
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Reyhan Azam Wardi bin Wardi Pratama dengan anak saya yang bernama Nabila Shakila Putri dengan mas kawin berupa berlian 5 karat, tunai!" Ucap Mamat.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nabila Shakila Putri binti Mamat Yasir dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai!" Ucap Reyhan dengan satu tarikan nafas.
"SAH?!"
"SAH!"
"Alhamdulillah..."
"Mas," Nabila mengecup tangan Reyhan.
Reyhan mengecup dahi Nabila lembut, "Terimakasih sudah bersedia menjadi istriku, sayang."
Delova dan Agnia menangis haru menyaksikan pernikahan sahabat mereka.
"Gue keduluan deh," ucap Delova.
"Gue juga masih gak percaya mereka ngedadak menikah, pas minggu lalu si Nab ngasih tau kita," balas Agnia.
"Huwaaaaa!" Rara menangis heboh, semua mata memandang ke arahnya sekilas lalu berbalik ke arah pengantin kembali.
"Ra, berisik!" tegur Delova pada sang asisten Lelaki gemulai.
"Gue pengen kawin juga!" ucap Rara.
__ADS_1
"Lo kan udah kawin sama si Arman, kapan lo mau punya anak? Entar gue jd pengasuhnya. Free, yang penting lo bunting dulu, xixixi..." ledek Agnia.
"Jahara kau ah! Nunggu dunia kiamat aja eyke kagak bakalan bunting! Asem lo, gak suka eyke!"
Agnia dan Delova cekikikan dengerin omongan Rara.
Setelah acara ijab kabul dan semua orang menikmati hidangan yang tersedia, para saksi serta kerabat dari Reyhan bersiap untuk pulang termasuk Rosa yang ikut hadir.
Rosa mendekati Reyhan untuk berpamitan, " Selamat ya Rey, meskipun aku belum rela lepasin kamu. Apalagi janji kita berdua untuk menikah gak bisa terlaksana tapi doaku akan selalu bersamamu, semoga bahagia." Ucap Rosa seraya memeluk lelaki yang sudah menjadi seorang suami itu.
"Haha, janji saat kita remaja dulu jangan dianggap serius ya Ros. Makasih doa nya, semoga kamu cepet nyusul aku." Balas Reyhan.
Rosa hanya tersenyum, ia menutupi rasa sakit hatinya, ia tak ingin memperlihatkannya di depan lelaki yang selama ini selalu ada di hatinya. Sejak ia meninggalkan Indonesia untuk kuliah, ia tak pernah memandang lelaki lain apalagi berpacaran. Karena ia selalu mengingat ucapan dan janji Reyhan padanya jika lelaki itu akan menunggu dan akan menikahinya, tapi sekarang bagaimana Reyhan dengan mudah bicara jika semua itu hanya gurauan?
"Ya," balasnya pada Reyhan.
"Hai, Nab. Congrats, ya. Aku mendoakan yang terbaik untuk pernikahanmu dan Reyhan," Ucap Rosa seraya memeluk tubuh Nabila tapi ia menahan bibirnya di telinga Nabila.
"Kau akan menyesali sudah menikah dengan Rey, karena yang paling tau dan mengerti sifat serta kebiasaan Reyhan sejak dulu adalah aku. Aku akan membuktikan padamu, Reyhan hanya milikku. Suatu saat dia pasti akan kembali padaku, aku memberimu kesempatan untuk melepaskan Reyhan dari sekarang daripada kau menyesal nanti. Aku adalah cinta pertama Reyhan, dan tempat untukku masih ada di hatinya." Bisik Rosa di telinga Nabila.
Nabila mengerutkan dahinya, wajahnya seketika emosi tapi ia bukan wanita lemah yang mudah digertak. Wanita ini ternyata tak seperti yang terlihat, ia pikir Rosa orang baik hati tapi ternyata wanita bermuka dua dengan hati busuk!
