Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Berkhianat.


__ADS_3

Nabila terus menunggu, sampai keesokan harinya ia sudah tak tahan lagi. Ia segera menelepon suaminya, tapi teleponnya tak diangkat. "Mas Rey... kenapa perasaanku gak enak, ya?"


Di lokasi syuting ia harus fropesional, meskipun pikirannya sedang gelisah ia tetap bekerja seperti biasa. Tapi hari ini ia tak melihat sahabatnya, ia lalu mengirim chat.


Nabila : [ Nia, lo gak dateng ke lokasi syuting? Lo lagi sibuk di butik?]


Agnia : [ Iya, gue sibuk. Entar gue kabarin lagi!]


Nabila : [ Oke!]


Sampai akhirnya hari ketiga Reyhan masih belum juga mengabarinya, saat ia ingin menelepon lagi tiba - tiba suaminya itu akhirnya meneleponnya. "Halo Mas, Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam. Nab, maaf aku baru telepon, soalnya sibuk banget disini. Kabarmu baik, kan?"


Nabila sedikit merasa aneh dengan suara suaminya yang seperti sedang gelisah, seperti sedang menyembunyikan sesuatu apalagi Reyhan memanggilnya dengan panggilan nama tidak seperti biasanya selalu memanggilnya dengan panggilan sayang atau baby.

__ADS_1


"Aku baik Mas, kamu gapapa kan? Sehat?"


"Em, baik. Aku pulang siang ini, kamu gak usah jemput. Ya, udah... Mas harus siap - siap, teleponnya Mas tutup ya."


Tut...


Nabila baru saja ingin berpamitan dan mengucapkan salam, tapi sambungan tiba - tiba Reyhan putus.


"Kenapa dengan Mas Reyhan?" Nabila masih menatap layar ponselnya yang sudah padam.


***


"Sudah neleponnya?" Rosa mendekati Reyhan di sofa, ia duduk di sampingnya tangannya mengelus lengan Reyhan yang berotot.


Reyhan menepisnya, "Jangan keterlaluan! Aku bilang yang terjadi pada kita adalah kesalahan, bagaimana pun aku tidak akan bertanggung jawab padamu! Jangan ganggu aku terus, pergilah! Sudah 2 hari ini aku tidak berani menelepon Nabila, karena merasa bersalah padanya." Reyhan berdiri menjauhi wanita yang sudah tidur dengannya.

__ADS_1


Ya! Ia tidak sengaja meniduri Rosa, malam ia bertemu para pemilik saham dan mereka mengajaknya minum ia seketika tidak bisa menolak. Tapi ia lupa kekuatan minum alkoholnya sangat terbatas, saat supir mengantarnya ke hotel tempatnya menginap, kesadarannya sudah menipis. Tak disangka, keesokan paginya saat bangun ia sedang memeluk tubuh telanjang Rosa dengan tubuhnya sendiri yang juga telanjang. Ia bahkan tidak bisa mengingat banyak kejadian malam itu, ia merasa menjadi lelaki bajing4n karena sudah mengkhianati istrinya.


Tubuh Reyhan menegang saat tangan wanita di belakangnya menyelusup memeluknya dari belakang, " Sayang, kita sudah terlanjur melakukannya. Aku tidak meminta pertanggung jawabanmu tapi biarkan aku menjadi kekasihmu. Aku janji tidak akan bilang pada siapapun termasuk istrimu tapi jika kau menolakku, aku akan memberitahukan semuanya pada Nabila dan kedua orang tuamu."


"Kau mengancamku?!" Reyhan melepaskan pelukan tangan Rosa, ia berbalik dengan marah.


"Ya, bisa dibilang begitu. Jika semua lancar, kau masih bisa bersama Nabila tapi aku juga bisa memilikimu, bukan?" Rosa tersenyum puas.


"Dasar wanita tak tau malu! Jika malam itu kau tidak naik ke atas tempat tidurku, apa aku akan menidurimu?! Tidak Ros! Sudah lama aku muak padamu yang selalu berusaha menggodaku! Sekarang aku bahkan lebih muak lagi padamu! Aku tidak sudi melihatmu apalagi harus bersamamu!" tolak Reyhan.


"Baiklah, sekarang aku akan menelepon Nabila lebih dulu. Kita lihat apa yang akan istri tercintamu itu lakukan," Ancam Rosa seraya mengambil ponselnya dan memijit nomer Nabila yang sudah ia dapatkan.


Reyhan merebut ponsel dari tangan Rosa, "Baiklah! Aku turuti keinginanmu tapi jangan ganggu istriku! Sekarang pergi, jangan membuatku kehabisan kesabaran!"


Rosa tersenyum senang, "Aku akan pulang lebih dulu ke Jakarta, pikirkan aku sayang. Nanti kita akan segera berjumpa lagi, jangan tolak aku atau kau akan menyesal."

__ADS_1


Setelah puas mengatakannya, Rosa melenggang keluar dari kamar hotel tempat Reyhan menginap dengan kepala tegak.


"Sialan! Aku sungguh brengsek! Maafkan aku sayang, maaf..." Reyhan terisak menangis, menyesali kecerobohannya. Andaikan ia mendengarkan omongan istrinya agar lebih berhati - hati, semua ini tidak akan pernah terjadi.


__ADS_2