Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Aku Membencimu.


__ADS_3

Akhirnya mobil yang dikenal Reyhan memasuki parkiran Apartemen, benar saja wanita yang sedang ditunggu - tunggunya sejak sore keluar dari mobil.


Reyhan dengan cepat membuka pintu mobil, berjalan mendekati Nabila lalu menarik lengan wanita yang sudah di rindukannya selama seharian ini.


Karena pernah belajar bela diri sewaktu SMA, refleks Nabila berbalik memelintir lengan orang yang menyekal lengannya tanpa ia tahu siapa orang itu.


"Arghhtt... Arggghht..." Reyhan berteriak kesakitan, "Ini aku, Reyhan!" seraya menepuk pelan lengan Nabila yang memelintir lengannya.


"Bos??!! Eh, Reyhan! Ngangetin aja!" Nabila sontak melepaskan cekalan nya.


"Untung saja cuma tangan yang aku pelintir, coba tadi kakiku yang refleks nendang bagian bawahmu, ckckck..." cerocos Nabila, ia pura - pura tak melihat Reyhan yang mengelus lengannya yang sakit.


"Bisa gawat kalau kamu nendang bagian 'itu'-ku, Nab. Entar bibit calon anak - anak kita disana hancur, apalagi bibitku adalah bibit unggul!" balas Reyhan tak tahan untuk bercanda.


"Idiiihhh... kamu mabuk, Bos?" telinga Nabila merasa aneh mendengar candaan Reyhan yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Gak ! Aku serius, Nab. Aku adalah calon Imam-mu, jadi bibitku hanya akan ditebar di rahim-mu. Bukankah nantinya akan menjadi anak kita?" Reyhan mulai menggencarkan rayuan-nya, ia akan membuat Nabila kembali perhatian lagi padanya.


"Perlu panggil dukun gak nih, Bos? Eits, lupa udah bukan Bos aku lagi. Jadi, Pak Reyhan... dedemit mana yang udah berani rasukin kamu sampai ngomong ngawur kayak gini?!" Ujar Nabila, sarkasme dari ucapannya terdengar sangat jelas.


"Demit pria yang lagi kesemsem sama wanita berpipi chubby gemesin kayak kamu," Reyhan menoel pipi chubby Nabila, ia bahkan memperlihatkan senyuman mautnya, yang biasanya tidak pernah muncul di wajahnya jika sedang bersama Nabila.


"Gila bener! Rey, kalau kamu lagi bercanda, ini bener - bener gak lucu! Aku sibuk, jadi pergilah!" Nabila menggeleng - gelengkan kepala, ia tak percaya apa yang sedang terjadi, sebenarnya kenapa dengan eks-Bos nya itu?!


"Aku naik... Pergilah, Rey," Nabila bersiap pergi masuk ke Apartemen-nya, ia tak ingin lagi beradu lelucon dengan pria yang sedang tak waras itu.


"Pria gila! Diam, sebenarnya ada apa denganmu?" Nabila menutup mulut Reyhan dengan tangannya.


Reyhan melepaskan bekapan tangan Nabila di mulutnya, lalu ia memegang tangan itu.


"Nab, setelah aku membaca buku novelmu dan setelah kau pergi seperti itu siang tadi, aku merasa tak nyaman. Disini, seperti ada yang hilang." Reyhan menarik tangan Nabila dan menempatkan nya di dada dimana letak jantung nya berada.

__ADS_1


"Ini, kau rasakan debaran disana bukan? Jantungku berdebar di dekatmu, percaya atau tidak kini kamu sudah berada di dalam sana... aku menyukaimu, Nabila." Ucap Reyhan menatap serius wanita yang sudah mengisi hatinya.


Nabila dengan cepat melepaskan tangannya yang dipegang Reyhan, ia menatap balik mantan Bos-nya.


"Terlambat, Rey! Lagipula menurutmu aku akan percaya ucapan mu, semudah itu hatimu berubah? Berarti, selama ini rasa sukamu pada Delova tidak sebesar yang aku kira, rasa sukamu itu sangat dangkal. Sekarang kau bilang suka padaku, hanya karena kau membaca novel yang kutulis? Wah wah... gimana kalau kau tak pernah baca novel itu? Bukankah kau tak akan pernah berkata menyukaiku seperti sekarang ini!"


"Nab-"


"Cukup!" Nabila memotong ucapan yang akan terlontar kembali dari bibir Reyhan.


"Aku sudah memutuskan tak akan kembali ke masa 1 tahun-ku bersamamu, dimana selalu mendengarkan keluh kesah mu tentang Delova atau saat kau memintaku mendekatkanmu dengan sahabatku itu! Bahkan disaat kau sakit, meskipun aku yang selalu berada di sampingmu tapi hanya nama Delova yang keluar dari bibirmu. Aku sudah muak! Aku membencimu, Rey! "


Nabila berbalik badan, ia berlari kecil sambil menahan isak tangisnya. Ia berjanji ini terakhir kalinya air matanya tumpah untuk pria yang bernama Reyhan di muka bumi ini.


Tubuh Reyhan mematung, sebenarnya ia menyiapkan mentalnya karena sudah menduga akan ditolak, tapi ia tak menyangka Nabila benar - benar sangat membencinya.

__ADS_1


__ADS_2