
Wangi dari aroma makanan mengusik pria yang masih menikmati mimpinya, hidung mancung Reyhan kembang kempis mencium aroma itu. Dengan perlahan kedua mata Reyhan terbuka, ia menatap langit - langit atap kamarnya dan masih berusaha mengumpulkan nyawa. Saat masih mengumpukan nyawa, ingatan tentang kejadian semalam mengalir ke otaknya. Dari saat dia mabuk sampai dia tertidur.
"Sial! Apa aku benar - benar melakukannya?"
Reyhan mengingat kejadian setelah Nabila menyuruhnya menutup mata untuk tidur, tapi ia malah kembali membuka matanya dan mulai bangun lalu bersimpuh di kaki Nabila meminta gadis yang disukainya itu menerima cintanya. Saat Nabila tak menjawab dia bangkit dan malah bernyanyi setelahnya bahkan lebih gila lagi, ia membuka bajunya sendiri lalu dengan tak tau malu dan percaya diri ia memamerkan otot - otot tangan dan perut six-pack nya.
"Oh tidak! Dasar pria gila! Kau benar - benar melakukan hal memalukan itu semalam!" Reyhan menggetok kepalanya sendiri.
"Arghhhhhtt!!"
Teriakan Reyhan membuat Nabila yang sedang berada di dapur berlari datang.
"Ada apa?" Tanya Nabila seraya masuk ke kamar tidur.
Reyhan merasa salah dengar, apa itu gadis yang sedang dipikirkan nya? Reyhan berbalik, tatapan matanya bertabrakan dengan raut wajah panik Nabila.
__ADS_1
"S-sedang apa kamu disini?" Reyhan melongo tak percaya, ia kira Nabila sudah pergi dari Apartemen.
"Kau tidak ingat tentang semalam?" Nabila tak percaya Reyhan melupakan kejadian semalam.
"I-ingat, bukankah aku semalam mabuk. Apa kamu ada disini sejak semalam?" Reyhan berpura - pura, ia hanya merasa malu dengan kelakuannya.
"Hm..." Nabila bersedekap, ia menarik sebelah alisnya. " Kau yakin tidak ingat?"
Reyhan mengangguk, ia menolehkan wajahnya ke arah lain tak ingin menatap lama mata Nabila.
"Oh gak masalah, aku punya rekaman di ponselku. Apalagi saat kau nyanyi dan menari, apa aku harus menyebarkannya di WAG para pegawai divisi, aku masih belum leave dari grup pegawai," Ujar Nabila seraya mengambil ponselnya.
"Eitss! Gak semudah itu! Aku udah mengirim rekaman ini ke email di laptopku, jadi percuma kalo kamu mau menghapusnya," Nabila menahan tawanya, ia ingin mengerjai pria yang sudah membuatnya patah hati selama ini.
"Baiklah, ayo membuat kesepakatan," ucap Reyhan.
__ADS_1
"Pria pintar! Sekarang, mandi lah bersihkan dirimu, datanglah ke meja makan aku udah masak sarapan," balas Nabila lalu beranjak pergi keluar kamar.
15 menit kemudian Reyhan sudah dengan setelan rapi, dia berjalan mendekati Nabila dengan berat hati. Kenapa dia merasa akan menerima hukuman?
"Duduk!" titah Nabila seolah tempat tinggal Reyhan adalah rumahnya.
Reyhan dengan menurut duduk di kursi makan.
"Di kulkasmu tidak banyak ada bahan makanan, jadi sarapan aku buat seadanya bahan disana," seraya menyodok makanan ke piring lalu diberikan ke Reyhan.
"Makasih." Reyhan mulai menyantap sarapannya, "Ini enak, bukankah ini pertama kalinya kamu membuat sarapan disini?"
Tangan Nabila terhenti saat menuangkan minum di gelas, "Hm, karena sebelumnya aku gak pernah nginep disini. Seberapa malam pun setelah menemanimu, aku akan langsung pulang," Nabila lalu ikut bergabung duduk.
"Maaf, karena selama ini aku tak pengertian dan egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa melihat posisimu, bahkan selama ini kamu selalu menjagaku dan mengurusku disaat aku membutuhkan seseorang. Maafkan aku, Nab." Reyhan menarik tangan Nabila dan menggenggam nya.
__ADS_1
"Makan lah dulu, tak enak kalo dingin. Nanti kita bicara lagi," Nabila menarik tangannya kasar.
Reyhan tersenyum kecut, ia memang tak akan berharap banyak tapi setidaknya dia tak akan pernah menyerah.