
Nabila terkejut saat keluar tempat syuting, Reyhan sudah berada diluar menjemputnya. Suaminya sedang berdiri bersandar di mobilnya, tersenyum padanya.
Tanpa sadar ia berlari menghampiri suaminya, tapi saat mendekat ia menghentikan tingkahnya. Ia lupa jika sedang berada di lokasi syuting, "Mas, kapan nyampe di Jakarta? Kok gak telepon dulu, emang gak capek jemput aku kesini?" tanyanya saat sudah sampai di depan suaminya.
Suaminya itu hanya tersenyum tapi matanya terlihat sedih, Nabila mengerutkan keningnya tak mengerti, "Mas lagi ada masalah, kok matanya kayak sedih gitu?"
"Gak ada masalah, yuk pulang." Jawab suaminya seraya membuka pintu mobil.
Nabila tak ingin banyak bertanya lagi, mungkin suaminya sedang capek.
Di dalam mobil Reyhan tidak banyak bicara atau ngegombal seperti biasanya, ia hanya menatap jalanan tanpa semangat.
"Mas, kalo capek entar aku pijitin mau?" tawar Nabila.
"Hm, iya." Jawabnya singkat.
Nabila melirik wajah suaminya yang tanpa semangat, bahkan dari saat mereka bertemu suaminya itu belum menyentuhnya. Nabila menarik lembut tangan suaminya yang ia rindukan, tapi suaminya tiba - tiba melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Ah, maaf. Aku lagi nyetir," kelit Reyhan, ia sebenarnya merasa dirinya kotor dan merasa tak pantas disentuh Nabila.
"Um, iya ya... aku lupa," Nabila tiba - tiba merasa canggung, ia juga merasakan ada perubahan dari suaminya.
Di sisa perjalanan mereka berdua akhirnya hanya terdiam, Nabila memutar musik di ponselnya dan memakai headset. Ia seketika tak merasa nyaman di dekat suaminya, ia mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil dengan wajah murung.
Reyhan melirik wajah istrinya dari kaca spion depan, ia melihat wajah sedih Nabila. Ia merutuki dirinya, tangannya semakin erat menggenggam setir.
Setelah sampai di Apartemen Nabila bersikap seperti seorang istri, ia melakukan kewajibannya. Membongkar pakaian suaminya dari koper, memasukan baju - baju kotor ke dalam mesin cuci bahkan ada satu kemeja suaminya dengan wangi parfum wanita. Saat suaminya mandi, ia menyiapkan baju ganti. Setelah itu ia ke dapur dan memasak makanan kesukaan Reyhan, semua kegiatan itu ia lakukan tanpa bergairah.
Saat suaminya duduk di meja makan, ia dengan cepat memasukan nasi dan lauk pendamping ke dalam piring lalu menuang minuman ke gelas, "Makan selagi hangat, Mas. Entah setelah 3 hari jauh dari rumah, seleramu masih sama atau tidak."
Mendengar perkataan Nabila, Reyhan ingin menarik tangan istrinya tapi ia mengurungkannya, "Terima kasih."
Saat mendengar ucapan terima kasih dari suaminya, seketika selera makannya hilang. Nabila bangun dari kursi makan, ia berlari ke kamar mandi seraya menahan tangisannya. Setelah di kamar mandi ia mengunci pintu dan membuka kran agar tangisannya terendam suara aliran air.
"Nab, kamu gapapa?" Reyhan merasa cemas melihat istrinya tiba - tiba berlari masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Nabila tak menjawab ia menekan kuat pinggir wastafel, membiarkan air matanya mengalir dengan deras ia menahan tangisannya agar tak bersuara keras.
Dugh!
Dugh!
"Nab!" Reyhan menggedor pintu kembali.
Nabila menarik nafas panjang, ia membasuh wajahnya. Setelah membersihkan tenggorokannya, ia akhirnya membuka pintu.
"Ada apa? Kamu sakit?" Reyhan mengangkat tangannya ke kening istrinya ingin mengecek suhu badan Nabila, tapi Nabila refleks menepisnya.
"Ah, maaf Mas. Aku tidak apa - apa hanya sedikit sibuk hari ini jadi mungkin sedikit kecapean. Aku akan tidur duluan, biarkan piring - piring kotor di meja besok aku akan membereskannya," Nabila berjalan begitu saja melewati tubuh suaminya.
"Nab..." lirih Reyhan memanggilnya.
"Aku capek, Mas. Selamat malam." Nabila tak menghentikan langkahnya, ia naik ke atas ranjang lalu berbaring memunggungi suaminya.
__ADS_1
Reyhan menghela nafasnya, ia mematikan lampu kamar lalu berjalan keluar. Malam ini sepertinya ia tak akan bisa tidur sama sekali seperti malam - malam sebelumnya selama beberapa hari ini.