Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Sekali Aku Memaafkanmu, Tak Ada Maaf Tuk Kedua Kalinya.


__ADS_3

Setelah beberapa hari Nabila meminta cuti pada Dimas dengan alasan ia harus keluar kota, setelah ia mulai bekerja kembali Dimas menginformasikan jika dia sudah mulai mencari tempat untuk lokasi syuting dan berhasil mengontrak pemeran utama pria dan wanita yang sesuai dengan keinginan Nabila sebelum cuti.


"Cocok Mas, aku suka dengan dia," jawab Nabila setelah melihat CV sang pemeran utama pria.


"Tapi, apa harus Anggita yang jadi pemeran utama wanitanya?" Tanya Nabila tak suka pada mantan Reyhan itu.


Dimas menatap Nabila, ia sepertinya mendengar ada nada tidak suka atau lebih tepatnya nada cemburu. "Kenapa, Nab? Kamu gak suka Anggita karena aktingnya atau karena pribadinya? Kalau kamu gak suka pribadinya sebaiknya kamu harus lebih profesional," tegur Dimas.


Nabila menghela nafas pelan, "Huff, iya mas aku lupa. Maaf ya, aku memang lagi agak sensitif beberapa hari ini. Hehe..." cengirnya.


Dimas ikut tersenyum, ia sendiri heran kenapa jka berhadapan dengan Nabila ia sering tertawa dan tak mudah emosi jika Nabila membuatnya kesal seperti barusan. Ia menggelengkan kepalanya. Ia akui Nabila wanita yang unik sangat berbeda dengan wanita yang pernah dikenalnya.


Nabila membaca kembali naskah - naskah yang sudah di edit, tapi pikirannya terkadang melayang memikirkan perkataan suaminya padanya tadi pagi jika mulai hari ini Rosa akan bekerja di Perusahan suaminya itu. Reyhan bilang padanya jika Rosa akan mulai memproduseri sebuah varety show.


"Huff."


"Kenapa lagi? Hari ini kamu gak konsen loh, Nab." Dimas lalu memberikan minum pada wanita itu. "Ini, minum dulu."


Nabila tanpa segan mengambilnya, "Makasih, Mas."


"Lagi ada masalah pribadi?" tanya Dimas lagi.


"Gapapa, Mas Dimas. Cuma agak BT, ahya nanti jam makan siang aku harus pergi ya. Maaf kalau aku gak bisa makan sama Mas, padahal udah ngajak aku tadi."


"Its ok, lain kali kan bisa."


"Hehe..."

__ADS_1


Saat waktunya makan siang, Nabila segera bergegas memesan makanan dari grabfood untuk ia bawa ke Perusahaan Reyhan agar bisa makan bersama. Ia akan meminta sekertaris Reyhan mengijinkannya, karena ia sudah dekat dengan sekertaris suaminya itu.


Setelah menelepon sang sekertaris, satpam mengijinkan dia masuk. Nabila segera masuk ke dalam lift menuju ruangan suaminya, sesekali ia tersenyum sambil menatap makanan yang dibawanya.


Ting!


Pintu lift terbuka, ia dengan setengah berlari menuju ruangan kantor suaminya.


Nabila membuka pintu kantor Reyhan dengan senyuman merekah di wajah chubby-nya, tapi seketika senyuman itu hilang saat ia melihat suaminya sedang tertawa seraya disuapi makanan oleh Rosa. Tangan yang memegang kantong makanan mengerat, matanya seketika berkaca - kaca.


Nabila tak ingin terlihat cengeng atau terlihat cemburu, ia dengan cepat menghapus air mata yang akan menerobos keluar. Ia menarik nafas beberapa kali agar merasa tenang. "Mas Rey..." panggilnya dengan tersenyum manis.


Suaminya memandangnya, Reyhan dengan cepat berdiri dan berjalan menghampirinya, " Sayang, kamu datang kesini kok gak telepon dulu."


"Kenapa Mas? Gak boleh aku datang?" jawabnya.


"Tadinya aku pengen makan sama kamu, tapi aku lihat kamu udah makan terus ada yang nyuapin lagi." Nabila tetap tenang.


