
Akhirnya Rosa menerima dengan pasrah semua yang sudah terjadi, ia mengakui itu semua adalah hasil dari keinginan buruknya karena mau merebut suami orang. Dengan pasrah ia mengatakan pada mereka dia tidak akan meminta pertanggung jawaban siapapun. Apalagi Reyhan mengatakan ia akan menjadi mempunyai anak dengan Nabila, itu semakin membuat Rosa mengalah.
Reyhan dengan lega pergi dari Apartemen Rosa. Ia dan istrinya datang ke rumah orang tuanya. Dengan bijak lelaki itu menjelaskan dari awal perbuatan Rosa juga tentang Rosa yang mau berdamai dengan mereka.
"Mama ikut apa baiknya menurut kalian, semoga dengan kejadian ini kalian terutama kamu Rey bisa mengambil hikmah dari masalah ini." ucap Mama Reyhan.
"Iya, Mah. Rey juga ada kabar baik, Nabila sedang mengandung Mah, bentar lagi Mama bakal jadi seorang Nenek."
"Hah! Alhamdulillah," Nandini maju memeluk menantunya.
Kabar bahagia tentang kehamilan Nabila juga telah sampai pada orang tua Nabila. Mereka langsung berangkat dari Bandung ingin menemui putri dan calon cucu mereka.
***
"Kalian cepat - cepat umum kan pernikahan kalian, tidak baik jika nanti hamil Nabila membesar tapi tidak ada yang tau kalau dia sudah mempunyai suami." Saran Mamat.
"Iya, Ayah. Reyhan berencana melakukan konferensi pers dalam beberapa hari ke depan. Tadinya Nabila ingin menunggu flm-nya rampung tapi itu terlalu lama. Jadi kami memutuskan untuk secepatnya memberikan kabar ini pada semua orang," jawab menantunya itu.
"Bagus, bagus..."
__ADS_1
"Resepsi kalian juga mending dipercepat, entar perutnya Billa membesar tidak enak pakai gaunnya," timpal sang Bunda.
"Iya," Reyhan terus mengangguk.
"Mulai sekarang kamu juga harus pelan - pelan kalau minta jatah sama istrimu, Rey. Biar calon bayi kalian di dalam sana gak keganggu," celetuk Mamat lagi.
"Xixixi..." Nabila terkikik.
Reyhan hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa itu gak adil buat dia.
Beberapa hari kemudian Reyhan mengadakan konferensi pers dengan memeluk istrinya dan mengumumkan tentang pernikahannya secara agama dan juga tentang kehamilan istrinya. Lelaki itu juga mengumunkan tanggal resepsi pernikahan mereka.
***
Reyhan menggendong putranya dengan gembira, tangannya terlihat kaku saat msnggendongnya.
"Sini berikan sama Mama, kamu masih kaku gitu Rey." Nandini merebut cucunya dari Reyhan.
Reyhan memberikan putra mungilnya pada Mamanya dengan hati - hati, dia mendekati Nabila yang terbaring karena masih pemulihan di ranjang rumah sakit. "Sekali lagi selamat sudah menjadi seorang Ibu, sayang. Makasih sudah menjadikan Mas laki - laki paling bahagia." seraya mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Sama - sama Mas, makasih juga sudah menjadi suami siap siaga dan selalu mau direpotkan sama istrimu yang bawel ini. Xixixi..."
"Kami nanti akan berjaga bergantian, istrimu harus banyak istirahat. Iya kan, besan." Ucap Nandini kepada Mirna.
"Iya, besan. Kita kan udah pengalaman, jadi kasihan Billa biar banyak istirahat." Jawabnya.
"Duh senengnya yang punya Bunda sama mertua yang perhatian, xixixi..." Agnia membawa kado masuk ke dalam kamar, Dimas mengekor di belakangnya.
"Nih, kado dari kami berdua. Dan ini undangan pernikahan kami udah jadi," Agnia mengeluarkan kartu undangan dan memberikannya pada sahabatnya.
"Selamat ya, Nabila. Kamu sudah jadi Ibu, doakan kami juga agar lancar dan segera dapat anak seperti kamu dan Reyhan." Ucap Dimas.
Reyhan menepuk pundak Dimas, "Pasti, bro. Kami akan mendoakan yang terbaik."
Agnia dan Nabila berpandangan bahagia, mereka merasa bersyukur masih bisa selalu bersama dari sekolah SMA sampai sekarang mempunyai pasangan. Selalu saling menguatkan dan menemani di setiap ada masalah apapun.
.
.
__ADS_1
.
TAMAT.