
Reyhan berdehem meskipun tenggorokannya tak gatal, ia melirik Nabila yang duduk di seberang meja.
"Nab, kamu pesan apa?" Reyhan merasa sedikit gugup, ia takut wanita chubby-nya itu salah paham padanya. Tapi dia tidak bisa berbicara dengan Nabila karena masih ada Dimas disana.
"Kamu suka kentang goreng, kan. Tambah steak medium pasti lezat, kamu pasti suka." Celoteh Reyhan lagi.
Dimas masih diam memperhatikan tingkah kedua orang di meja, ia masih menyimak ada hubungan apa sebenarnya antara mereka berdua? Jika mengingat kembali komenan Reyhan di akun Nabila, apalagi pria itu sepertinya kesal padanya terlihat dari kata - katanya. Dimas menduga jika Reyhan naksir pada Nabila karena pria itu membalas pedas komentarnya karena cemburu.
"Nabila, Pak Reyhan sedang bertanya sama kamu loh itu. Masa gak dijawab, emang bibir kamu lagi sakit?" Dimas menengahi sepertinya Nabila sedang kesal pada Reyhan.
"Mas Dimas pesan apa? Aku ngikut deh," Jawab Nabila dia malah cuek pada Reyhan.
Reyhan mencoba menahan kekesalannya, ia akhirnya membiarkan Nabila memesan makanan yang wanita itu mau.
Setelah makan siang, ketiganya berpisah. Dimas dan Reyhan harus kembali ke kantor mereka masing - masing, sedangkan Nabila pergi ke butik sahabatnya untuk mencari sebuah gaun. Bagimana pun dia sudah berjanji akan pergi ke acara pesta ulang tahun bersama Reyhan.
Setelah menemukam gaun yang cocok, Nabila pulang ke Apartemennya. Ia akan menanyakan anak kucingnya saat Reyhan pulang, tapi sekarang dia sedang tidak ingin melakukan apapun. Saat mengingat kembali kejadian tadi siang saat Reyhan dirangkul wanita artis cantik itu, dadanya masih terasa sakit.
Siapa wanita itu? Tadi dia sempat mendengar beberapa kata, karena jarak pintu Restoran dan mejanya cukup jauh jadi pembicaraan Reyhan dan wanita itu tidak terdengar jelas olehnya.
"Bodo amat lah! Kenapa mesti mikiran dia sih?! Mau dia dirangkul wanita lain kek, dipeluk atau pacaran masa bodo deh, ngapain dipikiran, kan?" Nabila bicara pada dirinya sendiri tapi tetap saja kepikiran terus.
Ting... Tong...
Nabila dengan cepat berlari ke arah pintu, ia berharap itu adalah Reyhan. Saat ia mengintip dari lubang pintu, benar saja lelaki itu sedang memeluk si anak kucing di dada kekarnya.
"Ehem, ehem!" Nabila membersihkan tenggorokannya, ia berlari sebentar ke kamar mandi melihat wajahnya di cermin lalu mengoles lipstik berwarna matte tipis dan natural pada bibirnya.
"Ya, tunggu sebentar!" teriaknya sambil berlari kembali.
Ceklek.
Senyuman tampan Reyhan yang pertama kali dilihat Nabila, ia tak membalas senyuman Reyhan dan berpura - pura cemberut.
"Sini, apa dia sudah makan?" Nabila mengulurkan tangan untuk mengambil si kucing.
__ADS_1
Reyhan tak memberikan si kucing, ia malah menerobos berjalan masuk ke dalam Apartemen Nabila.
"Reyhan! Keluar gak!" usir Nabila.
Tapi si pria semaunya itu tak mendengarkan teriakan Nabila, dia menaruh kucing di alas tidur si kucing persia itu. Kemudian Reyhan berjalan kembali ke arah pintu dan menutup pintunya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Nabila.
"Kamu baru memakai lipstik? Sengaja untukku?" goda Reyhan.
"Ish pede boros! Ngapain juga, dikira aku mau goda kamu gitu? Mimpi aja!" sanggah Nabila menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan mengoleskan lipstik saat Reyhan datang.
