Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???

Ku Kejar Kau Cuek, Kau Kejar... AKU ???
Maukah Kamu Menjadi Istriku?


__ADS_3

Nabila menggeleng kuat, "Gak, Ayah! Nabila belum mau nikah, aku belum siap" tolaknya.


"Usiamu sudah cukup untuk nikah, pekerjaan juga sudah bagus. Apanya belum siap, lah kata Reyhan kalian sering berduaan terus. Ingat, nak. Jika sering berduaan yang ketiga adalah setan." Ucap Mamat pada putrinya.


"Kata siapa kami sering berduaan, kami bertiga kok!" Jawab Nabila.


Reyhan mengangkat satu alisnya, "Ada orang ketiga? Siapa?"


"Tuh si abu! Yang lagi ngorok di kasurnya!" Nabila menunjuk menggunakan dagunya, Reyhan dan kedua orang tuanya sontak melihat ke arah yang ditunjuk Nabila.


"Maksudmu Kucing!" ucap mereka bertiga serempak.


Nabila nyengir, ia benar - benar sudah habis akal untuk menolak.


Orang tua Nabila geleng - geleng kepala, Reyhan malah tertawa geli.


"Jadi, gimana?" tanya Ayahnya lagi.


"Gimana apanya, Ayah? Aku lagi sibuk - sibuknya ngerjain proyek, baru aja mau nyutradain film dari naskah Nabila sendiri. Terus, Reyhan juga adalah putra dari pemilik Agensi hiburan paling terkenal loh, Ayah. Hartanya gak bakal abis 10 turunan 10 tanjakan dan 10 pengkolan."


"7 turunan, Billa." Ibunya angkat bicara, lagi diajak bicara serius anaknya malah ngajak muter - muter.

__ADS_1


Reyhan bahkan tak kuat lagi menahan tawanya, meskipun ada orang tua Nabila ia tertawa sangat puas.


"Haha, maaf saya sebenarnya sudah terbiasa dengan kekonyolan putri Paman. Bahkan jika saya sedang sedih atau suntuk, tingggl panggil Nabila pasti saya langsung merasa senang." Reyhan masih dengan tawanya.


"Jadi anak saya hanya tempat untuk bersenang - senang?" Mamat salah mengira perkataan Reyhan.


"Bukan, Paman. Bukan itu maksud saya, maksudnya sepertinya sudah sejak lama saya terlalu nyaman dengan Nabila sampai perasaan suka saya padanya baru saya sadari. Ketika orang nyaman dengan seseorang, terkadang orang itu melupakan hal penting, yaitu perasaan orang yang membuatnya nyaman," Reyhan menatap wanita yang dicintainya.


Cinta? Ya, sepertinya dia telah jatuh cinta pada wanita yang selama ini selalu menemaninya itu. Hanya karena sudah terlalu nyaman, dia tidak memperhatikan perasaan Nabila padanya selama ini.


"Saya memang terlambat menyadari perasaan Nabila pada saya selama ini, karena rasa nyaman itu. Tapi sekarang, saya bahkan mencintai Nabila lebih dari perasaan suka Nabila kepada saya sejak lama." Lanjut Reyhan.


Reyhan tak ingin berbelit - belit, ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri wanita yang dicintainya. Ia menekuk satu lututnya di depan Nabila.


Mata Nabila berkaca - kaca, sudah sejak lama ia ingin mendengar kata aku mencintaimu dari bibir Reyhan. Sekarang seakan ia bermimpi, dengan lantang lelaki di hadapannya memintanya menjadi istrinya apalagi di hadapan kedua orang tuanya.


Nabila mengangguk mengiyakan, air mata bahagia jatuh mengalir di pipi chubyy-nya. Reyhan tersenyum bahagia, ia menarik kedua tangan Nabila lalu menggenggamnya erat.


"Alhamdulillah, sebaiknya jangan ditunda - tunda. Besok kamu Reyhan segera urus semuanya. Mau nikah secara agama dulu juga boleh, yang penting kalian sah dulu menjadi suami - istri. Ayah hanya takut kalian melakukan hal sebelum waktunya," ucap Mamat.


"Iya, Billa. Bunda setuju sama Ayahmu. Alasanmu tadi menolak nikah karena lagi sibuk, jadi sambil kamu kerja kita bisa sambil menyiapkan untuk resepsinya lalu menikah secara negara. Tapi sebaiknya cepat halalin dulu ya, nak Reyhan."

__ADS_1


"Siap Bunda dan calon Ayah mertua," Jawab Reyhan mengiyakan.


Mirna memeluk putrinya, " Kamu yakin tidak terpaksa, sayang?"


"Gak, Bunda. Nabila sudah lama memaafkan Reyhan, hati Billa sudah bisa menerima pendekatan Reyhan selama ini. Tapi seperti yang Billa bilang tadi, Billa masih sibuk dan masih ingin terus berkarir. Takutnya setelah menikah Reyhan gak ngijinin Billa bekerja, jadi tadi billa sempet nolak." Jawab Nabila.


"Mas, panggil calon suamimu itu Mas. Gak sopan panggil nama saja sama calon suamimu, sayang." Sang Bunda mengingatkan.


"iya, Bun. Mas Reyhan gak keberatan bukan kalau aku nanti masih terus kerja?"


"Tentu saja, sayang. Apapun itu, aku nantinya sebagai suamimu akan selalu mendukungmu." Jawab Reyhan yakin.


"Makasih, Mas. Kalau begitu aku siap menikah kapan saja, seperti kata Ayah sama Bunda sebaiknya nikah secara agama dulu karena aku masih sibuk. Mas gapapa, bukan?"


"Aku menurut maunya kamu," Reyhan mengelus tangan Nabila yang masih digenggamnya.


"Uhuk! Kalau semuanya sudah sepakat, sebaiknya kamu pulang dan bicarakan tentang pernikahan ini pada keluargamu. Lalu..."


"Lalu?" tanya Reyhan.


"Lalu mau sampai kapan kamu pegang tangan anak saya terus?!" Mamat sedikit bicara keras, sebenarnya dia sedikit tidak rela harus melepas putri satu - satunya menikah, apalagi dia sendiri sangat dekat dengan putrinya itu.

__ADS_1


Reyhan seketika melepas genggamannya dari Nabila, ia sekali lagi tertawa bahagia.


__ADS_2