
Malam pengantin yang ditunggu - tunggu Reyhan akhirnya datang, ia dan Nabila sore tadi kembali ke Apartemen dari tempat ijab kabul. Mereka berdua sepakat akan tinggal sementara di Apartemen Reyhan, orang tua Nabila menempati Apartemen Nabila sebelum pulang ke Bandung.
Reyhan sudah mandi lebih dulu, ia sedang duduk di atas ranjang dengan memakai lilitan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia menatap jam di ponselnya, Nabila sudah masuk sekitar 20 menit ke dalam kamar mandi tapi belum juga keluar.
"Baby, sayang. Kenapa lama sekali di dalam, apa kamu ingin aku bantu mandi?" Jahilnya pada sang istri.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, Reyhan menaikkan sebelah alisnya, "Nab, kamu masih mandi sayang?"
Masih juga tidak ada jawaban, karena penasaran Reyhan berjalan mendekat ke kamar mandi. Ia mengetuk sekali dua kali tidak ada suara, ia membuka pintu kamar mandi tapi terkunci dari dalam.
Nabila sebenarnya sudah selesai mandi 5 menit lalu tapi ia merasa gugup dan masih mencari di google bagaimana cara menyenangkan seorang suami. Ia sempat buka - buka beberapa hari lalu, tapi kini saat waktunya tiba seketika otaknya itu nge'lag.
Setelah membaca beberapa kiat tentang malam pertama dan gerakan apa yang menyenangkan suami di tempat tidur ia langsung menutup pencariannya. Ia langsung membuka handuk dan memakai lingeri sexy yang tadi ia bawa ke kamar mandi. Saat ia memakai di tubuhnya yang sedikit berisi, seketika ia kurang percaya diri. Apalagi di bagian dadanya yang cukup berukuran besar itu sebagian dada tumpah keluar dari dalam lingeri, wajahnya seketika memerah.
"Aduh, gimana ini? Mas Rey suka gak ya?" Nabila menggigit bibirnya.
Nabila menatap penampilannya sekali lagi di cermin, ia menarik nafas pelan. "Kamu harus percaya diri, Nab. Ayo!"
Istrinya itu akhirnya membuka pintu kamar mandi, Reyhan menatap tak berkedip tubuh Nabila di hadapannya yang luar biasa sexy memakai lingeri. Baru saja ia menatap tubuh sexy istrinya, ada sesuatu yang bangun dan mengeras di bagian bawah tubuhnya menonjol besar dari balik handuk yang menutupinya.
__ADS_1
"Awww!" Nabila terkejut melihat tonjolan itu, ia langsung menutup mata saat melihatnya menonjol dari balik handuk.
"Haha!" Reyhan awalnya menahannya tapi ia seketika tertawa melihat kelakuan istri lucunya itu, ia berjalan mendekati Nabila lalu menarik tangan istrinya yang menutupi matanya.
Nabila melepaskan tangan dari matanya, ia menatap malu pada Reyhan. "Aku malu."
"Kenapa malu, sekarang kita sudah muhrim. Kamu boleh melihat tubuh telanjangku bahkan tanganmu ini mau bermain semalaman ditubuhku juga boleh. Sini tanganmu." Reyhan menarik satu tangan istrinya ke arah bagian tubuhnya yang sudah berdiri tegak meminta keadilan. Ia membuka handuk yang menutupi tubuhnya.
Saat tangan Nabila menyentuh bagian keras tubuh suaminya ia ingin menariknya tapi Reyhan tak mengijinkannya, ia menahan tangan Nabila disana lalu mulai mencontohkan tangan Nabila agar mengelus kebawah dan keatas.
"Apa ukuran roketku memuaskanmu, sayang?" bisik Reyhan di telinga Nabila seraya menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya masih menahan tangan Nabila di senjata keras miliknya.
"Ah~ sayang... tanganmu sangat lembut," Reyhan menggigiti telinga Nabila lalu turun ke leher istrinya sampai terdengar suara er4ngan keluar dari bibir Nabila.
Reyhan tersenyum senang, sepertinya istri chubby-nya sudah mulai terangsang. Ia mulai mendorong pelan tubuh Nabila ke atas ranjang, dengan tubuh telanjangnya berada diatas Nabila. Tangannya mulai merayap ke dalam lingeri istrinya, mengelus satu - persatu gundukan gunung besar dari istrinya. Bibirnya mulai mengecup perut telanjang mulus Nabila, bibirnya naik ke atas menuju dua gunung kembar. Tiba - tiba sebuah bel di pintu terdengar, dan juga suara ponsel Nabila yang berbunyi cukup keras.
Ting...Tong... Ting... Tong...
Kring... Kringgng...
__ADS_1
Seketika mata Nabila terbuka lebar, ia mendorong tubuh telanjang suaminya. Ia bangun dengan ribut, mencari sesuatu untuk menutup tubuhnya yang hanya terbungkus lingeri sexy.
Reyhan hanya melongo melihat keributan istrinya berjalan kesana kemari lalu istrinya itu malah mengangkat telepon.
"Ini, pakai handuknya lagi Mas. Buka dulu pintunya, bel terus berbunyi itu." Ucap Nabila seraya satu tangan memberikan handuk pada Reyhan satu tangannya lagi memegang ponsel.
"Sayang, maksudmu kita tidak melanjutkan kegiatan panas kita tadi?" Reyhan masih menatap tak percaya.
"Ish, itu kan bel pintu berbunyi. Buka dulu, mungkin aja penting banget, Mas. Gih, buka pintu. Ini Agnia sama Delova juga telepon, aku masih menutup suara ini." Jawab Nabila.
Seketika jawaban Nabila padanya membuat si tongkat ajaib yang sudah berubah besar mengerut mengecil kembali. Perlahan gairahnya ikut surut, ia menghela nafasnya berat.
"Siapapun orang yang membunyikan bel dan mengganggu MP - ku, akan aku patahkan kakinya!" Ucap Reyhan kesal seraya berjalan ke lemari pakaian mencari piyama untuk dipakai.
Setelah ia selesai berpakaian, ia berjalan untuk membuka pintu, ia yang tadinya marah seketika berusaha meredamkan rasa kesalnya saat melihat di depan pintu adalah Ayah mertuanya. " Ayah?"
"Ini, nak. Tadi Ayah lupa ngasih jamu buat kalian, ini jamu anti badai. Punyamu nanti semalaman bisa berdiri tegak, bisa kuat sampai pagi. Minum ini segelas, asli jamu buatan saudara Ayah di Bandung. Dijamin gak akan mengerut, haha." Setelah mengatakannya, Mamat memberikan botol di tangannya pada menantunya lalu pergi berjalan kembali ke pintu Apartemen sebelah dengan tertawa puas.
Reyhan menatap botol jamu di tangannya, lalu menunduk ke tongkatnya yang sudah mengecil. Meskipun ia kesal tapi akhirnya ia tersenyum senang, ia akan membalas Ayah mertuanya dengan membuat putrinya berteriak semalaman sampai terdengar ke Apartemen yang ditinggali Ayah mertuanya itu.
__ADS_1