Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Hamil.


__ADS_3

Nabila terdiam lama, tapi akhirnya ia memutuskan berkata jujur, " Itu juga benar, Mas Dim."


Terdengar suara tarikan nafas terkejut dari Produsernya itu, "Maafkan aku, Nab." lirih Dimas.


"Kenapa Mas Dimas meminta maaf?" heran Nabila.


"Karena jika waktu itu aku memberimu ijin, semua masalah yang terjadi padamu sekarang tidak akan terjadi. Kamu bisa mencegah hal yang terjadi pada Reyhan, apa kalian sedang bertengkar sekarang? Apa itu alasanmu akan terlambat datang ke lokasi syuting?"


"Aku tidak bisa bercerita banyak sekarang, tapi Mas Rey sakit jadi aku harus mengurusnya lebih dulu. Maaf karena masalah pribadiku, aku tidak bisa bersikap profesional dalam bekerja. Aku menyesal harus memundurkan jadwal syuting, Mas."


Reyhan berdiri di belakang istrinya dia mendengar obrolan Nabila dengan Dimas, "Pergilah, Nab. Aku gapapa... uhukkk... aku akan memakan bubur darimu lalu minum obat. Jangan tinggalkan pekerjaanmu karena aku."


"Aku tutup dulu teleponnya, Mas Dim." Setelah mematikan teleponnya, Nabila berbalik menghadap suaminya.


"Baiklah, aku akan siapkan buburnya sekarang," cuek Nabila seraya pergi ke dapur.


"Lelaki itu pikir aku akan merasa kasihan pas dia ngomong gitu, ngapain juga aku ninggalin kerjaan buat ngurus dia," gerutunya seraya membuka tutup panci.


"Arghttttt!" teriaknya terkejut melihat bubur yang setengah gosong, ia lupa jika membuat bubur harus terus diaduk.


"Ada apa sayang?" teriak Reyhan berlari mendekatinya.


"G-gosong, buburnya lupa aku aduk..." gagap Nabila menatap bubur yang asalnya berwarna putih kini bercampur dengan warna hitam. Gagal sudah image yang ia buat sebagai seorang istri yang perhatian ingin mengurus suaminya yang sedang sakit.


"Wkwkw..." Reyhan terkekeh di belakangnya, dia akhirnya bisa melihat lagi tingkah lucu dari istrinya.


Bibir Nabila cemberut, ia menaruh dengan keras pengaduk bubur ke dalam panci.


"Aku pesenin lewat Grabfood, bentar." Nabila menunduk memesan bubur di gawainya.


Degh!

__ADS_1


Tangan kekar suaminya memeluk pingangnya dari belakang, lelaki itu menaruh dagu di pundaknya. "Sayang... jangan marah lagi ya, aku mengaku salah karena sudah datang ke Apartemen Rosa, aku tidak akan mengulanginya lagi."


Nabila terdiam, menunggu kelanjutan ucapan suaminya tapi lelaki itu tidak mengatakan apa - apa lagi.


Ia menarik nafas sabar, "Hanya itu, Mas?"


"Apa lagi?" Reyhan balik bertanya.


Nabila dengan cepat melepaskan diri dari pelukan suaminya, " Aku harus pergi bekerja, sepertinya kamu sudah agak baikan. Tunggu bubur datang, obat udah aku siapin di meja makan." Tanpa berbalik wanita itu melangkah pergi ke kamar mencari naskah lalu kembali lagi keluar kamar menuju pintu depan.


"Nab, sebenarnya apa lagi yang ingin kamu dengar dariku?"


Pertanyaan dari suaminya seketika menghentikan langkah Nabila, ia berbalik kembali menatap wajah suaminya. "Kenapa Mas bertanya padaku? Bukankah Mas sudah tau kebenaran apa yang ingin aku dengar?!" Nabila mengeraskan suaranya.


Tapi Reyhan hanya terdiam, lelaki itu menatap Nabila dengan wajah muramnya lagi.


"Sudahlah! Jika Mas Rey masih belum mau jujur padaku, ke depannya kita akan seperti ini terus. Aku pergi, Assalamualaikum." Pamit Nabila seraya membuka pintu keluar dari sana.


Di lokasi syuting Nabila berusaha profesional, ia mengenyahkan sementara tentang masalah rumah tangganya. Tapi saat lampu sorot menyilaukan matanya, ia mendadak merasa pusing, "Ahhh..." tiba - tiba ia merasa tubuhnya bergoyang.


"Sutradara Nabila!" teriak salah satu kru film.


Saat melihat tubuh Nabila yang akan terjatuh, Dimas segera berlari menahan tubuh wanita itu. "Nabila!"


Mata wanita dalam pelukannya sudah terpejam, Dimas menepuk pelan pipi chubby Nabila tapi tak ada respon sama sekali. "Aku bawa dia ke Rumah sakit! Kalian break dulu, bubar!" perintah Dimas.


Lelaki itu dengan cepat membopong tubuh tak sadarkan diri Nabila, Agnia baru diberitahu salah satu kru dengan cepat mengikuti Dimas yang sudah berjalan di depan.


Setelah di Rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan Nabila.


"Selamat, Nyonya sedang mengandung sekitar 3 minggu. Tapi untuk lebih jelasnya, sebaiknya setelah Nyonya sadar kita melakukan pemeriksaan lainnya." Ujar Dokter.

__ADS_1


"Hamil?!" kaget Agnia.


Dimas menatap wajah pucat Nabila, "Apa keadaannya baik - baik saja Dok, kenapa tadi dia pingsan?""


"Sepertinya istri Anda mengalami stres belakangan ini, itu tidak baik untuk janin di dalam perutnya. Jika istri Anda tidak bisa menghindari stres, kondisi seperti saat ini kemungkinan akan terus terjadi." Jelas sang Dokter.


"Ekhm, dia bukan istriku," jawab Dimas canggung.


"Maaf, kalau begitu biarkan Nyonya ini istirahat. Setelah dia siuman, saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


Agnia dan Dimas mengangguk, "Terima kasih, Dok."


Setelah sang Dokter pergi keluar, Agnia menghela nafasnya. Bagaimana pun Reyhan sebagai suami Nabila harus tau keadaan istrinya, ia dengan cepat mencari kontak Reyhan.


"Halo?"


"Ya, ini gue Agnia. Nabila pingsan di lokasi syuting, istri yang lo sakitin lagi mengandung anak lo. Lo mau datang apa gak bodo amat, gue cuman ngasih tau lo!"


"Kirim alamatnya!"


"Oke!" Lalu Agnia mengirim alamat Rumah sakit pada Reyhan.


Tak lama menunggu Reyhan muncul di kamar Rumah sakit, ia melihat istrinya sedang berbaring di ranjang.


Beberapa menit lalu Nabila baru saja siuman, ia juga baru saja diberitahukan tentang kehamilannya oleh Agnia.


"Sayang..." Reyhan maju mendekat.


Mata berbinar Nabila karena berita bahagia tentang kehamilannya seketika meredup saat melihat suaminya, ia memalingkan wajahnya.


Agnia maju mendekati Reyhan, " Dokter bilang Nabila gak boleh stres, jika ingin bicara dengannya lo harus hati - hati. Gue ucapin selamat, gue akan keluar sekarang."

__ADS_1


Agnia meninggalkan sepasang suami - istri itu untuk berbicara, ia menemui Dimas yang sedang menunggu diluar.


__ADS_2