
Nabila sedang memasukan pakaian suaminya yang sudah ia rapikan ke dalam sebuah koper, suaminya harus ke luar kota melihat resort untuk syuting varety show dengan semua para kru.
"Mas, kenapa seorang pemilik Agensi kayak Mas kudu ikut juga sih? Kan ada Ubay juga wakil - wakil kamu yang lain. Apalagi aku gak bisa ikut, jadwalku padet banget," protes Nabila dengan bibir manyun.
Reyhan menahan geli melihat bibir manyun istrinya, ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kenapa emangnya kalo aku ikut? Aku kan udah bilang, mau sekalian ketemu beberapa pemilik saham Perusahaan. Mereka udah berumur jadi harus aku yang datang kesana, ngerti sekarang? Istri pinternya aku masa gak ngerti, wkwk..." ucap Reyhan, tangannya sudah mulai nakal masuk ke dalam kaos istrinya.
"Ish, tuh tangan mulai deh."
"Biarin, istri aku inih... aku pergi kan 3 hari, pasti kangen kamu, yuk bekalin aku," mulai Reyhan menggigit telinga Nabila.
"Mas gak takut disana di sergap?" tanya Nabila masih dengan tangannya sibuk memasukan pakaian suaminya.
"Disergap?"
"Iya, disergap cabe jadi - jadian. Disana banyak cewek cantik entar, apalagi Rosa Produser acaranya... ketemu terus kamu sama dia disana, entar digigit loh!" saat mengucapkannya, seketika Nabila kesal sendiri membayangkannya, ia melempar kemeja Reyhan ke lantai.
"Idih! Kok malah ngambek, haha... sayang, emang kamu masih belum percaya sama aku?" Reyhan tertawa ngakak melihat kelakuan istrinya.
"Terus aja ngetawain! Kesel tau, Mas! Lepas ah!" wanita yang sedang kesal itu menggeliat keluar dari pelukan suaminya, Reyhan akhirnya melepasnya.
Nabila mengambil si abu yang sedang tiduran di sofa, ia memeluknya.
__ADS_1
Reyhan menghembuskan nafas perlahan, ia senang jika istrinya cemburu tapi terkadang ia juga merasa sedikit tidak nyaman.
"Sayang, udah dong marah nya. Masa Mas mau pergi besok kita mesti marahan dulu, 3 hari loh gak bisa ketemu..." Lelaki itu mendaratkan tubuhnya di samping sang istri.
Nabila menghela nafas berat, "Aku cuma gak enak hati kalo kamu pergi sama Rosa, tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Maafin aku Mas, aku terlalu berlebihan," ia akhirnya mengalah.
Reyhan tersenyum, "Nah gini dong, sini peluk," ucap lelaki itu seraya merentangkan kedua tangannya.
Nabila ikut tersenyum, ia juga merasa dirinya terlalu over pada suaminya. Ia masuk ke dalam pelukan Reyhan, "Hati - hati disana, aku percaya sama kamu. Ingat sesibuk apapun jangan lupa makan. Oke..."
"Iya sayang, makasih udah kasih kepercayaan sama aku ya. Uhhh... Nyonya Reyhan yang paling cantik sealam semesta." Reyhan memeluk erat istrinya mengecup sayang keningnya.
Nabila mendorong tubuh suaminya ke atas sofa, ia mulai membuka kaos rumahnya. Kini tubuh bagian atasnya hanya tertutup Bra, ia mulai menggoda agresif suaminya. "Jadi, kita mulai Bapak Reyhan..." ia mulai beratraksi tunggal, tangan serta bibirnya terus mempermainkan tubuh suaminya membuat Reyhan melenguh penuh kepuasan.
***
Esok harinya Nabila hanya mengantar suaminya sampai di depan bandara, ia langsung pergi ke lokasi syuting karena Produser Dimas akan mulai mengambil adegan pagi.
Saat waktunya makan siang, Nabila terus saja melirik jam tangannya. Seharusnya suaminya sudah sampai di Kalimantan, tadi Reyhan berjanji akan segera mengabarinya jika sudah sampai.
"Woii, sekarang kenapa? Wajah lo gak enak dilihat," Agnia geleng - geleng.
__ADS_1
"Kagak napa - napa, udah ada kabar dari penganten yang pergi bulan madu? Tuh anak beneran mojok sama lakinya, masa gak ngasih kabar sama kita, ckckck..." ia seketika ingat Delova.
"Mungkin dia kewalahan ngeladenin nafsu laki tentaranya, secara fisik tentara kan wow.... wkwk. Laki lo jadi pergi ke luar kota?" tanya Agnia.
"Jadi, itu yang bikin gue khawatir sekarang. Seharusnya Reyhan udah nelepon tapi belum ada kabar." Nabila menghela nafas.
"Lo aja telepon, susah amat!"
"Bukannya gak mau telepon duluan, tapi Reyhan kayaknya gak suka kalo gue terlalu curigaan dan cemburuan. Sekarang gue lagi nahan, biarin dia ngasih kabar dulu. Gue coba gak bawel dan percaya sama dia," Tapi lain di mulut lain di hati, ingin rasanya ia menelepon suaminya itu sekarang.
"Yakin? Lo bakal tahan kalo tuh s Rey kagak ngasih kabar sama Lo? Bisa percaya tuh laki lo gak lagi sama cewek? Kayak gak tau aja kelakuan s Rosa kayak gimana..." pancing Agnia, ia nyengir melihat wajah sahabatnya udah mulai cemberut.
"Ih Lo mah, malah nakut - nakutin! Sahabat syalan emang!" Nabila mulai resah, ia menggigit bibirnya.
"Gue tanya Produser Dimas dulu deh, berapa kali take lagi hari ini. Gue bakal ijin untuk 2 hari ke depan, pengen nyusul laki gue." Akhirnya Nabila pergi meminta ijin pada Produser Dimas dan berakhir dengan raut wajah kekecewaan karena ijinnya ditolak.
Agnia melihat wajah murung sahabatnya yang berjalan menghampirinya, "Ditolak?"
"Ho'oh, gue gak bisa ngapa - ngapain sekarang, cuma bisa pasrah mesti percaya sama suami gue," pasrahnya.
---Like Komen Gift Vote, Makasih♡
__ADS_1