
Setelah sampai Nabila mengetuk pintu Apartemen Reyhan, karena tak ada jawaban ia mendekatkan telinganya ke daun pintu. Tak terdengar pergerakan atau suara sedikit pun dari dalam.
"Apa belum dateng, ya?" gumamnya.
"Aku tunggu di dalem aja deh."
Nabila memijit serangkaian kode pintu Apartemen Reyhan. Ia sudah hapal betul kode pintu karena saking seringnya ia bolak - balik Apartemen Reyhan, entah itu ngurusin saat Reyhan sakit atau seperti sekarang ini saat pria itu mabuk karena berbagai alasan.
Nabila menaruh kantong kresek di meja, kantong berisi obat pengar dari apotek yang ia beli saat perjalanan kesini. Tak lama ia menunggu, terdengar suara ribut di depan pintu masuk lalu ia membuka pintu.
"Nab, kamu sudah datang... hossh... bantu aku dia berat banget!" keluh Satria.
Nabila membantu membopong tubuh Reyhan, membawanya masuk ke kamar.
"Fiuhhh, sialan! Kalo gak kuat mabok, ngapain nih anak minum," cerocos Satria.
"Bajunya basah, buka!" ucap Nabila.
"Gue lagi ambil nafas, lo aja sana, Nab!" tolak Satria sambil mengap - mengap kehabisan nafas.
"Cepetan deh, Sat. Emang lo pikir gue cewek apaan main buka - buka aja bajunya! Gue juga cewek tulen, kalo gue buka baju Rey, entar tangan gue ***** - ***** dia, gimana!"
__ADS_1
"***** - ***** aja, klo cowok mah malah seneng, haha... Lagian bukannya lo udah biasa ganti baju dia kalo lagi mabok!"
"Itu dulu, sekarang ogah! ihh... cepetan deh!"
"Umpp... " Reyhan terbangun, ia menutup mulutnya menahan muntah.
"Rey!!" ujar Nabila dan Satria berbarengan.
"Cepet bawa ke kamar mandi!" teriak Nabila.
Satria membopong tubuh sahabat rese-nya itu ke kamar mandi dan menjatuhkannya di dudukan toilet.
"Uooeekkkkk... uoekkk..." Reyhan mengeluarkan isi perutnya beberapa kali.
Setelah beberapa kali muntah, melihat kemeja yang dipakai Reyhan basah ia mau tak mau membukanya lalu mengelap tubuh pria itu dengan air hangat memakai handuk.
"Gue selesai bersihin badannya, bawa Rey ke rangjang lagi gue ambil baju ganti dulu!" Nabila sedikit mendorong tubuh Reyhan ke Satria.
Melenggang masuk ke kamar tidur, Nabila berjalan ke arah lemari. Ia mengambil baju seadanya disana yang penting Reyhan memakai baju.
"Nih pakein!" Nabila menaruh baju di atas ranjang kemudian Satria mengambil dan memakaikan nya ke Reyhan.
__ADS_1
"Biasanya lo yang ngurus dia, Nab. Napa sekarang mesti gue juga sih? Lo lagi berantem sama Reyhan?" tanya Satria.
"Tanya temen lo aja kalo dia udah sadar... gue cuman bisa bilang kalo gue bukan lagi pegawai dia atau pun temen dia lagi yang hanya dibutuhkan disaat temen lo kesepian atau sedih!"
"Gue gak mau ikut campur kalo soal perasaan, Nab. Gue tau lo selalu setia di samping Rey apapun keadaan nya, jadi dalam hal ini gue dukung lo. Tapi, seenggaknya kalo ada jalan baik kenapa nggak, kan? Sebelum lo putusin banyak hal, timbang - timbang dulu baik buruknya untuk kalian berdua."
"Gue ada janji temu sama cewek gue, dia pasti udah nungguin. Nitip Rey, gue cabut!" Setelah mengatakannya Satria pun pergi dari sana.
Nabila menghela nafas berat, ia menarik selimut lalu menutupi tubuh Reyhan. Saat ia akan menyiapkan obat pengar yang tadi ia beli dan mengambil air minum lengannya ditahan, ia pun berbalik.
"N-nab...." ucap Reyhan ragu, seakan tak percaya apa yang sedang dilihatnya.
"Ya, ini aku. Bentar, aku ambilin minum." Nabila mencoba melepaskan tangan Reyhan yang menahannya.
"Gak! Jangan pergi... kumohon!" Pria mabuk itu semakin mengetatkan cekalannya.
"Rey! Aku gak kemana - mana! Cuman mau ambil air minum, kamu harus minum obat!"
"Gak! Gak! Gak mau! Nab! Nabila... Jangan pergi!" Reyhan merengek seperti anak kecil.
Nabila benar - benar menahan rasa gelinya melihat tingkah mantan Bos-nya itu, tapi juga hatinya merasa campur aduk. Biasanya jika Reyhan sedang meracau karena mabuk nama yang akan keluar dari mulut Reyhan selalu Delova, tapi sekarang nama dia yang terus pria itu panggil.
__ADS_1
"Oke! Aku gak pergi! Jadilah anak baik, tutup mata, Rey!" akhirnya Nabila mengalah dan duduk di pinggir ranjang.
Dengan cepat Reyhan menutup mata, seakan dia ialah bocah kecil yang menurut pada Ibunya.