Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Perasaan Yang Belum Pasti


__ADS_3

Reyhan berjalan mengekor di belakang Nabila, sejak tadi ia hanya bisa diam karena otaknya sedang berpikir perkataan Ayah Nabila tentang Nabila yang menangis. Apa Nabila sering menangis karena aku?


"Kalian berdua duduk. Dan kamu Nab, duduk sini sebelah Ayah." Mamat melotot pada anaknya.


Nabila menuruti perintah sang Ayah, ia hanya tidak ingin masalah lebih ruwet.


"Sekarang jelaskan siapa kamu, dan apa hubungan kamu dengan anak saya?" Mamat mulai bertanya, sedangkan sang Bunda ikut bergabung duduk setelah membawa 3 cangkir minuman teh hangat.


"Ayo, nak. Teh hangat diminum dulu," tawar Mirna sang Bunda.


Reyhan mengambil cangkir dan meminumnya, ia tetap menjaga etika kesopanan, "Makasih, Bu."


Setelah menaruh cangkir teh kembali ke nampan, Reyhan melirik Nabila sebelum menjawab pertanyaan sang Ayah.


"Jangan ngelirik anak saya. Jawab saja dengan jujur," ucap sang Ayah.


"Ayah mah ih, jangan kasar - kasar atuh. Ngomongnya pelan sedikit, disangkanya Ayah marah padahal mah suara Ayah emang keras," protes Nabila.


"Ekhm!" Mamat berdehem, "Anak saya benar, suara saya emang gini tapi bukan berarti saya marah. Jadi jawab saja pertanyaan saya tadi."


Reyhan mengangguk.


"Nama saya Reyhan, CEO tempat Nabila berkerja. Jadi begini Paman, saya sempat suka sama teman Nabila, Delova. Nabila adalah staff di Perusahaan saya dan Delova adalah artis dibawah naungan agensi saya, saat saya mengetahui anak Paman ternyata sahabat dari Delova, saya meminta dia membantu saya mendekati Delova yang sudah 6 bulan lebih selalu menolak saya. Selain meminta Nabila mendekatkan saya dengan Delova, saya juga sering menanyakan kabar Delova pada Nabila juga sering meminta Nabila menemani saya saat saya terpuruk karena terus menerus ditolak Delova." Reyhan menjeda kata - katanya.


Orang tua Nabila mendengarkan tanpa meng-interupsi, Reyhan melanjutkan kembali.

__ADS_1


"Waktu itu saya belum mengerti dan memang saya mengakui saya pria bodoh yang tidak menghargai perhatian Nabila yang selalu bersedia membantu saya dan selalu berada di samping saya selama berbulan - bulan ini. Beberapa waktu lalu saya baru mengetahui kalau Nabila sudah memendam perasaan pada saya selama 2 tahun sejak dia masuk ke Perusahaan. Saya benar - benar tidak tau perasaan Nabila dan mungkin karena saya dibutakan oleh obsesi saya karena ingin mendapatkan Delova. Sekarang saya sangat menyesalinya, maafkan aku Nab." Reyhan mengakhiri perkataannya, ia menatap Nabila penuh penyesalan.


"Hm, jadi apa sekarang kamu menyukai anak saya?" tanya Mamat.


"Ya, Paman. Saya bahkan ingin serius dengan Nabila." Jawab Reyhan dengan mantap.


"Lalu kamu sudah menyatakan pada anak saya tentang keinginan kamu?"


"Sudah, saya sudah mengatakan tentang perasaan saya."


Mamat mengangguk sekarang ia berbalik menatap putrinya, " Jadi, apa jawaban kamu?"


Nabila menatap Reyhan kemudian beralih menatap Ayahnya.


"Nabila sudah menolaknya Ayah, Billa sudah mencoba bertahan selama ini dan tak pernah menyerah selalu berada di sampingnya. Tapi, Nabila akhirnya menyerah bahkan sudah resign dari Perusahaan Reyhan. Nabila sekarang ingin berkarir dulu, seorang Produser bahkan sudah bicara dengan Nabila agar menjadi Sutradara dalam proyek membuat Film naskah dan novel karya dari Billa." Jawab Nabila jujur.


