
Dug
Dug
Dug
Saat tengah malam suara bentrokan palu dan dinding terdengar, Nabila mendengarkan dan itu adalah suara dari sebelah. Siapa lagi kalau bukan Reyhan?
"Kenapa banyak banget sih ulahnya, apa lagi coba sekarang?" Nabila melihat jam di ponselnya terlihat pukul 22.45 WIB.
"Reyhan!" Nabila emosi, pasalnya selama ia menyewa Apartemen disana tetangga - tetangga sebelahnya tidak pernah berbuat keributan seperti Reyhan sekarang
Nabila membuka ponselnya.
Nabila : [ Rey! Apa yang kamu lakukan? Ini tengah malam, kenapa berisik sekali?]
Tetangga Rese : [ Aku sedang memaku sesuatu, kalau besok aku tidak sempat. Kalo kamu keganggu, coba sini hentikan aku! ]
"Ya ampun, dia malah nantangin!" kesal Nabila.
Nabila menghitung sampai 10, ia menahan emosinya, " 1... 2... 3.. "
Ting... Tong...
Saat masih berhitung, suara bel pintu berbunyi.
"Siapa tengah malam begini? Apa Reyhan?"
Nabila turun dari ranjangnya, memakai sendal dikolong ranjang. Ia memakai baju tidur berenda diatas lutut, tapi masih aman dan tidak terbuka sexy karena ia bukan memakai gaun tidur.
__ADS_1
Nabila mengintip dari lubang di pintu, menatap keluar ke sekitar luar pintu tapi tidak ada orang.
"Siapa?" tanyanya sebelum membuka pintu tapi tak ada jawaban.
"Apa itu kau, Rey?" tanya Nabila kembali, tapi tetap tak ada jawaban.
Ceklek.
Nabila akhirnya membuka pintu, ternyata benar tidak ada seorang pun di depan pintunya.
"Meowww.... meowww."
Nabila menunduk mendengar suara anak kucing dibawah, matanya berbinar senang saat seekor kucing mungil ber - ras Persia menatap ke arahnya.
Ceklek... Pintu tetangga sebelah terbuka. Reyhan tersenyum menawan dengan rambut basah sepeti baru saja selesai mandi.
"Kamu suka kucingnya, Baby?" Tanya Reyhan sebari mengangkat satu alisnya.
"Kucingmu?" Nabila balik bertanya.
"Bukan, aku sengaja membelinya untukmu. Bukankah kamu sempat bikin status di WA ingin kucing?" Jawab Reyhan.
"Hah? Untukku?"
Reyhan mengangguk, " Kamu bilang kamu takut gak bisa merawatnya, jadi... Kita berdua bisa bergantian merawatnya. Bagaimana?"
"Rey..."
__ADS_1
"Ayolah, aku masih melakukan hal normal. Apa memberikanmu kucing termasuk tindakan abnormal?" tanya Reyhan tapi suaranya sarat kesedihan.
Nabila merasa tak enak jika harus menolak, apalagi anak kucing itu sudah mencuri hatinya.
"Baiklah, aku akan merawatnya. Tapi, aku akan merawatnya memakai uangku. Selebihnya, jika aku memang sibuk, kamu boleh merawatnya." Akhirnya Nabila setuju.
"Yes! Ohya namanya, Reylove."
"Rey! Kau!" Nabila protes jika nama kucing itu mirip nama Reyhan.
"Coba kamu panggil dia, aku ingin mendengarnya." Reyhan malah menantang Nabila.
"Ogah! Sini mana makanan dan yang lainnya?" Pinta Nabila.
"Tunggu..." Reyhan masuk ke dalam mengambil makanan dan peralatan kucing lainnya lalu kembali keluar. " Ini."
Nabila mengambil semua kebutuhan si kucing sambil memeluk anak kucing di dadanya sedikit membuatnya kerepotan.
"Mau aku bantu bawa masuk ke dalam?" Modus Reyhan.
"Aku masih gadis suci Bapak Reyhan! Jadi jangan berani masuk ke daerah terlarang, batasmu hanya sampai pintu depan ini! Weeee..." Nabila dengan cepat masuk kembali tapi sebelum pintu tertutup sempurna suara Reyhan masih terdengar.
"Reylove... Jangan berani nackal sama Mommy-mu. Jangan berani menggigitnya, karena hanya aku yang berhak menggigit dia! Hahaha..."
Brak.
Seketika wajah Nabila kepanasan setelah ia mendengar perkataan Reyhan, ia menaruh anak kucing Persia itu di atas kursi lalu berlari ke kamar mandi. Benar saja, wajahnya merah seperti sedang berjemur di pantai.
"Untung saja pintu langsung tertutup, kalau tidak pria rese itu pasti lihat wajah maluku, bisa - bisa dia ntar ke-PD an! Ya ampun ini jantung masih aja berdebar, gimana mau ngelupain dia coba, dia malah jadi tetanggaku. Argghhtt!" Perasaan Nabila bercampur aduk, dia ingin menghindar tapi malah Reyhan semakin mendekat padanya.
__ADS_1