
Di depan pintu Apartemen yang terbuka, Nabila dan Agnia tersenyum manis menatap Rosa dengan mata polos.
"Hai, Rosa. Apa kabar?" Nabila lebih dulu bicara.
"Yooo, masih inget gue, kan?" timpal Agnia.
"Kami masuk ya," Nabila dan Agnia nyelonong begitu saja masuk ke dalam tanpa seijin Rosa.
Rosa membuka mulutnya tak percaya, melihat kedua wanita itu begitu saja masuk.
"Woahhh, ada acara apa ini Rosa? Wangi harum bunga, sebotol wine juga. Apa kau sedang menunggu kekasihmu? Apa kami mengganggu?" tanya Nabila dengan terkejut.
Rosa menutup pintu, ia berjalan ke dalam menyusul mereka, "I-itu, emm aku..." gagapnya tak bisa menjawab.
Nabila melirik lingeri sexy yang menempel di tubuh Rosa, memperlihatkan bagian - bagian privasi wanita itu, ia menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Apa wanita ini akan menyambut Reyhan dengan pakaian seperti ini? Wanita kurang ajar! Geram Nabila dalam hatinya.
"Itu tidak masalah, bisa luangkan waktumu untuk kami sebentar. Kami ingin mengundangmu ke acara pesta kecil - kecilan di Apartemenku. Kamu masih ingat Delova yang nikah kemarin, kan? Setelah dia pulang kami berencana mengadakan pesta merayakan pernikahannya juga pernikahanku. Hanya kita - kita saja, aku mengundangmu karena kau adalah teman dekat suamiku. Bagaimana? Kau mau datang, kan?" Nabila menatap dengan mata polosnya lagi.
"Uh, tentu saja aku akan datang. Beritahukan saja waktunya, em tapi sekarang aku akan kedatangan tamu bisakah kalian pergi," Rosa semakin gelisah.
"Tentu saja, tapi aku haus. Aku akan ambil minum lalu pergi," Nabila tak menunggu di ijinkan, ia melengos begitu saja pergi dari ruang tamu.
"T-tapi..." Rosa ingin menyusul Nabila tapi lengannya dicekal Agnia.
"Bagus, bukan. Pilihlah, aku ingin sekali pakaianku dipakai wanita secantikmu," rayu Agnia, padahal ia ingin sekali muntah.
Nabila melihat Rosa terjebak dengan Agnia, ia dengan cepat mencari ponsel Rosa di dalam kamar karena matanya tadi berkeliling di ruang tamu tapi tidak melihat ponsel wanita itu.
Nabila berkeliling mencari di dalam kamar, akhirnya menemukan ponselnya di dekat parfum di meja rias. Seketika ia mengenali wangi parfum itu, baunya sama dengan wangi parfum di salah satu kemeja Reyhan saat ia membongkar koper.
__ADS_1
"Apa mereka sering berpelukan sampai parfum wanita busuk ini menempel di kemeja Mas Reyhan? Brengsek!" geramnya.
Nabila dengan cepat menyimpan lagi parfum di atas meja rias, ia mencari tempat untuk menyembunyikan ponsel Rosa. Saat melihat belakang lemari, ia langsung melemparnya kesana. Ponsel itu sudah ia matikan, tidak akan bisa berbunyi di sana.
Dengan berlari kecil Nabila keluar dari kamar Rosa, berjalan dengan santai saat sudah di ruang tamu, "Makasih Rosa, aku kehausan tadi."
Rosa semakin gelisah, ia harus menghubungi Reyhan agar jangan dulu datang. "Sebentar." ia berlari ke kamarnya mencari ponselnya tapi benda pipih itu tidak terlihat dimanapun.
"Sial! Dimana ponselku?" Matanya berkeliling mencari.
Rosa mencari ke sudut ruangan kamar dan ke bawah ranjang tapi masih belum bisa menemukannya. "Gawat!"
Ting! Tong!
Wajah Rosa semakin pucat, "Itu pasti Reyhan!" ia beranjak berlari ke luar kamar.
__ADS_1
Tapi terlambat, pintu Apartemen sudah terbuka. Nabila sedang berdiri di depan pintu yang terbuka dengan tubuh Reyhan yang mematung diluar pintu menatap istrinya dengan mata tertegun.