sudarsih membetulkan letak kacamatanya.
"Maaf Buk. Aku ingin hidup mandiri. Tenang saja, Ibuk aku siapin pembantu nanti. Pokoknya yang ngurus Ibuk sebaik baiknya. Pembantu pilihan, Ibuk tinggal duduk menikmati masa tua dengan bahagia," Dini tersenyum.
Bu Sudarsih menghela nafas mendengar ucapan calon menantunya itu. Dalam hatinya timbul tanya, benarkah Purbo bahagia bersama Dini? Jika boleh memilih, Bu Sudarsih lebih tenang dibiarkan mati dengan penyakitnya daripada sembuh namun harus mengorbankan kebahagiaan anaknya.
Sepuluh menit dalam suasana hening. Terdengar langkah kaki tergesa gesa di lorong rumah sakit. Lik Kani berjalan sambil membawa benda terbungkus kresek hitam di tangan kanannya. Dini segera berdiri dan menghampiri Lik Kani, sebelum laki laki paruh baya itu sampai di kamar tempat Purbo dirawat.
"Gimana keadaan Purbo?" tanya Lik Kani. Tubuhnya penuh dengan keringat.
"Sudah bangun kok. Masih istirahat. Lik, aku minta Njenengan tidak ngomong ke Purbo ataupun Ibuk soal hari ini," ucap Dini gusar.
"Soal apa? Kamu meninggalkanku di tengah hutan?" tanya Lik Kani ketus.
"Sebenarnya aku nggak ada niat seperti itu. Soalnya tiba tiba aku punya firasat Mas Purbo sudah bangun. Makanya aku harus buru buru ke rumah sakit," jawab Dini.
"Terserah kamu," Lik Kani bergegas menghampiri Bu Sudarsih. Meninggalkan Dini yang masih diam di tempatnya berdiri sembari mengepalkan tangannya erat.
"Mbak Yu, air dalam kendi ini nanti tolong diusapkan ke wajah Purbo ya," ucap Lik Kani menyodorkan benda terbungkus kresek hitam pada Bu Sudarsih.
"Ini apa?" tanya Bu Sudarsih bingung.
"Emm ini air pemberian Mbah Yon. Nanti usapkan saja ke wajah Purbo Yu. Buat cuci muka gitu. Aku mau pulang dulu. Capek," Lik Kani terlihat mengatur nafas.
"Ya uwes. Ngati ati," pesan Bu Sudarsih kalem.
__ADS_1
Bersambung___