"Jadi, kamu benar - benar sudah menolak dia?" tanya Mamat pada sang anak memastikan.


Nabila menggigit bibirnya, ia takut mengatakan hal yang salah. Dia tau betul sifat sang Ayah tapi bukan berarti dia harus menerima Reyhan juga.


"Ayah, aku memang sudah menolaknya karena mungkin aku masih sakit hati dan belum bisa menerima perasaan Reyhan. Tapi...."


"Tapi?" desak sang Ayah.


"Tapi, bukan berarti aku menolak mentah - mentah Reyhan. Jodoh kan gak ada yang tau, Ayah. Ya, meskipun aku terus menolak Reyhan mungkin saja ke depannya kami berakhir bersama." Akhirnya setelah mengatakannya perasaan Nabila lega.

__ADS_1


Reyhan tersenyum mendengar keputusan Nabila, itu artinya dia masih mempunyai harapan.


"Tapi dia sudah bikin kamu nangis, kan? Waktu Bunda-mu nelepon, kamu lagi nangis!" ujar Mamat.


"Ya, kan kalo nangis mah udah biasa Ayah. Namanya juga hidup, gak selalu senang terus. Lagian itu bukan karena Reyhan, kok." Bohong Nabila.


Mamat menatap wajah putrinya mencari jejak kebohongan tapi putrinya itu pintar menyembunyikan raut wajahnya sekarang, padahal sewaktu kecil putrinya itu sering ketahuan jika sedang berbohong.


"Ya, sudah. Kita akhiri persoalannya sampai sini. Tapi, Ayah gak setuju kamu dekat dengan pria yang sering nyakitin kamu apalagi sampai membuatmu menangis! Kamu gak boleh dekat - dekat sama dia lagi!" Mamat menatap galak putrinya, dia sudah memutuskan jika Nabila tak boleh berhubungan lagi dengan Reyhan.


"Tapi saya berjanji paman, mulai sekarang gak akan nyakitin Nabila lagi apalagi bikin dia nangis." Janji Reyhan, dia tidak ingin kehilangan Nabila apalagi karena orang tuanya melarang.


"Tapi saya tidak menyetujui kamu mendekati anak saya!" Tolak Mamat.


Sang Bunda mendengar suaminya yang keras kepala, akhirnya menengahi.


"Begini nak Reyhan, saya dan suami saya tidak ingin mencampuri urusan putri kami karena dia sudah dewasa dan Nabila sudah bisa menimang mana yang baik dan buruk. Masalah kalian berdua kami sudah mendengar dan mengerti dengan jelas. Kami berdua juga kan pernah muda, jadi tau sedikit tentang masalah perasaan mah ya. Sekarang keputusan selanjutnya terserah anak saya dan nak Reyhan. Kamu mau menginap disini, nak?" tawar Mirna sang Bunda.


"Tidak usah, ayo Rey.... aku antar masuk ke mobil." Nabila dengan cepat berdiri dan mengajak Reyhan keluar.


"Makasih Bu tawarannya, tapi saya bisa tidur di Hotel. Paman, Bu... sekali lagi saya ucapkan terima kasih sudah mempersilahkan saya masuk dan berbicara. Saya pamit, Assalamualaikum." Pamit Reyhan.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Mamat dan Mirna berbarengan.


Reyhan bersalaman pada keduanya, lalu menyusul Nabila keluar rumah. "Nab, nanti kita ngobrol lagi masalah tadi. Kita mesti bahas lagi, tapi yang pasti aku gak akan pernah nyerah dapetin hati kamu agar bisa menyukaiku lagi."

__ADS_1


Nabila hanya menatap Reyhan, ia sendiri masih belum jelas dengan perasaannya. "Pergilah, hati - hati."


Reyhan masuk ke dalam mobil dengan tidak rela, sebelum menyalakan mobilnya ia terus menatap Nabila. Selang tak lama akhirnya dia melajukan mobilnya dan pergi dari rumah Nabila.


__ADS_2