"Ah, kau memang cinta pertama Mas Rey tapi percayalah aku adalah cinta terakhir dan cinta satu - satunya sekarang atau pun nanti. Jadi, Nona Rosa jangan terlalu percaya diri pada dirimu. Jika kau pikir aku akan menjadi wanita lemah setelah mendengar omonganmu, kamu salah. Justru ucapan mu mencerminkan siapa dirimu, jati dirimu yang sebenarnya! Aku sempat merasa bersalah dan tak percaya diri saat tau kau adalah cinta pertama Mas Rey, tapi sekarang aku benar - benar bersyukur Mas Rey dijauhkan dari wanita sepertimu. Kau lah yang tidak pantas mendapatkan lelaki seperti Mas Rey!" balas Nabila tak mau kalah.
"Kau!" geram Rosa.
__ADS_1
"Lo bicara apa, Nab?" tanya Agnia yang mendengar bisik - bisik Nabila dan wanita cantik di depannya.
"Ah, gue lupa kenalin. Dia adalah teman Mas Reyhan, Ibu nya dan Ibu mas Rey adalah sahabat jadi Nona Rosa ini adalah teman masa kecil Mas Rey." Ucap Nabila.
"Oh, halo. Aku Agnia. Teman bar - bar Nabila, kalau ada cecunguk yang nyakitin teman - temanku, aku yang bakal maju lebih dulu," Ucap Agnia seraya tersenyum manis tapi tatapan matanya menajam menatap Rosa.
"Aku Delova."
"Hai, aku Rosa. Senang berkenalan dengan banyak teman Nabila, apalagi Anda seorang artis terkenal Nona Delova. Tapi boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rosa pada Delova.
"Tentu, silahkan," jawab Delova.
"Wanita secantik kamu dan begitu terkenal di industri hiburan tapi kenapa bisa menolak Reyhan? Reyhan begitu sempurna tapi sekarang Reyhan malah mendapatkan wanita seperti Nabila, bukankah kamu lebih cocok untuk Reyhan?" ucap Rosa sekalian menyindir Nabila.
Agnia ingin menjawab tapi Nabila menahan lengannya. Delova menatap sahabatnya Nabila, lalu ia berbalik ke arah Rosa.
"Nona Rosa salah, Reyhan memang lelaki sempurna. Alasan aku menolak Reyhan karena merasa kurang pantas untuk Reyhan, aku bukan wanita sebaik dan secantik orang lihat. Pribadi dan sifatku tak bisa menyempurnakan Reyhan tapi aku mengenal satu wanita yang bisa Reyhan jadikan sandaran seumur hidupnya dan Reyhan akan semakin sempurna dengannya, tentu saja wanita itu adalah Nabila. Aku yakin Nabila lebih dari pantas untuk Reyhan bahkan bisa dikatakan Reyhan sangat beruntung bisa mendapatkan wanita seperti Nabila." Delova tak ingin wanita busuk di depannya menghina sahabatnya.
Rosa menatap Delova tajam mendengar jawaban wanita itu, ia berbalik menatap wajah Agnia lalu Nabila. Ia tak bisa berkata - kata lagi, lidahnya terasa kelu. Dengan emosi ia pergi meninggalkan ketiga sahabat itu.
"Haha, emang dia pikir dia siapa! Beraninya ngehina lo, Nab! Cih, najis!" geram Agnia.
"Udah, gue gak pengen ladenin dia. Hubungan orang tua Mas Rey dan orang tua wanita itu sangat baik, gue gak ingin membuat 2 keluarga menjadi renggang. Kecuali wanita itu sudah keterlaluan, saat itu gue gak akan diam aja." Ucap Nabila.
"Kalian lagi gosipin aku, ya?" suara Reyhan terdengar dari belakang mereka.
__ADS_1
Nabila berbalik menatap suaminya, ia tersenyum bahagia lalu memeluk suaminya, "Gak lah, Mas. Cuma mereka tanya mau hadiah apa? Iya, kan guys?" Nabila memberi kode pada kedua temannya.
"Ho'oh," jawab kedua sahabatnya kompak.