"Baby, kamu masih kesal? Yang kamu lihat tadi siang gak seperti yang kamu duga. Jika kamu mau aku bisa ceritakan siapa dia, apa kamu penasaran?"
"Tidak! Aku gak penasaran, jadi gak usah jelasin!" tolak Nabila masih berpura - pura gak perduli.
"Tapi, aku tetap akan jelasin. Wanita tadi adalah mantan pacarku 4 tahun lalu, hubungan kami hanya sebatas mantan tidak lebih. Saat tadi dia merangkulku, itu diluar kehendakku. Jadi, apa kamu masih marah?"
"Siapa yang marah, Reyhan? Aku biasa aja kok."
"Gak marah tapi sejak siang cemberut terus, aku tawarin makanan kesukaan kamu eh kamu diam aja. Jadi, apa itu namanya kalo bukan marah padaku?" cecar Reyhan tak mau kalah.
"Rey, lepasin!"
"Gak! Sebelum kamu bilang, kamu marah karena cemburu. Kamu cemburu itu tandanya kamu masih menyukaiku."
Lama Reyhan tak mendapat jawaban dari Nabila, ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir Nabila tapi saat kedua bibir mereka akan bertemu suara bel pintu berbunyi.
Ting... Tong...
Nabila seketika mendorong tubuh Reyhan menjauh, ia mengintip melihat siapa yang datang. Mulutnya menganga lebar terkejut, orang tuanya ada di depan pintu. "Gawat!" pekiknya.
"Ada apa?" tanya Reyhan.
"Ayah sama Bundaku ada di depan, bisa mati aku kalau ketahuan berduaan sama cowok apalagi Ayah gak suka sama kamu! Aduh!"
"Emangnya kenapa kalau ketahuan berduaan sama cowok?" tanya Reyhan penasaran.
__ADS_1
"Bisa - bisa langsung disuruh nikah! Rey! Kamu ngumpet gih," Nabila mendorong tubuh Reyhan agar sembunyi.
Tapi Reyhan malah tersenyum mencurigakan, Nabila menatap Reyhan curiga. Benar saja lelaki itu malah sengaja membuka pintu.
Ceklek.
Saat pintu terbuka mata kedua orang tua Nabila terbelalak, melihat putrinya bersama seorang pria malam - malam. Apalagi lelaki itu Reyhan!
"Ayah, Bunda. Nabila bisa jelasin kok, ayo masuk dulu," gugup Nabila saat melihat kedua orang tuanya kaget.
Orang tua Nabila menuruti keinginan putrinya, mereka masuk lalu segera duduk. Reyhan malah menahan senyum, ia akan membuat orang tua Nabila salah paham.
"Kamu mau menjelaskan apa?" todong sang Ayah.
"Gini, Yah-"
"Jadi begini, kami berdua sudah sering bertemu berdua seperti ini. Terkadang berdua di dalam Apartemen saya, sudah sejak lama Nabila sering datang ke Apartemen saya, Paman, Bu." Reyhan memotong perkataan Nabila.
"Rey!"
"Itu benar bukan, kamu sering keluar masuk Apartemenku. Sekarang aku bahkan masuk kesini, kita berdua sudah sering melakukannya." Reyhan menekan kata - kata sering melakukannya dengan sengaja, ia mencoba agar orang tua Nabila salah paham.
"Kalian sudah sering melakukannya? Melakukan itu?" Sang Ayah yang bertanya.
"Tidak!"
"Iya!"
Jawaban dari Reyhan dan Nabila berbeda.
Mamat sang Ayah menatap bolak balik wajah putrinya dan pria di samping putrinya itu. Dia akhirnya mengerti, jika keduanya memang saling menyukai. Ia pikir daripada nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan, sebaiknya ia membuat keputusan.
"Kalian harus segera menikah!"
Ucapan sang Ayah menghatam Nabila. Ia menatap tak percaya pada Ayahnya itu, sedangkan Reyhan tersenyum bahagia karena akhirnya dia lah pemenangnya.
__ADS_1