
Nabila berpisah dengan Dimas di depan kafe yang awalnya Dimas menawarkan untuk mengantarnya, tapi Nabila berkata akan pergi ke suatu tempat dan dengan sopan ia menolak ajakan Dimas.
Sekarang Nabila sedang membuka - buka halaman majalah di butik tempat teman nya Agnia. Ia menunggu Agnia berbincang dengan salah satu pelanggannya, kebanyakan wanita atau pria yang datang ke butik Agnia adalah orang - orang elit berdompet tebal.
"Nab! Lo udah nunggu lama?" Agnia mendaratkan tubuh kurusnya di samping sahabatnya.
"Gak, baru beberapa menit. Tamu lo banyak juga ya. Gila... dari gaya berpakaian dan mobil mereka di parkiran kayaknya mereka bukan orang sembarangan. Pantes aja lo liburan ke Eropa terus, ckck..."
"Gue ke Eropa karena bikin cabang disana, lo tau kan gue tipe wanita mandiri yang ogah bergantung sama laki!"
"Iy, iya... si paling mandiri, haha..." goda Nabila.
"Nah, lo tumben jam segini gak ngantor. Jadi resign?" tanya Agnia.
"Ho'oh, gue lempar tuh surat resign di atas mejanya terus ngamuk - ngamuk. Kalo lo bisa liat tampang Reyhan yang kayak orang idiot, lo bakal ketawa ngakak, haha... sumpah, puas gue!"
__ADS_1
Agnia memperhatikan wajah Nabila yang berseri - seri, sepertinya sahabatnya itu memang sudah bertekad untuk mengakhiri cinta bertepuk sebelah tangannya.
"Nah gini dong, gue bilang kan cowok bukan si Reyhan doang. Lagian, apa bagusnya tuh cowok," Agnia menyemangati Nabila.
"Gue punya kabar bagus juga, seorang Produser mendatangi gue dan dia menawarkan membeli naskah yang pernah gue buat untuk melamar di Perusahaan HT 2 tahun lalu yang ditolak. Produser ini baru dipindahkan ke Perusahaan itu beberapa bulan lalu dan menemukan naskah gue. Dia bilang ingin bekerja sama membuat film dan gue disuruh jadi Sutradara-nya, aaaaaaa.... " teriak Nabila senang.
"Hah! Omaygat, Nab. Akhirnya, impian lo terwujud! Aaaaa..... " Agnia ikut berteriak, menarik tangan Nabila dan mereka berjingkrak - jingrak kegirangan.
Saat mereka masih berteriak teriak seperti orang gila, pintu butik terbuka. Seorang wanita muda cantik masuk, berjalan ke arah meja kasir.
"Halo, mba. Aku ingin menemui pemilik butik, untuk memesan gaun," ucap sang wanita muda berbicara pada pegawai di meja kasir.
"Pergi gih, kerja lagi sana. Gue juga mau kasih kabar ke Lova." Ujar Nabila seraya mendorong pelan tubuh sahabatnya.
"Jangan dulu pulang, nanti malam kita wajib rayakan. Ayo pergi ke Restoran langganan kita!" Ujar Agnia sebelum pergi menemui tamu-nya.
__ADS_1
"Sip! Udah sana!"
Agnia lalu pergi berjalan mendekati tamu wanita muda yang baru saja datang, ia selalu menjual keramahan di toko butik nya dengan menyapa mereka dan menggaet hati mereka lebih dulu agar semakin tertarik memesan pakaian di butiknya.
"Halo, saya pemilik butik ini. Agnia," sapanya.
"Halo mba, aku ingin memesan gaun disini tapi ingin buatan langsung tangan mba. Rancangan gaun mba Agnia sangat terkenal karena ke'eksentrik-nya, jadi aku ingin secara langsung bertemu Mba," ujar sang tamu wanita.
"Tentu, saya sangat senang melayani wanita bertubuh indah seperti Anda. Wah, bahkan saya sudah bisa membayangkan gaun yang cocok untuk wanita secantik Anda. Siapa nama Anda?"
"Namaku Barbara, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-20. Aku ingin membuat gaun yang bisa membalut tubuhku sempurna untuk pesta perayaan nya."
"Baiklah, ayo masuk ke ruanganku. Kita bisa mengobrol gaun seperti apa yang kamu inginkan," ajak Agnia.
"Nia, gue akan membawakan minuman dan cemilan untuk tamu," timpal Nabila dari arah sofa.
__ADS_1
"Oke, thanks."
Agnia membawa masuk Barbara ke dalam ruangannya, sedangkan Nabila pergi ke pantri menyiapkan minuman dan cemilan untuk tamu sahabatnya itu.