
Nabila mencari kontak nomer Ubay, ia ingin menanyakan jam berapa suaminya selesai kerja. Tapi ia mengurungkannya, jika mulut ember Ubay ngomong sama suaminya kalau dia nanyain bisa gawat rencananya.
"Kenapa?" tanya Agnia.
"Tadinya gue mau chat Ubay, tapi mulutnya gak bisa dipercaya. Suruhan Lo masih di depan Perusahaan Reyhan, kan?"
"Masih, bentar gue tanya. Jam berapa ini?" Agnia membuka kunci ponselnya, ternyata jam 14.30 Wib. "Ini jam setengah tiga, emang biasanya jam berapa si Rey pulang?" tanyanya.
"Biasanya jam setengah empat udah pulang, tapi kalau telat jam 4 atau jam 5 sorean." Jawab Nabila.
"Ok, kita tunggu kabar 1 jam lagi. Bentar gue telepon dulu s Jefri." Agnia dengan cepat menelepon suruhannya.
"Halo, Jef. Gimana si Rosa? Masih di dalam Perusahaan?"
"Masih, Bos. Gue mantau terus, tenang aja. Sesuai bayaran, kerja gue pasti memuaskan." Jawab Jefri.
"Oke, tunggu sekitar 1 jam lagi. Si Demon masih ada disana, kan?" tanya Agnia lagi.
"Masih, dia sambil godain cewek - cewek yang lewat noh di seberang. Hahaha..."
"Dasar playboy kelas teri, cunguk emang. Entar gue telepon dia biar fokus, cewek aja kerjaannya, cih..." Agnia lalu mematikan panggilannya.
"Napa?" tanya Nabila mendengar Agnia sewot.
"Ini si Demon suruhan gue satu lagi, cewek mulu yang diperhatiin bukannya fokus kerja. Bentar gue telepon dulu." Agnia menekan nomer Demon.
Saat mendengarnya senyuman Nabila semakin lebar, ia mencolek tangan sahabatnya, "Nia..."
__ADS_1
"Apa? Bentar nih orang malah gak diangkat lagi teleponnya!" Agnia ingin menelepon kembali, tapi Nabila mengambil ponselnya.
"Nia, gue dapat ide lebih baik. Si Demon pemakan segala cewek, kan? Cewek apa aja dibabat abis sama dia?" tanya Nabila sambil senyum - senyum.
"Senyum lo mencurigakan, sumpah Nab! Apaan sih? Ide lo masih aman kan?"
"Segila ide lo! Hei! Balas dendam itu jangan tanggung - tanggung. Biar tuh si ulet bulu rasain pembalasan dari gue, bukannya si Rosa suka godain laki gue karena kegatelan? Kita berikan tuh si Demon biar kagak kegatelan lagi tuh cewek!" Nabila bersemangat.
"Oke deh, ceritain dulu ide lo sama gue." Agnia akhirnya mengangguk.
"Kita samperin sekarang si Demon, kuyyy. Ganti tugas, biar si Demon yang ngikutin si Rosa jangan si Jepri. Ayo pergi, mumpung kerjaan gue udah selesai!" Ajak Nabila.
"Oke, deh!"
***
"Ada apa, Bos?" tanya Ubay.
"Gak papa, kamu pulang lebih dulu aku bersiap - siap bentar," Reyhan melihat waktu sebentar lagi pukul 4 sore.
"Oke, Bos. Gak ada butuh apa - apa lagi, kan?" tanya Ubay memastikan.
"Gak ada."
"Ok, aku pulang Bos."
Sepeninggal Ubay, Reyhan mengambil ponselnya. Ia ingin menelepon istrinya tapi dia mengurungkannya. Jika dia ingin menjauhi Rosa, ia harus jujur pada Nabila tentang kejadian malam itu, tapi bagaimana jika Nabila tidak memaafkannya dan malah meninggalkannya?
__ADS_1
"Arhggttt!" teriaknya frustasi.
Reyhan menarik nafas, ia diam di ruangannya sengaja berlama di Perusahaan. Sebuah chat masuk.
Rosa : [ Aku tau kamu sudah selesai kerja sejak tadi, cepat kesini Rey! Jangan membuatku marah!]
Reyhan : [ Tunggu! Aku datang sekarang!]
"Wanita brengsek!" makinya, ia lalu mengambil jas dan tas kerjanya seraya berjalan keluar dari ruangannya.
***
Rosa tersenyum senang setelah menerima balasan chat dari Reyhan, ia memandangi penampilanya di dalam cermin. Lingeri merah sexy menempel pada tubuh berlekuknya, ia mengambil parfum dan menyemprotnya ke seluruh tubuhnya. Wajahnya sudah dipoles sempurna, suasana Apartemennya sudah ia sulap menjadi ruangan romantis dengan banyak kelopak mawar bertebaran. Sebotol wine dan sepasang gelas sudah siap, ia akan membuat lelaki itu bertekuk lutut dan ketagihan bercinta dengannya.
Tiba - tiba ia teringat kejadian di Hotel bersama Reyhan, saat itu ia memang berniat menjebak Reyhan agar tidur dengannya, tapi tiba - tiba ia merasa pusing setelah minum segelas jus dari seorang staff laki - laki. Saat terbangun tubuh telanjangnya terbungkus selimut dan berada dalam pelukan Reyhan. Meskipun ia tidak merasa sudah bercinta dengan Reyhan, tapi semua itu sangat menguntungkan baginya jadi saat Reyhan membuka matanya ia berpura - pura menangis dalam pelukan lelaki itu.
"Memangnya kenapa aku gak inget pas tidur sama Reyhan, yang penting semuanya berjalan lancar. Aku bisa menjadi kekasihnya sekarang, ke depannya setelah Reyhan bertekuk lutut padaku, aku akan menjadi istri sah nya setelah berhasil menyingkirkan Nabila! Haha..."
Ting ! Tong!
Kepala Rosa berputar ke arah luar kamar, "Balasan dari Reyhan10 menit lalu, kenapa dia sudah datang? Ah apakah dia datang terburu - buru, hihi..."
Rosa segera mendekat ke pintu Apartemen dengan tersenyum bahagia, ia membuka pintu tanpa memeriksa lebih dulu siapa yang datang.
Ceklek!
Kedua mata Rosa membelalak terkejut, wajahnya seketika pucat.
__ADS_1