
Reyhan melajukan mobilnya membelah kemacetan pusat di kota Jakarta, pukul 7 pagi masih banyak kendaraan - kendaraan yang pemiliknya berangkat untuk ke kantor. Seraya terjebak dalam kemacetan, Reyhan menatap istrinya di samping sesekali ia menciumi punggung tangan istrinya tak merasa risih meskipun ada mertuanya duduk di belakang.
"Aduh, Pak. Jadi inget kita pas awal - awal nikah dulu. Kamu gitu juga Pak, eh lama - lama lupa caranya manjain istri, hihi..." Mirna cekikikan.
"Kalau Bunda mau, sini aku manjain lagi. Mau?" balas sang suami padanya.
"Malu atuh Pak sekarang mah, kita udah berumur gini. Biar gantian sama anak - anak muda kayak anak sama menantu kita sekarang ini. Gandengan terus, hihi... Bunda nitip Billa ya nak Rey, kalian berdua harus saling menghargai juga harus sering ngobrol terbuka jangan ada yang diumpetin. InsyaAllah, bakal langgeng." Sang Bunda sedikit memberi nasehat.
"Ya, Bunda. Reyhan janji." Yakin sang menantu.
"Jangan suka mengumbar janji sebaiknya jika berkata InsyaAllah, janji itu berat." Celetuk sang Ayah.
"Iya, Ayah Bunda. InsyaAllah kami berjanji dengerin apa kata Bunda," Nabila menimpali.
"Terus satu lagi, kalau malem jangan jerit - jerit kenceng." Sang Ayah melotot ke arah menantunya, Reyhan hanya nyengir. Sedangkan wajah Nabila memerah karena sadar ucapan sang Ayah tertuju padanya.
"Siapa yang jerit, Ayah?" tanya sang Bunda yang semalam sudah tertidur lebih dulu karena kecapean.
Ketiga orang di dalam mobil hanya terdiam tak menjawab sang Bunda, hanya Reyhan yang terus tersenyum geli. "Memangnya kenapa Yah, jangan jerit kenceng - kenceng?" tanya Reyhan sengaja.
"Kasihan yang masih jomblo! Mungkin aja ada tetangga kalian yang denger, kasihan kan cuma bisa gigit jari," jawan sang Ayah membuat mereka seketika tertawa.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil sampai di Rumah besar Reyhan, mereka berempat masuk dan keluarga dari besan sudah siap menunggu mereka di meja makan termasuk Rosa.
Saat melihat kehadiran wanita itu, mata Nabila menyipit tak suka. Suaminya menggenggam tangannya seraya berjalan, ia seketika tersenyum dan menghilangkan rasa tidak sukanya.
Setelah obrolan basa - basi, mereka mulai duduk bergabung bahkan Ayah mertuanya ada disana.
"Nah, ini adalah sarapan pertama kalinya kedua keluarga. Mudah - mudahan anak - anak kita diberikan berkah dalam pernikahannya, aamiin." Ucap Ibu mertua Nabila.
"Aamiin..." jawab yang lainnya.
"Ayo dimakan Besan, kamu juga sayang," ucap Nandini lembut pada Nabila.
"Makasih, Mah." Nabila tersenyum penuh terimakasih pada Ibu mertuanya.
Reyhan hanya tersenyum, " Makasih, Ros. Kamu ternyata masih suka makanan kesukaanku padahal udah lama banget kita gak ketemu."
"Masih lah, inget gak waktu kamu gak sengaja jatuhin waffle di tanganmu ke orang lain pas kita sering jalan dulu. Orang itu maki - maki kamu terus aku balas maki eh dia ketakuan terus ngeloyor gitu aja pergi. Hihi..." timpal Rosa.
"Kamu emang wanita keren sejak dulu, sering banget lindungi aku. haha..." balas Reyhan sambil tertawa lepas.
"Emang sekarang aku udah gak keren?" tanya Rosa memancing.
__ADS_1
"Masih lah, orang keren mau gimana pun tetep keren. Ros." Jawab Reyhan sambil memasukan waffle ke dalam mulutnya.
Rosa menatap Nabila saat mendengar jawaban dari lelaki itu, ia menaikan sebelah alisnya seraya tersenyum menyebalkan.
Nabila hanya menatap datar pada wanita itu, ia tak menunjukkan ekspresi apapun karena ia tau Rosa sengaja.
Mereka berdua masih saling bercengkrama seraya memakan sarapan mereka, orang tua Reyhan sudah terbiasa melihatnya tapi lain lagi kedua orang tua Nabila mereka hanya bisa saling melirik melihat wajah putri mereka.
Nabila melihat ke arah orang tuanya, ia tersenyum menenangkan tangannya mengelus tangan sang Bunda. Ia menghela nafas pelan, tak ingin terlihat siapapun jika ia merasa kesal dan cemburu. Ia akhirnya mengurus kedua orang tuanya, memasukan makanan ke piring mereka karena melihat Reyhan sudah menikmati sarapannya dengan santai.
Ia lalu mengisi orange jus ke gelas suaminya, "Sayang, minum ini." Ujarnya seraya mengelus pelan punggung tangan suaminya.
Seketika Reyhan berhenti tertawa, tangannya berubah kaku. Ia berbalik ke arah samping tempat duduk istrinya, ia sempat melupakan keberadaan istrinya karena terlalu asik mengobrol dengan Rosa. Ia tersenyum kaku, tangannya menarik tangan istrinya yang ada diatas meja lalu ia menggenggam nya erat, "Makasih minuman nya, baby. Ini kamu mau coba waffle-nya?" Reyhan memotong sedikit waffle lalu menyuapi istrinya.
Nabila tersenyum manis, ia membuka mulutnya, " Emm, lezat sayang. Kalau kamu suka banget waffle, nanti aku bakal ikut kursus membuat kue jadi sesekali aku bisa buatin waffle kesukaan kamu." Ucap wanita itu seraya mengecup pipi suaminya mesra.
"Makasih sayang," Reyhan membalas kecupan istrinya.
"Ekhm, panas ya suhu ruangan meskipun ada AC. Maklum ada pengantin baru, xixi." Ujar Nandini melihat kemesraan mereka berdua.
"Hahahaha..." Semua orang tertawa kecuali Rosa, ia menatap benci ke arah Nabila.
__ADS_1
Nabila membalas tajam tatapan Rosa padanya, ia tersenyum penuh palsu pada wanita bermuka dua itu.
Dasar wanita damn it! Bisa - bisanya sengaja bernostalgia dengan suamiku! Masih aku liatin, masih aku sabarin! Jangan sampai kamu memancing kemarahanku! Entar bisa habis kamu aku gundulin!