"Ohh itu, tadi Mas lagi ketawa karena inget pas Mas sama Rosa kejatuh ke sungai pas pulang kampung dulu ke Jawa. Eh, pas Mas mangap ketawa Rosa jail masukin makanan ke mulut Mas. Ayo, kamu belum makan kan. Mas temenin makan, " Reyhan mengambil kantong makanan dan membawanya ke meja.


Nabila menatap Rosa, wanita itu menatap balik padanya dengan wajah seolah wanita itu sudah berhasil masuk kembali ke hati suaminya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat.


"Ros, mau makan bereng gak. Ini 1 kotak bisa buat kamu, biar aku 1 kotak makan bareng istriku." Tawar Reyhan.


"Gak usah, aku masih ada kerjaan. Nikmati kebersamaan kalian berdua ya, duh iri deh lihat kalian mesra terus, xixixi..." Jawab Rosa dengan palsunya.


"Kamu bisa aja, ya udah masalah dana yang kita bicarakan tadi nanti kita bahas lagi. Oke..." Kata Reyhan.

__ADS_1


"Oke, Bos! Aku pergi, gak ganggu lagi." Rosa tersenyum palsu lalu pergi keluar dari sana.


Nabila duduk di samping suaminya, ia mulai menyuapi Reyhan dengan sesekali menarik nafas.


Reyhan menyadari jika istrinya itu selalu menarik nafas seperti sedang menahan sesuatu. Ia berpaling lalu menatap mata istrinya yang sedikit memerah. "Kamu abis nangis, Baby?"


Reyhan menghentikan makannya, ia mengangkat tangannya memegang wajah Nabila, "Sayang, ada apa?"


Nabila masih menahan kekesalannya, ia tidak ingin menangis di depan suaminya. "Aku gapapa, Mas. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Mas?"


"Tentu saja, sayang. Kamu ingin apapun akan aku berikan. Ada apa?"


"Bisakah kamu tidak terlalu dekat dengan Rosa? Aku tau dia adalah temanmu sejak kecil tapi aku juga tau kalian pernah saling suka dan menjadi cinta pertama masing - masing. Menurutku sikap Rosa padamu sekarang terlalu melebihi sikap layaknya seorang teman, kamu sudah beristri Mas. Contohnya saat kita sarapan di rumah ibumu, saat itu Rosa tidak pantas mengambilkan makanan untukmu tapi aku lah yang pantas. Lalu beberapa hari ini kamu sering diminta datang ke Apartemen Rosa dengan alasan lampunya rusak, air kran wastafelnya mampet. Tapi Mas, kamu bukan suami dia, jika hal - hal seperti itu dia bisa meminta tolong kepada pekerja ahli. Dan sekarang bahkan dia berani menyuapimu, Mas. Jika kamu memang bisa menghargaiku sebagai istrimu, tolong jauhi Rosa. Aku tidak suka, Mas."


Reyhan menatap intens mata istrinya, apakah selama ini dia salah karena dekat kembali dengan Rosa meskipun hanya sebagai teman?


"Tapi, dia hanya temanku. Kamu gak percaya sama aku?" tanya Reyhan ia mengerutkan keningnya.


"Aku sangat mempercayaimu, Mas. Tapi jujur aku tak mempercayai Rosa sedikit pun. Lagipula dengan menamai hubungan kalian berdua sekarang dengan definisi teman, itu tidak masuk akal. Ingat, Mas. Tidak ada pertemanan murni antara wanita dan pria, contohnya seperti kita dulu." Nabila menggeleng.


Reyhan menatap tidak mengerti pada istrinya, tapi ia akhirnya mengangguk. " Baiklah, sayang. Mulai sekarang Mas akan lebih berhati - hati dalam bergaul dengan Rosa," pasrahnya.


"Terimakasih, Mas. Satu lagi aku ingatkan padamu Mas, dulu aku memberimu satu kesempatan memperbaiki hubungan kita dan memaafkanmu bahkan menerima pinanganmu. Tapi, aku takkan menerimamu lagi atau pun memberimu kesempatan lagi jika kamu berani mengkhianatiku. Kalau kamu melakukannya, aku takkan pernah memaafkanmu selamanya."


"Iya, maafin Mas ya."


Reyhan menarik tubuh istrinya, ia mengecup lembut kening wanita dipelukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2