
Tiga hari telah berlalu sejak terakhir kali Reyhan berpisah dengan Nabila, setiap dia chat wanita yang selalu dirindukannya itu, Nabila tidak pernah membalas.
"Kak, udah lama gak pulang kesini kok wajahnya malah nekuk gitu. Gantengnya ilang tau!" celoteh Barbara sang adik.
"Kucingnya mana? Sering kamu mandiin, kan?" Reyhan malah bertanya.
"Rebes, setiap hari tuh kucing cantik udah tambah gembul pula. Awas inget janji kak Rey, pas aku ulang tahun ajak penulis Kitty. Kakak bilang kenal dekat sama dia, awas aja kalo bohong!"
"Nah itu masalahnya, dek. Wajah kakak kusut gini ya karena dia," Reyhan menghela nafas frustasi.
"Maksud Kak Rey?" Barbara belum mengerti.
"Penulis Kitty sebenarnya adalah staff di Perusahaan Kakak, tapi beberapa hari lalu dia resign. Lebih parahnya lagi, dia marah sama kakak karena kakak gak pernah peka sama perasaan dia selama setahun ini, padahal dia udah perhatian banget sama kakak. Kakak yang bodoh, dek." Lalu Reyhan menjelaskan semuanya pada adiknya dari saat Delova selalu menolaknya dan sekarang Nabila yang menolaknya.
"Hahaha... dua sahabat yang kompak. Kompak sama - sama nolak cinta kak Rey, lebih salut sama Kak Nabila yang mau jadi kekasih bayangan kak Rey yang hanya dibutuhkan saat kak Rey sedih." Ledek Barbara.
"Apaan kekasih bayangan, kayak lagu aja. Jadi, kamu ada ide gak dek. Udah 3 hari Nabila gak ada kabar." Kata Reyhan.
"Gak tau juga kak, emang kakak gak coba hubungi atau langsung ke tempat tinggalnya?"
"Udah kakak coba, Apartemen nya masih kosong gak ada orang soalnya Kakak kemarin baru pindah ke unit Apartemen di sebelahnya tapi emang Nabila belom balik dari Bandung. Di telepon gak diangkat, di chat gak pernah bales tapi dia read kok." Keluh Reyhan.
"Mungkin dia lagi butuh memikirkan tentang perasaan dia pada kak Rey, aku nih sebagai cewek juga sering butuh waktu loh." Ucap Barbara membagikan pengalaman nya.
"Gitu ya? Jadi, menurut kamu Kakak mesti lebih sabar nunggu?"
__ADS_1
"Yup!"
"Oke, deh."
***
Nabila sekali lagi memeriksa email dari Dimas, sudah 3 hari ini dia disibukkan dengan proposal dan pembahasan tentang Novel atau Naskah yang akan lebih dulu mereka angkat jadi film. Dimas meminta Novel yang lebih dulu mereka jadikan proyek pertama baru setelahnya Naskah yang pernah ditulis Nabila.
Produser Dimas : [ Nabila, kapan kamu pulang lagi ke Jakarta? Kita harus tanda tangan kontrak dan juga lebih enak jika bertemu langsung membahas tentang proyek film ini. ]
Nabila : [ Besok aku ke Jakarta, Mas. Mas Dimas buat jadwal pertemuan aja, nanti aku tinggal menemui Mas Dimas. ]
Produser Dimas : [ Oke, kita juga nanti akan sibuk. Kamu boleh ikut menyeleksi para artis yang akan bermain dalam film, karena kamu yang paham betul karakter - karakter pemerannya. ]
Produser Dimas : [ Kalau gitu aku tunggu kabar darimu lagi. ]
Nabila : [ Oke, bye. ]
Produser Dimas : [ Bye. ]
Nabila lalu membuka kembali chat dari Reyhan yang menanyakan kabar dan beberapa chat perhatian Reyhan padanya. Ia sengaja tak membalas karena ingin fokus pada proyek film-nya.
.
.
__ADS_1
.
Esoknya Nabila kembali ke Jakarta bareng kedua sahabatnya. Setelah mereka bertiga berpisah Nabila masuk ke dalam lift menuju unit Apartemen dia diatas. Pintu lift terbuka, ia tanpa berpikiran apapun berjalan seperti biasa menuju unit-nya.
"Hai!" sebuah suara pria yang tidak asing masuk ke telinganya.
Nabila mendongak dan benar saja Reyhan sedang berdiri santai di depan pintu unit-nya.
"Rey? Ngapain disini? Tanpa ngasih kabar?" Nabila sedikit marah, pasalnya dia sedang tidak ingin diganggu dengan urusan Reyhan.
"Aku disini bukan untuk ketemu kamu, kok. Aku baru pulang makan diluar, ini baru mau masuk ke rumah?" Jawab Reyhan enteng.
"Rumah?" Tanya Nabila heran.
"Yoi, kenalkan... aku Reyhan, tetangga baru kamu." Reyhan nyengir dengan PD-nya.
"Apa?!!"
"Jangan shock begitu, pokoknya selamat datang kembali di Jakarta dan mulai sekarang kita adalah tetangga. Mohon kerjasama dan perhatiannya sesama tetangga, nona Nabila." Reyhan memberi hormat ala militer dengan mengangkat sebelah tangannya ke wajahnya.
"Kalo begitu, aku masuk. Kalau ada yang kamu butuhkan, ketuk pintu-ku," setelahnya Reyhan membuka pintu lalu masuk ke dalam tanpa menunggu Nabila membalas ucapannya.
"REYHAN!!!" Nabila berteriak kesal.
Nabila malah mendengar Reyhan tertawa puas di dalam unit Apartemennya, akhirnya saking kesalnya ia menendang pintu unit Reyhan beberapa kali. Tapi yang punya unit masih terus melanjutkan aksi tertawanya di dalam sana.
__ADS_1