Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Pisah Rumah.


__ADS_3

Nabila sedang berdiri di depan pintu yang terbuka dengan tubuh Reyhan yang mematung diluar pintu menatap istrinya itu dengan mata tertegun.


"R-rey..." gagap Rosa di belakang tubuh Nabila.


Agnia berdiri di depan Rosa yang berpenampilan sexy dengan lingeri-nya. "Nona Rosa, bukankah kau harus menutupi tubuhmu lebih dulu?"


Rosa seketika tersadar, ia berlari masuk ke dalam kamar mencari jubah lingeri-nya. Ia dengan cepat kembali keluar, menatap ke arah Reyhan yang masih berdiri diluar.


Reyhan mengeratkan pegangannya pada jas kerjanya, tubuhnya gemetar. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, apalagi berani melihat mata tajam istrinya.


Tapi tiba - tiba istrinya itu tersenyum manis padanya.


"Mas, kamu sudah datang. Padahal aku beberapa menit lalu minta dijemput disini, eh udah nyampe aja. Mas, masuk dulu bentar deh tanggung udah datang kesini." Nabila menghampiri suaminya lalu menggandengnya masuk dan menutup pintu seolah itu adalah Apartemen miliknya.


"Rosa, tamu kamu mau datang jam berapa?" Nabila menaikkan sebelah alisnya.


"Um, dia baru saja chat saat aku masuk kamar tadi. Katanya ada keperluan mendadak, jadi dia gak bisa datang." Jawab Rosa kelimpungan berbohong.

__ADS_1


"Ah, kalo gitu sayang banget ya itu wine di meja. Mas masih suka minum alkohol kan, tuh mending minum wine di meja soalnya sayang. Iya kan, Rosa? Boleh Mas Rey minum?"


"B-boleh, kalian juga kalo mau minum aja." Jawab wanita itu.


"Aku gak pernah minum alkohol, Agnia lo mau?" ujar Nabila.


"Gak ah, takut gue gak sanggup terus mabok eh taunya entar gak sadar malah ditelanjangi seseorang, ogah ah." Sindir Agnia.


Degh!


Reyhan terkejut, ia menatap wajah istrinya mencari petunjuk di wajah Nabila. Apa Nabila sudah mengetahui kejadian malam itu?


"Diam!" Rey menatap tajam Rosa.


"Kenapa Mas bentak Rosa? Jadi mau minum - minum dulu atau mau pulang, Mas?" Nabila sedang menahan emosinya.


Reyhan menarik lengan Nabila membawanya keluar dari sana, setelah sampai di parkiran mobil ia dengan lembut membuka pintu mobil, "Masuk, ayo kita bicara dirumah."

__ADS_1


Nabila hanya menurut, ia masuk dan segera duduk tapi wajahnya berpaling dari suaminya. Setelah duduk di depan kemudi, Reyhan melihat istrinya memalingkan wajahnya. Ia menghela nafas pasrah, segera menginjak gas mobil dan pergi dari sana.


Nabila membuka pintu Apartemen berjalan masuk ke dalam kamar, ia menarik koper dan membuka lemarinya mulai memasukan satu - persatu baju dan pakaian lainnya.


Reyhan dengan cepat mencekal lengan istrinya, "Nab! Apa yang kau lakukan?"


Nabila melepaskan tangannya dari cekalan suaminya, "Jika Mas ingin menjelaskan kejadian tadi di Apartemen Rosa, aku akan tetap mendengarkan. Tapi, aku sudah bilang padamu untuk menjauhi Rosa dan kamu masih tetap datang ke Apartemennya! Aku ingin tinggal di Apartemenku, sebaiknya kita untuk sementara berpisah!"


"Jangan! Mas mohon, jangan begini. Tadi hanya salah paham, Mas hanya diminta mampir sebentar olehnya tidak ada apa - apa antara kami!" Kelit Reyhan.


Nabila menarik nafas, suaminya masih tak mau jujur. "Aku tidak percaya lagi padamu, Mas!" ia menutup resleting koper lalu mulai menarik kopernya keluar kamar.


Reyhan memeluk tubuh istrinya dari belakang, "Sayang, jangan begini... aku mohon. Berikan aku waktu untuk menjelaskannya, aku mohon..."


Nabila menguatkan hatinya, ia melepaskan diri lalu tanpa berkata apapun menjinjing koper keluar dari Apartemen yang sudah ditinggalinya bersama Reyhan selama sebulan lebih itu.


Brakkk!

__ADS_1


Pintu Apartemen tertutup, tubuh Reyhan seketika terjatuh, "Sayang..." isaknya.


__ADS_2