
Sampai subuh Reyhan terbaring di sofa, tidurnya tak nyenyak seperti malam - malam sebelumnya. Setelah kejadian itu, hidupnya terasa di neraka bahkan sekarang ia merasakan Nabila bersikap dingin padanya.
"Apakah aku terlalu memperlihatkan kegelisahanku pada Nabila?" gumamnya.
Reyhan melihat jam di ponselnya, biasanya sekitar waktu ini istrinya selalu bangun untuk bersiap sholat. Ia teringat sikapnya yang selalu malas bangun saat dibangunkan istrinya yang meminta untuk sholat berjamaah bahkan ia terkadang tidak pernah sholat subuh dan melewatkan ibadah di waktu yang lain.
"Ya Allah, apa ini teguran untukku karena sering melupakan-Mu dan selalu menjauhi-Mu. Apalagi aku masih meminum minuman haram, apa ini teguran-Mu?" air mata lolos dari matanya, Reyhan mengusap air matanya lalu ia berjalan ke arah kamar.
Ia membuka perlahan pintu kamar, melihat istrinya masih terlelap. Ia mendekati Nabila, mengecup keningnya lembut. "Sayang, ayo sholat bareng. Ini udah mau adzan subuh."
Ia melihat mata istrinya perlahan terbuka, Nabila menatapnya dengan mata kebingungan.
"Yuk, bangun. Katanya mau sholat di di imamin sama Mas?"
Wanita itu bangun masih dengan kebingungan, ia menatap suaminya heran, "Alhamdulillah kalo kamu udah mau sholat, Mas. Udah mau ng' imamin aku, aku ikut seneng. Sebentar, aku cuci muka dulu sambil ambil air wudhu."
"Mas juga belum wudhu, kamu dulu gih," Reyhan mengelus sayang rambut istrinya.
Nabila mengangguk ia segera turun dari atas ranjang, berjalan menuju kamar mandi.
Saat adzan selesai berkumandang, untuk pertama kalinya setelah menikah Reyhan menjadi imam untuk istrinya. Setelah selesai Nabila menarik tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
Tapi sikap Reyhan masih tetap berbeda, meskipun sudah bersikap biasa tapi suaminya itu tak seromantis biasanya. Nabila membiarkannya, ia bangun dan bersiap untuk berbenah. Ia bukan wanita tanpa akal dan naluri, ia juga tau jika ada yang terjadi pada suaminya.
Saat akan berangkat kerja, Reyhan menatap hati - hati pada Nabila, " Sepertinya malam ini Mas akan pulang telat, ada pertemuan dengan relasi. Gapapa kan?"
"Hm, iya," Nabila hanya mengangguk.
Reyhan pergi bekerja dengan mobilnya dan Nabila pergi dengan mobilnya sendiri.
Saat di lokasi syuting tatapan matanya kosong, Nabila selalu melakukan kesalahan dan itu baru terjadi setelah ia memegang proyek film.
Dimas memberi istirahat kepada semua kru, ia menghampiri Nabila dan mengajaknya bicara.
"Ada apa denganmu hari ini, Nab? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dimas.
"Masalah dengan pacarmu?" tanya Dimas lagi.
"Hm,"
Dimas menatap wajah murung Sutradaranya itu, ia sebenarnya sudah bisa menebak siapa lelaki yang sedang dipikirkan Nabila, "Apa ini ada hubungannya dengan Reyhan? Mantan Bos-mu?"
Nabila terlonjak kaget, "B-bagaimana kamu tau?"
__ADS_1
Dimas terkekeh, "Bagaimana aku tidak tau, ketika kalian sedang bersama ada percikan cinta di mata kalian dan itu sangat terlihat jelas."
"Benarkah? Hehe..." Nabila seketika malu.
"Jadi benar kalian berdua ada hubungan, hm... apa maksud ucapanmu tadi itu tentang Reyhan yang tiba - tiba berubah?"
"Iya."
"Hayo! Kalian lagi pada ngapain?!" tiba - tiba suara melengking sahabat bar - bar nya mengejutkannya.
"Syalan! Dateng - dateng ngagetin, dih!" Nabila memukul pelan lengan Agnia.
"Wkwkwk... abisnya kalian sampe gak ngeuh gue dateng. Ngobrol apaan?" Agnia mendekat ke arah Dimas, ia sebenarnya sejak awal sudah naksir sama Produser kece satu itu.
"Mba Agnia kemana aja? Kok saya gak lihat beberapa hari ini, cuma asisten mba yang nongol." Tanya Dimas.
"Biasalah, banyak pesenan. Mas Dimas masih kaku banget sama aku, panggil Agnia... coba panggil aku Mas, Ag... nia... " kekeh wanita bawel itu.
"Hihi..." Nabila terkekeh, ia tau sifat sahabatnya sekali dapat mangsa gak bakal dilepas gitu aja. "Udah Mas, turutin aja. Hati - hati loh, Nia ini keturunan singa betina Asia - Afrika... xixixi," ledek Nabila.
"Bener kata Nabila, Mas. Aku ini singa cantik teruwow limitid edition... mesti pake mata batin kalo lihat kecantikan aku. Hihi..." kedua sahabat itu malah ngerjain Dimas.
__ADS_1
Dimas melirik ke arah Nabila dan Agnia, ia geleng - geleng kepala seraya ikut tertawa. Mereka memang sahabat gesrek yang bisa bikin suasana seketika ceria.